19 | Asing (3)

189 33 4
                                    

Ini tidak seperti diriku yang sebenarnya. Aku bukanlah seorang pengecut yang memilih menghindar meski di situasi darurat sekalipun. Aku akan melawan siapa saja yang menganggu, mengancam, dan bertindak di luar batas yang membuatku mau tidak mau melakukan tindakan terakhir, yaitu menyerang demi melindungi diriku sendiri. Aku bisa saja melawan. Namun, kondisiku sangat berbeda sekarang. Aku tersesat. Aku kebingungan. Aku hanya seorang diri. Persenjataan yang kubawa hanya beberapa anak panah dan itu tidak cukup memukul mundur para prajurit mengerikan itu. Jumlah mereka sangat banyak. Perlawananku pasti akan sia-sia saja karena jumlah dan kekuatan yang tidak sebanding.

Untunglah aku menemukan sebuah gang kecil. Tempatnya gelap dan lembab. Tubuhku beringsut dibalik tumpukan benda-benda. Aku cukup merasa aman di sini. Sambil mengatur napas, aku terus memasang kewaspadaan.

"Ke mana perempuan itu?"

"Aku tidak tahu. Ah! Kita kehilangan jejak!"

"Cepat juga larinya!"

Aku tersentak mendengar suara lelaki. Bukan hanya satu, tapi tiga orang sekaligus. Mereka pasti prajurit yang telah memergokiku kabur. Keberadaan mereka hanya berjarak beberapa kaki saja dari tempatku bersembunyi. Aku bisa melihat langkah kaki mereka mondar-mandir gelisah melalui celah kecil dari kotak yang menjadi penyelamatku untuk sementara ini. Sontak aku menutup mulut dengan kedua tanganku agar tidak berteriak. Deru napasku makin menjadi. Jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dalam posisi berjongkok, aku terpaku, berusaha tidak membuat gerakan sekecil apapun yang akan membuat persembunyianku terbongkar.

"Ayo kita cari ke sana!"

Suara salah satu prajurit menginterupsi. Penampakan kaki mereka tidak terlihat lagi disertai dengan derap langkah yang terdengar menjauh. Aku terdiam sejenak untuk mencerna situasi sambil mengigit bibir bawahku. Keheningan kembali menyelimuti. Apakah mereka sudah benar-benar pergi?

Aku berdiri perlahan dari posisi jongkok, mengintip dari balik kotak. Mataku menyapu keadaan sekitar. Ternyata benar, mereka sudah tidak ada di sana. Aku menghela napas lega. Syukurlah, aku selamat. Sekarang aku bisa melanjutkan perjalanan dengan santai.

**********

"Prajurit-prajurit itu mengerikan sekali. Mereka merampas harta penduduk tanpa belas kasihan. Sedikitpun tidak nampak ketakutan di wajah mereka saat aku mengancamnya tadi."

Pikiranku terus berkutat tentang bagaimana para prajurit itu memperlakukan para penduduk dengan semena-mena. Semakin memikirkannya, kepalaku semakin pusing. Belum usai mendapatkan jawaban yang kucari, aku terlonjak oleh sebuah benda yang melesat dari belakangku. Lebih tepatnya hampir menabrakku kalau saja aku tidak sigap menghindar.

"Benda apa tadi?" Aku terheran-heran.

Benda itu seperti kuda, tetapi memiliki dua roda di bagian bawahnya. Seseorang menunggangi benda itu dengan penutup kepala berbentuk bulat dan kaku yang menutupi keseluruhan wajahnya. Dari postur tubuhnya yang tegap dan punggungnya yang lebar, nampaknya dia adalah seorang lelaki. Bukannya berhenti dan meminta maaf karena membuatku hampir saja celaka, dia malah terus melaju meninggalkanku.

"Tempat apa itu?"

Tak jauh dariku, terdapat sebuah bangunan yang besar dan megah. Aku melihat lelaki dengan tunggangannya yang hampir menabrakku tadi berhenti di pelataran bangunan itu, melepaskan penutup kepalanya, kemudian melenggang masuk sambil sedikit berlari. Orang-orang ada yang berdatangan, adapula yang pergi dari tempat itu.

"Bangunan itu seperti tempat perkumpulan. Perkumpulan macam apa yang dilakukan malam-malam begini? Tidak mungkin 'kan kalau itu adalah istana yang sedang mengadakan pesta?"

Get In Touch (TAHAP REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang