"Berat sekali!" keluh Ayu yang bertugas mengangkat bagian kaki perempuan ini. Aku yang mengangkat tubuh bagian atasnya pun merasakan hal yang sama. Dengan susah payah juga bergerak perlahan, aku dan Ayu merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Ayu segera membuka selimut yang membalut seluruh tubuhnya dan nampaklah ia yang masih tenang memejamkan mata.
"Apakah dia sudah mati?" tanya Panca menghampiriku setelah kulihat ia merapatkan koper-koper dan barang-barang lainnya.
"Dia masih bernapas, Mas Panca. Perutnya kembang kempis begitu," jawab Ayu.
Panca mendekatkan tubuhnya ke sofa lalu memekik dengan tiba-tiba. "Bau alkohol! Dia mabuk rupanya. Pantas saja dia tidak bangun-bangun dari tadi." Tangannya dikibaskan di depan hidung sembari melangkah mundur perlahan.
"Bantu aku singkirkan panahnya," pintaku yang sangat tidak nyaman melihatnya berbaring dengan panah sebesar itu. Panca dan Ayu langsung bergerak sesuai instruksi. Aku dan Ayu memiringkan tubuhnya, sedangkan Panca mengambil busur panah beserta anak-anak panah dari balik punggungnya lalu meletakkannya di sofa lain.
"Dia mengenakan pakaian seperti itu, membawa panah sebesar itu, dan mabuk. Sebenarnya, apa yang dilakukannya malam-malam begini?" Ayu kebingungan sambil memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri. "Sepertinya dia datang dari kelab yang sama dengan kita."
"Jangan-jangan dia teroris," kata Panca memasang wajah serius.
"Teroris darimana? Jangan menuduh sembarangan," balas Ayu dengan alis berkerut.
"Bisa saja, Ayu. Kita tidak tahu asal-usul perempuan ini. Tidak ada salahnya kita mencurigainya sejak awal."
"Curiga boleh, tapi jangan langsung menuduhnya begitu. Kita harus punya bukti-bukti pendukung dan fakta-fakta mendasar tentangnya. Dia saja masih belum sadar, bagaimana caranya kita mencari tahu? Semua ini juga karena Mas Panca yang lalai. Makannya kalau sedang membuka bagasi itu perhatikan keadaan sekitar, sampai-sampai dia masuk ke bagasi saja Mas Panca tidak tahu."
"Ayu, kita tidak bisa merasa tenang begitu saja dengan kemunculan perempuan ini. Kita tidak tahu siapa dia dan dari mana asalnya. Melihatnya membawa panah, rasanya tidak mungkin dia datang jika bukan untuk membuat kerusuhan," tanggapku mendukung pemikiran Panca.
"Tuh 'kan! Mas Judo sependapat denganku," timpal Panca. "Kita harus hati-hati. Di zaman sekarang, para penjahat sulit dikenali dan sulit dideteksi keberadaanya. Mereka jauh lebih pintar dan seribu langkah lebih cepat dari polisi. Kita tidak bisa menganggapnya orang baik-baik dari melihat penampilannya saja. Banyak sekali modus kejahatan yang menggunakan perempuan cantik sebagai umpan untuk mengelabui korbannya. Mungkin itu yang sedang dilakukan oleh perempuan ini. Penampilannya yang cantik mengenakan pakaian adat kerajaaan lengkap dengan panah sebagai aksesori pendukung, orang-orang akan menyangka dia adalah seorang penari tradisional. Tentu saja hal itu akan membuat orang-orang terpesona dan lengah dengan keselamatannya sendiri. Aku heran. Kau 'kan menyukai serial detektif, tapi mengapa kau tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari kejadian ini?"
"Aku memikirkannya, Mas Panca. Tapi, aku tidak langsung menuduh dia sebagai teroris atau penjahat lainnya seperti anggapan Mas Panca. Kita sama-sama tidak tahu siapa dia. Yang paling penting sekarang, kita harus menunggunya sadar dahulu lalu mengajaknya bicara. Setelah itu, kita bisa selidiki siapa dia sebenarnya."
"Itu sama saja kau santai! Kita tidak bisa membuang-buang waktu. Kalau dia melakukan sesuatu yang membahayakan saat kita lengah, bagaimana? Kau mau tanggung jawab?"
"Mas Panca berlebihan! Pikiran Mas Panca terlalu jauh!"
"Sudah seharusnya begitu, 'kan? Kita harus berpikir berkali-kali lipat lebih jauh ke depan tentang apa yang akan terjadi! Jika benar dia adalah seorang agen dari kelompok teroris atau komplotan kriminal besar, bisa saja rekan-rekannya yang lain sedang mengintai kita sekarang!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Get In Touch (TAHAP REVISI)
FantasyJudul awal : Loving Princess [Genre : Comedy - Romance - Fantasy] Kamala Wikrama Indurasmi, seorang Gusti Putri suatu kerajaan seribu tahun yang lalu. Bukan hanya cantik dan anggun, Kamala juga seorang gadis tangguh yang menguasai keahlian berperang...