27 | Kejutan (4)

148 29 30
                                    

Kepanikan menyelimuti Panca dan Ayu di balik pintu. Tubuh mereka gemetar. Wajah mereka pucat pasi. Penampakan para wartawan yang terlihat dari monitor interkom dengan jumlah yang semakin banyak membuat pikiran mereka membeku. Entah bagaimana mereka harus mengatasi kejutan itu dengan tidak menimbulkan masalah yang lebih parah.

"Bagaimana ini, Mas Panca?" tanya Ayu sambil menggigiti kuku jemari. Kakinya juga tidak mau diam, terus berjingkat-jingkat karena ketakutan dengan situasi yang sedang terjadi sekarang. Semua orang pun tahu, dalam keadaan seperti ini, para wartawan yang semula bersahabat bisa berubah menjadi momok yang sangat mengerikan.

"Aku telepon Mas Panji dulu. Mas Panji pasti sudah mendengar berita ini," jawab Panca menenangkan Ayu lalu mengambil ponsel dari saku jas. Dengan cepat, Panca mengetik nama Panji di kolom pencarian kontak, menempelkan ponsel di telinga, dan menunggu nada sambung dengan tidak sabar. Begitu Panca akan membuka mulut untuk bicara, suara yang sangat tidak diharapkan terdengar di seberang sana.

Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.

"Ah! Mengapa di saat seperti ini Mas Panji tidak bisa dihubungi?" gerutu Panca kesal kemudian menurunkan ponsel dari telinganya.

"Apa kata Mas Panji?" tanya Ayu penasaran.

"Kata Mas Panji apanya? Nomornya sibuk. Malah operator dengan suara cantik yang bicara."

"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Kita harus memberitahu Mas Judo. Cepat ke kamar Mas Judo sekarang."

"Tapi, Mas Judo pasti masih bersiap-siap. Kalau kita ke kamarnya, nanti Mas Judo marah."

"Lebih baik dimarahi dari pada terlambat memberi kabar. Ayo cepat!"

Panca dan Ayu bergegas menaiki tangga menuju lantai atas hingga sampailah langkah kaki mereka tepat di depan pintu berwarna putih yang nampak tertutup rapat.

"Mas Judo! Mas Judo!" seru Panca dan Ayu menggedor pintu di hadapan mereka. Namun, sang pemilik kamar tidak kunjung membuka pintu. Suaranya pun tidak terdengar seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

"Mengapa Mas Judo diam saja?" Ayu keheranan.

"Ayo kita langsung masuk. Cepat kau buka pintunya," perintah Panca mengabaikan Ayu yang kebingungan

"Aku takut. Mas Panca saja yang buka."

"Ah! Kau ini!" geram Panca. Karena Ayu tidak bisa diharapkan, maka mau tidak mau Panca yang melakukan. Panca memutar knop pintu perlahan kemudian mendorong pintu. "Mas Judo," panggilnya dengan menjulurkan kepala ke dalam terlebih dahulu, sedangkan Ayu mengekor di belakang bersama perasaan takut akan dimarahi. Mata Panca memandang sekeliling. Sosok yang dicari-cari tidak nampak keberadaannya. Hanya ada keheningan memenuhi kamar. "Mas Judo tidak ada," lanjut Panca pada Ayu lalu menegakkan tubuh seperti semula. Perasaan takut Ayu menghilang dan dengan segera mengikuti Panca berjalan masuk ke dalam kamar.

"Mungkin Mas Judo sedang di ruang baca," pikir Ayu.

"Kalau begitu, kau cari Mas Judo di sana. Aku akan cari di kamar mandi," usul Panca.

Mereka menuju tempat pencarian masing-masing. Ayu berjalan ke sebuah pintu di sudut kamar. Begitu pintu dibuka, tampaklah sebuah ruangan yang sangat luas, bernuansa coklat, dengan rak-rak tinggi sepanjang dinding yang dipenuhi berbagai macam buku berukuran tipis hingga tebal. Matanya berbinar-binar memandang ke segala penjuru ruang baca bak menemukan tempat harta karun. Meski sudah sering masuk ke dalamnya, kekaguman Ayu sama sekali tidak memudar. Ayu selalu merasa takjub dengan ruang baca ini, yang menurutnya lebih cocok disebut dengan perpustakaan pribadi yang sangat luar biasa. Mengapa? Karena sepertinya buku apapun bisa didapatkan di sini. Meninggalkan kekagumannya pada deretan buku yang membuat ruang baca menjadi terlihat sangat klasik, Ayu melangkah ke tengah ruangan. Di sana terdapat sebuah meja yang tidak terlalu besar beserta kursi dengan bantalan yang empuk dan nyaman.

"Mas Judo," panggil Ayu perlahan. Suaranya sudah dibuat sekecil mungkin, namun tetap menggema di dalam ruang baca. Tak ada seorang pun yang menyahut. Sosok yang dicari tidak menampakkan batang hidungnya.

Panca yang berada di posisinya, mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali. Karena tidak ada yang merespon, tangannya segera membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Panca melenggang masuk mencari sang penghuni kamar. Kamar mandi yang luas dan didominasi warna putih itu ternyata kosong. Langkahnya berlanjut ke sisi lain yang dibatasi oleh sekat kaca. Terdapat sebuah bath tub besar di sana dengan kondisi yang sama, tak ada jejak apapun yang tertinggal.

"Mas Judo tidak ada di ruang baca," tutur Ayu bertemu Panca setelah menyelesaikan pencariannya.

"Aku juga tidak menemukan Mas Judo di kamar mandi," balas Panca membawa laporan yang juga tak membuahkan hasil.

"Jadi, Mas Judo ada di mana?" tanya Ayu kebingungan.

"Kalau tidak ada di ruang tidur, di ruang baca, dan di kamar mandi, mungkin Mas Judo ada di ..." Kalimat Panca menggantung diikuti matanya yang bertemu pandang dengan mata Ayu. Ekspresi keduanya sontak menegang dengan mata yang membulat seketika.

"Kamar tamu!" seru Panca dan Ayu bersamaan. Karena situasi yang amat darurat dan mengingat pertemuan mereka semalam dengan perempuan tidak jelas itu, mereka langsung melesat keluar. Panca yang sangat ketakutan jika perempuan itu berbuat macam-macam, tak dapat memikirkan apa-apa lagi. Dirinya berlari menuju kamar tamu yang terletak berseberangan tanpa memedulikan Ayu tertinggal di belakang. "Mas Judo! Bertahanlah!"

Get In Touch (TAHAP REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang