Kris tiba di Singapura. Begitu sampai, ia tidak membuang-buang waktu. Tangannya sigap menyetop taksi lalu bergegas menuju rumah sakit. Tak lupa satu buket mawar merah juga sekeranjang apel berhasil ia dapatkan dengan cepat untuk sang nenek tercinta.
Senyum kerinduan terpancar di wajah Kris sepanjang perjalan menuju rumah sakit. Sesekali Kris mencium buket mawar merah di tangannya sambil membayangkan wajah sang nenek. Rupanya sikap Kris itu menarik perhatian seseorang di balik kemudi. Sopir taksi melirik sekilas ke kaca spion depan dengan terus menjaga fokus menyetir.
"You looked so happy since we met at airport," tegur sopir taksi membuka pembicaraan.
"Really?" tanya Kris yang tersadar dari lamunannya memikirkan sang nenek tercinta.
"Sure. It's obviously on your face. Are you bought that rose for someone in hospital?"
"Yes, i am. She like roses."
"The red rose is the symbol of love. You certainly love her."
"I love her so much. She is so precious in my life."
Perjalanan begitu melelahkan dirasakan Kris. Lelah bukan karena jarak. Lelah karena menahan rindu. Hingga akhirnya, Kris sampai juga di rumah sakit di mana sang nenek dirawat sejak 5 bulan yang lalu. Sopir taksi bergegas turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Kris. Perlakuannya membuat Kris sedikit terkejut.
"Thank you," ucap Kris tersenyum lalu melangkah turun dari mobil.
"You're welcome," balas sopir taksi.
"I'm sorry to bother you," lanjut Kris.
"I'ts ok. I'm glad to do it." Sopir taksi menutup pintu mobil. Perhatiannya kemudian tersita oleh barang bawaan Kris yang sangat banyak mulai dari tas ransel di punggung, tangan kanan menggenggam buket bunga mawar, dan sekeranjang apel di tangan kiri. "I will help you."
"No problem. I can carry these all," tolak Kris dengan halus.
"Really?"
"Of course. Don't worry."
"So i will back to work. Good afternoon," ucapnya mengakhiri percakapan. Ia kembali ke mobilnya kemudian melaju meninggalkan Kris di depan rumah sakit.
Beralih dari sang sopir taksi yang begitu baik hati, Kris memutar tubuh menghadap megahnya bangunan rumah sakit. Seperti biasa, kehadirannya kembali membuat orang-orang histeris karena wajah bulenya yang terlalu tampan. Kerinduan pada neneknya yang begitu besar, membuat Kris tidak lagi menyadari keadaan sekitar yang mulai heboh.
Masih hangat di ingatan Kris sewaktu sang nenek jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit di Singapura. Saat itu, ia sedang mengisi sebuah acara besar di salah satu stasiun televisi swasta. Di tengah persiapan akan naik ke panggung, ia mendapat telepon dari sopir pribadinya yang mengabarkan bahwa sang nenek harus terbang malam itu juga ke Singapura. Panik, bingung, dan rasanya ia ingin pergi mendampingi sang nenek. Namun, di waktu yang sama ia harus tampil sebentar lagi.
Profesional, hanya itu yang ada di benak Kris. Ia tidak mungkin meninggalkan acara begitu saja dan merugikan banyak orang yang telah bekerja keras untuk membuat acara itu. Kakinya melangkah dengan mantap ke tengah panggung dengan senyum mengembang lebar menghibur penonton. Pembawaan yang ceria ditunjukkannya selama acara berlangsung, meski kenyataan tidak selaras. Hatinya menangis. Seseorang yang sangat ia cintai, yang sudah merawatnya sejak kecil, sedang berjuang melawan penyakit.
Setelah menyelesaikan penampilan dengan baik, Kris berlari ke belakang panggung dengan air mata mengalir deras. Bandiman, sopir pribadinya datang menjemput tepat seusai ia berpamitan dengan para staff acara. Mereka bergegas menuju bandara untuk mengejar penerbangan ke Singapura malam itu juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Get In Touch (TAHAP REVISI)
FantasyJudul awal : Loving Princess [Genre : Comedy - Romance - Fantasy] Kamala Wikrama Indurasmi, seorang Gusti Putri suatu kerajaan seribu tahun yang lalu. Bukan hanya cantik dan anggun, Kamala juga seorang gadis tangguh yang menguasai keahlian berperang...