Salat subuhku hampir selesai. Kini tiba di bagian doa. Aku akan sangat lama melakukan ini. Banyak hal dan banyak orang yang kurasa harus kuceritakan pada Tuhan. Semoga Tuhan tidak bosan mendengarnya. Ah, bahkan Tuhan sudah tahu tanpa perlu aku beritahu.
Ponselku lagi-lagi bergetar, menampilkan nama sang pengirim di layar. Sepertinya aku tidak mimpi apapun yang berhubungan dengan hal ini. Aku mengingat hal yang bahkan sangat sulit diingat. Lupakan saja. Segera kubalas pesannya. Kemudian aku bersiap menuju ruang makan dengan setumpuk buku yang sedang kumasukkan ke dalam tas dan ponsel di saku seragam Osisku. Selalu seperti itu setiap pagi. Sudah berkali-kali aku dinasehati agar selalu mempersiapkan apa yang akan kubawa ke sekolah sejak malam hari, tapi aku hanya mengangguk—mengiyakan—tanpa pernah benar-benar melakukannya.
"Fira, ayo, Nak. Nanti ayah terlambat." Kalau ayahku sudah berseru seperti itu, artinya lima menit lagi mesin akan dinyalakan. Siap tidak siap, mesin itu kemudian akan beradu dengan debu di jalanan beraspal. Nasib buruk kalau aku sampai mengabaikan peringatan ini.
"Iya, Yah. Sebentar lagi selesai nih" Jawabku sambil memakai sepatu secepat kilat. Lalu berjalan menuju mobil ayahku. Syukurlah aku tidak terlambat. Tapi, itu tidak akan mungkin terjadi sebab semua jam di rumahku sudah diatur sepuluh menit lebih cepat. Tentu saja itu ide ibuku agar aku tidak kesiangan dan ayahku tidak akan telat pergi ke kantor.
* * *
"Fira!" Pekik Intan, Lala, Ayu, dan Fia. Nyaris berbarengan seperti koor paduan suara begitu aku duduk di kursiku.
"Eh kenapa nih? Minta tanda tangannya nanti, ya. Gue mau baca novel dulu."
"Sumpah demi apapun lo seriusan pacarnya Adit?"
"Jadiannya dari kapan, Fir? Kok lo nggak cerita sama kita-kita"
"Emang enak, ya, kalo beda agama gitu, Fir?"
"Iya nih, traktir dong."
Apakah sekarang aku sudah berubah menjadi artis papan atas atau semacamnya?
"Tenang teman-teman. Gue nggak jadian sama Adit, gue bukan pacarnya Adit, dan gue nggak perlu traktir kalian, oke?" Semoga jawaban itu cukup menjawab rasa penasaran teman-temanku.
"Nih liat profile picture-nya Adit, Fir." Kata Intan yang selalu up to date gosip remaja masa kini sekalangan SMA Merdeka, sambil menyodorkan ponselnya. Kurasa mataku benar tidak rabun, itu adalah fotoku sekalipun Adit membuatnya tampak sedikit kabur. Disana terlihat aku yang menggunakan dress putih selutut dengan riasan make-up tipis. Saat itu, aku sedang menghadiri acara pernikahan kerabatku.
"Gila! Ini gila banget, Tan. Pasti anak-anak udah pada tau nih. Aduh gimana dong?" Kataku panik.
"Buruan cerita biar kita nggak penasaran." Pinta Fia.
Kuceritakan bagaimana aku bisa bertemu dan diantar pulang oleh Adit. Juga bagaimana aku bisa berkirim pesan dengan Adit. Mereka semua menahan tawa saat aku menceritakan Adit yang mencium tangan ibuku sebelum pulang.
Ah, aku melupakan sesuatu. Mukena. Aku berniat mengambilnya saat jam istirahat nanti, karena saat ini sudah ada guru yang berdiri di depan pintu kelasku. Kelas X 4. Detik berikutnya, Bu Nina yang mengampu mapel matematika sudah duduk di kursi guru.
KRING...
Bel tanda istirahat sudah berbunyi. Aku segera menuju ruang BK untuk meminta surat ijin. Semoga waktu ini cukup untuk pulang dan pergi dengan berjalan kaki. Tidak, sepertinya aku harus berlari.
BRUK!
"Aw..." Kataku sedikit menjerit. Adit, kataku dalam hati.
"Eh ketemu lagi. Emang jodoh nggak bakal kemana-mana, ya, Fir."

KAMU SEDANG MEMBACA
Segitiga
Teen FictionAda cinta segitiga. Antara aku, kamu, dan Tuhan. Jadi, kamu pilih aku atau Tuhan mu? beberapa part diprivate. follow dulu biar bacanya enak. kalau sudah tamat bacanya boleh sekali diunfoll :)