44 | Ricuh (5)

117 18 2
                                    

Aku masih duduk sini, di ruang tengah, dan tidak melakukan apa-apa. Setelah perdebatan panasku dengannya, kini kami hanya duduk dalam diam. Tak satupun dari kami yang mulai kembali bicara. Aku duduk di sofaku. Dia duduk di sofanya, tentu dengan dagu yang tetap terangkat tinggi. Mataku tak lepas dari sosoknya. Bukan karena dia cantik. Bukan! Aku melakukannya karena tidak mau sedikitpun lengah dan kecolongan kalau-kalau perempuan tidak waras ini melakukan hal yang lebih berbahaya, hal yang benar-benar akan menghancurkan rumahku. Aku tidak akan melepaskan pengawasan padanya, dan tetap dengan posisi ini sampai Panca dan Ayu kembali.

Tiririri!

Aku sontak menoleh mendengar seseorang memasukkan password pintu rumah. Tak lama setelahnya, mataku menangkap dua orang yang sangat kukenal berjalan agak cepat ke arahku di ruang tengah. Aku beranjak dari sofa, lalu buru-buru menghampiri mereka.

"Ke mana saja kalian? Mengapa lama sekali? Sudah bertemu Mas Panji? Mengapa tidak ada yang meneleponku? Aku kerepotan di sini mengurus perempuan itu!" geramku memberondong pertanyaan pada Panca dan Ayu. Belum aku mendapat jawaban dari mereka, sesosok wanita dengan pakaian dan dandanan yang sangat aneh langsung mengalihkan perhatianku. Dengan kepala tertunduk, ia berdiri diam di belakang Panca dan Ayu. "Siapa dia?" tanyaku marah. "Mengapa kalian membawa wanita aneh ini masuk ke rumahku? Kalau masalahnya tambah kacau, bagaimana?"

"Sabar, Mas. Sabar." Panca angkat bicara. "Wanita ini adalah Mas Panji."

"Mas Panji?" tanyaku kebingungan.

Wanita aneh berjalan melewati Panca dan Ayu, kemudian berdiri tepat di hadapanku. Aku bergerak mundur untuk menjaga jarak. Mungkin saja wanita aneh ini berbahaya seperti si perempuan tidak waras. Tangannya kemudian bergerak melepaskan kain penutup rambut. Setelah itu, ia menarik rambutnya sendiri. Aku terlonjak, hingga dengan cepat aku menyadari kalau rambutnya itu hanya rambut palsu. Kaca mata yang bertengger di hidungnya pun dilepaskan. Ia menegakkan kepala yang langsung membuatku terperangah melihat siapa wanita ini sebenarnya.

"Mas Panji?" tanyaku menatap tak percaya, lalu memandang Mas Panji dari ujung kepala sampai ujung kaki yang menggunakan pakaian wanita. Penampilan keren yang selalu dipamerkannya setiap hari menghilang. Aku benar-benar tidak mengenali Mas Panji. "Mengapa penampilan Mas Panji seperti ini?"

"Ini semua adalah ide Mas Panca. Kami memberitahu para wartawan kalau Mas Panji adalah asisten rumah tangga Mas Judo yang baru. Kami juga memperingatkan para wartawan agar tidak memotret karena asisten rumah tangga Mas Judo tidak terbiasa dengan kamera. Ternyata, ide Mas Panca berhasil. Para wartawan percaya dan tertipu dengan penyamaran Mas Panji. Mereka langsung membiarkan kami masuk," jelas Ayu panjang lebar. "Ide Mas Panca keren! Mas Panca hebat!" seru Ayu memuji.

"Aku memang hebat! Hahaha!" sahut Panca tertawa bangga.

Pletak!

"Aduh!" pekik Panca dan Ayu bersamaan. Aku melihat mereka meringis kesakitan karena jitakan keras Mas Panji yang sukses mendarat di kepala mereka berdua.

"Keren apanya? Hebat apanya?" Mas Panji menatap tajam Panca dan Ayu bergantian. "Apa yang hebat dengan ide konyol seperti ini? Aku malah terlihat seperti ondel-ondel!"

"Ini 'kan idenya Mas Panca. Mengapa aku dijitak juga?" keluh Ayu sambil mengusap kepalanya.

"Sama saja! Kau juga terlibat!" tunjuk Mas Panji dengan mata melotot tepat di depan wajah Ayu.

"Tapi, dengan ide ini Mas Panji bisa bertemu Mas Judo dengan aman," tutur Panca membela diri. "Kalau datang dengan penampilan Mas Panji seperti biasanya, maka tidak ada bedanya dengan Mas Judo. Mas Panji justru akan habis duluan oleh para wartawan sebelum bertemu dengan Mas Judo. Mas Panji tahu sendiri, mereka sedang ganas sekarang."

Get In Touch (TAHAP REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang