Aku menggeram di dalam hati sembari memandang tajam pada Judo yang berdiri di hadapanku. Telingaku juga masih dapat mendengar teriakan gadis-gadis yang sudah menyerangku beberapa waktu lalu. Aku tak tahu apa alasan mereka tiba-tiba menyerangku seperti itu. Dari paparan Judo tentang mereka, aku pun masih belum paham. Perlahan, aku menoleh pada mereka. Wajah mereka tampak diliputi amarah. Walau terhalang oleh pria-pria bertubuh besar nan tegap, mereka terus melawan, berusaha mendekatiku dengan ucapan-ucapan kasar dan sumpah serapah.
"Kita juga masuk." Suara Ayu mengalihkan perhatianku. Aku menatap Ayu yang sudah berdiri di sisiku dengan senyuman manisnya. Tangannya melingkar di lenganku tanpa ragu, kemudian mengusap lembut. "Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja."
Kami memasuki bangunan besar ini yang sontak membuatku terkesima. Lantainya indah dan mengkilap. Dindingnya didominasi bahan tembus pandang. Pilar-pilarnya besar dan tebal. Jarak antara lantai dan atap juga terpaut jauh, tinggi sekali. Suhu udaranya dingin dengan pencahayaan yang teduh. Semua begitu kontras dengan keadaan di luar yang panas karena terik matahari. Namun, setelah sudah agak jauh melangkah ke dalam, aku terheran-heran. Suara berisik dari para gadis yang menyerangku tidak terdengar lagi.
"Pintunya ditutup dan dijaga agar mereka tidak membuat masalah lebih parah," kata Ayu seakan bisa membaca pikiranku sewaktu aku menoleh ke arah pintu yang sudah benar-benar ditutup.
Aku berpaling pada Ayu, lalu kembali berjalan dengan Judo berada tepat di sisiku. Judo tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar dengan terus menatap ke depan. Setelah itu, aku memperhatikan sekeliling. Rupanya, bukan hanya kami berempat yang berjalan ke dalam. Ternyata, banyak sekali orang yang mengikuti di belakang kami. Orang-orang ini tidak seperti para gadis di luar. Mereka berpakaian rapih dan melangkah teratur. Sama halnya dengan Judo, mereka semua diam. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang bersahutan membuat gema. Beberapa dari mereka ada yang berlari ke depan, kemudian membuat semacam barikade di sisi kanan dan kiri kami. Adapula yang memposisikan diri berjalan di barisan paling depan. Sayup-sayup aku mulai mendengar suara bisik-bisik. Di luar barisan, ada orang-orang yang memperhatikan kami sambil bicara satu sama lain dengan mendekatkan bibir pada telinga seseorang di sampingnya. Aku tidak nyaman dengan perlakuan mereka seperti itu. Seolah-olah aku telah melakukan kesalahan dan bersiap untuk menjalani eksekusi hukuman.
Akhirnya, kami sampai di depan sebuah ruangan seperti bangsal besar dengan kedua pintunya yang terbuka lebar. Sempat terpikir olehku untuk kabur karena instingku merasa ada hal yang tidak benar di sini. Namun, niat itu kuurungkan. Aku kembali berpikir untuk mengikuti kemana Judo akan membawaku dan apa yang tengah Judo rencanakan. Aku ingin tahu apa alasan Judo melakukan ini semua, mulai dari meminta Ayu merias wajahku, sampai membelikan pakaian-pakaian indah untukku. Sebelumnya, ia memang bilang akan menemui banyak orang, tapi mengapa aku tidak boleh bicara kepada mereka?
Belum usai kebingunganku, aku terkejut dengan cahaya kilat yang datang tanpa henti ketika kakiku melangkah masuk ke dalam ruangan. Selain cahaya kilat, aku juga mendengar suara riuh orang-orang. Aku berhenti melangkah. Saking silaunya dengan cahaya kilat, aku tidak bisa melihat orang-orang dan keadaan di sekelilingku. Karena tak tahan dan merasa pusing, akhirnya aku memejamkan mata sembari memalingkan wajah ke arah lain.
"Dia tidak terbiasa dengan kamera! Tolong teman-teman media menghormatinya!"
Suara siapa itu? Apa yang baru saja bicara itu Judo? Bukan hanya itu yang membuatku tidak mengerti. Cahaya kilat yang sejak tadi menyerangku berhenti seketika. Suara riuh orang-orang pun berubah menjadi bisikan-bisikan dan sayup-sayup terdengar di telingaku. Aku membuka mata perlahan dan kembali menatap ke depan. Suasana di ruangan ini mendadak tenang dengan pandangan mereka yang tertuju padaku.
Benar. Pemilik suara keras dan lantang itu adalah Judo. Selama ini, Judo tidak pernah bicara halus dan sopan padaku. Ia hanya marah-marah dan bentak sana-sini. Suara yang baru saja kudengar sama persis seperti suara Judo yang kutahu dari awal pertemuanku dengannya hingga sekarang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Get In Touch (TAHAP REVISI)
FantastikJudul awal : Loving Princess [Genre : Comedy - Romance - Fantasy] Kamala Wikrama Indurasmi, seorang Gusti Putri suatu kerajaan seribu tahun yang lalu. Bukan hanya cantik dan anggun, Kamala juga seorang gadis tangguh yang menguasai keahlian berperang...