Senyum adalah ekspresi segala rasa bahagia, adalah bentuk lain dari sebuah luapan gembira. Senyum juga merupakan ekspresi dari rasa bangga, sebuah sketsa yang dengan sukses mampu menipu orang. Senyum merupakan ekspresi mengejek, alamat mencibir, juga tindakan yang di ambil saat pongah. Tapi jika senyum kemudian tersaji untuk sebuah sedih, ini yang tidak biasa.
Raut wajah adalah corong dari suasana hati, walaupun kerap bohong, ada sepasang mata yang tidak pernah berani untuk berkata dusta, sepasang mata yang selalu menjadi cerminan hati paling jujur, sepasang mata yang walau hanya diam tak bisa berkata, tapi selalu pandai bicara dalam diam, sepasang mata yang hebat.
Alin terdiam bungkam di bus kota yang membawanya lari, sebuah bus kota yang dinaikinya tadi di halte dekat kafe. Tanpa pernah berbicara kepada kondektur kemanakah dia akan turun, dia hanya duduk terdiam di sana. Bahkan arah kosantnya sudah jauh tertinggal di belakang. Dia masih saja tidak beranjak turun, tidak bergeser barang sedikit dari tempatnya duduk, mematung kaku begitu saja.
Dia sedih, begitulah jika boleh dikatakan. Anehnya, Alin bahkan tidak tahu sedih untuk apa dan karena apa. Sejauh ini dia masih kokoh, tegak duduk di kursi nomer tiga dari sopir pada sebuah bus kota. Dia bahkan tidak menangis. Alin bungkam, diam!
Duduk di bus kota tanpa berniat turun, bahkan bergeser sedikit saja tidak, hanya bungkam. Tidak menangis, apalagi menjerit-jerit, hanya diam. Bus kota yang membawanya, melaju saja, tidak peduli jika ada salah satu penumpangnya duduk termangu tanpa tujuan.
Selesai Hadi bercerita tadi, dia masih saja tersenyum, menanggapi seperlunya cerita tentang Raihan sahabatnya itu. Hadi pergi tiga puluh menit kemudian dengan Rina yang menatapnya cemas, memegang bahunya dan memastikan dia baik-baik saja, sejauh itu Alin masih tersenyum manis. Saat pintu putar kafenya tertutup di belakang Rina, raut wajah Alin kemudian berubah, dia hanya mematung, memanggil pegawai kafe kepercayaannya untuk duduk di meja kasir dan dia bergegas pergi menuju halte, entah kemana.
Sekarang, duduklah dia di sebuah bis kota, membuat tubuhnya bergoyang kiri kanan, terhempas pelan depan belakang. Dengan sepotong hati yang bahkan nyaris tidak tahu berada di mana, dengan sepotong hati yang bahkan Alin sendiri tak paham bagaimanakah kondisinya kini, dia juga bingung menjelaskan.
Alin sama sekali tidak marah, apalagi sakit hati mendengar tentang Raihan yang sedang dekat dengan teman sekantornya itu, dia tidak apa-apa, bisa dibilang bahkan baik-baik saja. Hanya saja sebuah nyeri yang tidak biasa mendadak menyergap ujung hati terdalamnya, nyeri tak terkata yang bahkan Alin sadari itu sama sekali nyeri yang tidak pada tempatnya, dan untuk itulah dia duduk begitu saja pada sebuah kursi bus kota yang membawa rasa nyerinya berlari.
Untuk menghilangkan nyeri, biasanya dia hanya butuh berendam di bak mandi kosan sempitnya, menenggelamkan seluruh kepalanya, membasahi rambut keseluruhan dengan air dingin, membuat hatinya benar-benar dingin dan membeku dengan rasa nyeri itu. Bukankah jika dia rindu Oma hal itu yang sering dilakukan Alin, maka kasus ini akan sama dengan Raihan. Mengapa mesti marah, bukankah Raihan teman terbaiknya dari dulu?
Yang membuat dirinya masih saja terduduk dalam galau yang purna adalah kalimat Hadi terakhir ini.
"Tapi belakangan Tiara sering jalan dengan staf baru, manajer baru. Anak pemilik perusahaan, baru selesai kuliah di luar negeri. Awalnya saya kira Raihan dengan Tiara terlibat hubungan yang serius, rupanya hanya gosip di kantor saja" Hadi menatap prihatin, Alin tersentak
"Dua bulan ini dia dimutasi di anak perusahaan, masih di ibu kota juga, hanya tidak sebesar perusahaan induk. Entah mengapa mendadak turun kebijakan seperti itu, Raihan sedang ada musibah. Bukunya merosot di pasaran, bahkan bukunya yang baru sama sekali tidak dilirik pasar." Hadi menjelaskan dengan wajah prihatin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Marmutkelinci143@yahoo.com
RomanceJika cemburu tidak membuat segalanya saru, maka izinkan aku bercemburu! Sayangnya cemburuku padamu menjadi sedemikian tabu. Tak seharusnya aku menyimpan rasa ini! Kelinci begitu panggilmu kepadaku, akupun memanggilmu dengan Marmut, sayangnya harus a...