Masa Lalu Yang Kembali

14 2 0
                                    

Sudah seminggu berlalu setelah Pak Budi meninggalkan sekolah.

"Selamat pagi.." Suara pak Wawan memecahkan keheningan ruang kantor

"Pagi Pak"

"Oiya, perkenalkan..Ini Pak Andri. Guru Olahraga yang baru" Pak Wawan mempersilahkan guru baru itu memperkenalkan diri.

Aku masih sibuk dengan koreksian ulangan. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Pak Wawan dan Guru baru itu. Hingga saat kudengar suara guru baru itu memperkenalkan diri.

"Hallo..Perkenalkan..saya Andriyanto. Mohon bimbingannya"

Suara itu..kulayangkan pandanganku ke arah suara yang mengagetkan dan menarik perhatianku.

"OMG!!!, dia Andre.. dia benar-benar Andre" Gumamku tanpa berhenti menatapnya. Tubuh tinggi tegap, dan wajah yg bersih juga penampilan yang rapi.
Benarkah dia Andre...? Hatiku terus saja bertanya, sambil tetap menatapnya.

"Hai Yun..." suaranya yang begitu dekat membuatku kaget.

"Ha..hai.."

"Wah..apa aku segitu tampannya sampe kamu terpesona gitu, hehehe" Godanya sambil tersenyum.

"Bukan begitu...dasar jelek..kamu itu yach ga pernah berubah dari dulu. Kebiasaanmu menggodaku ga pernah hilang. Huh" Kucoba sembunyikan wajahku yang masih belum percaya dengan keberadaannya.

"Awwww" teriakku saat Andre mencubit tanganku

"Apa-apaan sich Ndre? Sakit tau..." sambil kuusap tanganku yang sebenernya tak sesakit teriakanku.

"Sekarang kamu percaya kan kalo ini aku"

Kulihat dia,yah dia memang Andre rival skaligaus teman terdekatku waktu aku sma.
Kubalas senyumnya yang seakan menunggu jawaban keyakinanku atas keberadaannya.

"Iya...aku percaya"

"Hmmm...sepertinya kalian berdua sudah saling kenal" Pak Adi guru Kimia membuyarkan reuni kami.

"Bukan hanya saling kenal pak, tapi sangat dekat. Bukan begitu Bu Nita" Jawabnya sambil menyenggol tanganku.

"Ah..iya Pak..kami temen lama. Sahabat jaman sma"

"Teng..teng...teng..."

"Ups..sudah jam masuk...mari kita akhiri bincang-bincang ini. Siswa sudah menunggu kita"
Sgera kuambil buku dan melangkah ke arah pintu.

"Aku merindukanmu" Bisik Andre saat kumelewatinya.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

"Akhirnya...saatnya kita pulang" teriak bu Tika.

"Kita ke Pak Momon dulu yuk, aku lapar nich" ajak bu Tya

"Ok" jawab kami serempak.

"Boleh saya ikut Bu.." Andre sudah ada diantara kami.

"Tentu saja boleh pak.." jawab mereka serempak.

Akhirnya kamipun keluar bersama. Kami berempat naik angkot, dan Andre naik motor mengikuti angkot yang kami tumpangi.
Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai. Warung Mie ayam Pak Momon memang ga terlalu jauh dari sekolah kami. Hanya sekitar 3-4 Km, 5 menit juga sudah nyampe.

"Mie Ayam Bakso 5 Pak"

"Fi..koq 5" Tya menegur Fifi.

"Kan kita berlima sama pak Andri, nah tu dia orangnya"

Tanpa basa-basi Andre langsung duduk di sebelahku.

"Sudah order lum nich" tanyanya setelah merasa nyaman dengan posisinya.

"Ah..tenang Pak Andri..sudah dihendel Fifi tuh. Dia paling jago kalo soal makanan. Hahahahhaa" jawab Tika.

"Mie Ayam Bakso kan Pak..." jawab Fifi

"Iya Bu..."

"Btw...saya penasaran. Dari tadi Bu Nita memanggil bapak dengan panggilan Andre bukan Andri" Tanya Tya.

"Iya bener" Tika dan Fifi menimpali.

"Iya..tu panggilan sayang dia ke saya waktu kita masih sma" jawab Andre dengan bahagia.

"Owh...pantas saja kalian sangat akrab" jawab fifi dengan ekspresi seperti seorang detektif yang lagi nemu kasus.

"Kalo seakrab itu..kenapa bapak bisa menikah dengan orang laen, bukan dengan Nita?" Tanya Tika kembali.

What?!?!?!?!? Nikah!??!. Koq aku ga tahu!?. Aku hanya bisa bertanya dalam hati dan menatapnya.

"Mienya Bu" Suara Pak Momon memecahkan kesunyianku.

"Udah...udah...lanjut nanti saja ngegosipnya" Fifi mencoba mengalihkan pembicaraan. Sepertinya dia tahu kalau aku kaget mendengar pertanyaan Tika.
Kamipun makan dengan lahap. Tanpa membahas lagi masalah tadi. Smua sibuk dengan menu masing-masing. Kecuali kami berdua, aku dan Andre. Kami makan dan sesekali saling menatap.

"Makasih traktirannya pak...sering-sering saja" Tya bercanda dan diikuti ketawa oleh yang laen.

"Boleh saja Bu...asal Si Cantik saya ikut" jawab Andre menggodaku.

"Tenang saja...kalo urusan makan aku ga akan mau ketinggalan" jawabku berusaha menyembunyikan smua pertanyaan dalam hati.

"Ea dah...saya duluan bu..skalian nganter Bu Nita. Takutnya ada yang nyulik. Heheehe. Ayo naik...mau sampai kapan kamu berdiri di situ Yun?"

"Eh..tapi aku bisa naik angkot. Ga perlu dianter juga"

"Udah bu...naik za..gpp gratisan juga" teriak Tika

"Iya..mumpung gratisan.." Fifi menimpali

"Bener...lagian cuma dianter ma temen..ga bakalan istrinya cemburu kan" Tya menggoda.

"Hahahha...bisa aja sampeyan Bu. Tenang saja, Istri saya ga bakalan cemburu hanya karna nganter Yuni pulang. Kami duluan ya bu, assalamualaikum" Andre Pamitan dan motornya pun melaju.

Setelah 10 menit, akhirnya kamipun sampai di kosan.

"Makasih Ndre sudah mengantarku"

"Ya..sama-sama, aku seneng bisa mengantar wanita cantik ke kosannya"

"Heheehehe, sana pulang" kujawab godaannya dengan senyum simpul.

"Kamu ga mau nawarin aku masuk atau secangkir teh atau kopi?" Tanya Andre dengan tatapan penuh harap.

"Ga bakalan. Aku ga mau ntar istri kamu ke kosan dan ngamuk, heheehe" Jawabku menggodanya, karna rasa penasaranku belum juga hilang.

"Iya dech...kalo gtu aku pulang. Met rehat Cantik.."

"Iya makasih...titi dj Ndre"
Diapun berlalu..dengan sejuta tanya dalam hatiku.
Kapan dia nikah!??! Dengan siapa!??!
Ahh...sudahlah...ga penting juga mikirin smua itu.
Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Kulangkahkan kaki menuju kamar tercinta.

Ketika Mata TertipuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang