What have I done?!

4.2K 120 3
                                    

Andra

Dinginnya udara pagi yang menusuk kulitku berhasil membangunkanku dari mimpi indahku. Bisa dibilang mimpi ini gila, karena fantasiku sudah mulai jahil ke Tasha. Apakah ini efek semalam di bianglala?

Aku tersadar bahwa sudah lama sekali aku tidur tanpa berpakaian sehelai pun. Dan ketika aku menengok ke kiri ku, aku tercengang. Tak percaya dengan pemandangan indah disampingku aku terus mengerjapkan mataku. Karna tak tahan, aku lalu memberanikan diri mendaratkan tanganku di pundaknya yang polos tanpa sehelai benang pun. Astaga! Ini kenyataan! Aku tidak sedang bermimpi!

Apa jangan-jangan hal yang aku kira mimpi itu sebenarnya kenyataan? Kalau iya, aku dalam masalah besar! Bukan karena aku ingin lari dari tanggung jawab atau apa, lagipula Tasha kan istriku, hal ini lumrah untuk dilakukan. Tapi masalahnya, statusnya masih anak sekolahan, dibolehkannya Tasha untuk tetap bersekolah dengan statusnya yang sudah menikah saja butuh perjuangan besar, aku harus disumpah untuk tidak melakukan hubungan intim sampai Tasha lulus sekolah. Lalu sekarang aku melanggarmya, bagaimana ini? Gimana kalau Tasha hamil? Gimana kalau semua hal buruk yang ga aku harapkan terjadi?

Kalaupun Tasha hamil aku pasti akan senang sekali, tetapi masalahnya ini bukan momen yang tepat. Gimana ketika Tasha terbangun dari tidur lelapnya dia langsung marah sama aku? Astaga! Kenapa aku payah sekali untuk mengendalikan diri ini!

Tasha benar-benar sudah membuatku kembali menyukai perempuan seperti sediakala, tapi sekarang aku malah lalai mengendalikan diriku. Aku harap Tasha bisa menerima semua ini, tapi gimana kalau dia trauma akibat sikapku semalam? Memikirkannya membuatku semakin frustasi.

Aku masih terpaku melihatnya, menggeliat seakan ia akan terbangun dari tidurnya. Aor muka Tasha ketika ia tertidur buat perasaan ku campur aduk. Pertama aku merasa ketika melihatnya perasaan ku menjadi tenang, seakan air mukanya berkata padaku kamu jangan khawatir, aku akan selalu menemani mu dan aku janji ga akan tinggalin kamu sendirian, walau ini terdengar berlebihan tapi itulah yang aku rasakan.
Lalu yang kedua aku merasa kasihan ketika melihat wajahnya yang tertidur, seakan dia terlihat lebih bahagia di alam mimpinya dibanding ketika ia menjalan hidup di dunia nyata yang fana ini. Lalu yang ketiga, air mukanya menggodaku, ah kalau yang ini berhasil membuat pertahananku kacau. Itulah sebabnya ketika melihat Tasha aku ga kuat jika berlama-lama.

Tasha mulai gelisah, dan semakin lama ia membuka kelopak matanya. Disinilah aku harus siap dengan segala amarah yang akan Tasha keluarkan padaku.

"Tasha.. kamu udah bangun, ma-"belum selesai aku berbicara, Tasha memotong perkataanku..

"Jadi semalam itu bukan mimpi ya?" Potongnya yang berhasil membuatku terpaku dan berhasil pula mengosongkan pikiran ku. Apa jawaban yang tepat? Aku bahkan sudah tak punya kata-kata lagi untuk aku katakan karena aku takut ia akan marah besar kepadaku, atau malah dia akan trauma.

"Aku tau, mau bagaimana pun, sekarang atau nanti hal ini pasti akan terjadi," tanyanya sambil ia bangun dan duduk di tempat tidur sambil berusaha menutupi badannya dengan selimut.

Aku bahkan tak sanggup melihat wajahnya yang saat ini murung dan rapuh. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dan menenangkan pikiranku, aku mencoba membuka pembicaraan lagi.

"Tasha aku minta maaf sebesar-besarnya, aku bodoh aku brengsek, aku laki-laki yang hanya menuruti nafsu tanpa melihat dampaknya. Itulah diri aku yang sebenarnya, Tasha aku rela kamu pukul aku atau ngelakuin segala hal yang ingin kamu ekspresikan ke aku, aku rela asal kamu mau maafin aku. Aku memang lelaki bejat yang sedang berusaha untuk berubah menjadi baik, dan sekarang aku mengacaukan usaha yang sedang aku lakukan saat ini,"

"Udahlah kak, kenapa kakak selalu nyalahin diri kakak sendiri? Kak ini ga murni 100% kesalahan kakak, ini juga kesalahan aku yang... yang ga bisa mengendalikan diri aku juga. Kak saat ini perasaan ku campur aduk, antara senang, aneh, dan takut. Aku senang karena itu tandanya aku berhasil buat kakak kembali normal atau menyukai perempuan lagi. Aku merasa aneh karena aku belum siap mental untuk melakukan hal intim yang hanya boleh dilakukan orang cukup umur dan siap mental. Lalu aku merasa takut gimana kalau aku hamil? Otomatis aku di DO, aku semakin dibully dan lainnya. Cuma itu yang mengganjal pikiranku, aku takut kalau aku semakin dipermalukan sama mereka, tapi rasa senang aku mampu mengalahkan dua perasaan lainnya kak, jadi please, kakak jangan nyalahin dan melabelkan diri kakak dengan hal yang buruk ya. Ini ga murni kesalahan kakak. Justru hari ini adalah hari pembuktian kakak bahwa kakak adalah cowo sejati," jelasnya panjang lebar disertai senyuman manisnya yang sudah menghangatkan hatiku seperti teh manis hangat yang diminum dan kehangatannya terkumpul di perut.

I love You, My Cutie Little GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang