Chapter 3

36 5 2
                                    


"Aka-san, Aka-san! kau tidak apa-apa?"

"Oh aku tidak apa-apa...tadi kau bertanya cambuk emas? seperti apa itu? bisa kau menunjukkannya padaku?"

"Etto....tadi saat bangun dari pingsan aku sudah tidak melihatnya"

"Hm, coba kau meluruskan tangan kananmu ke samping kanan, serta regangkan setiap jari-jarimu, tunggu selama 3 detik"

"Baiklah akan aku coba" lalu aku pun mencobanya seperti yang disarankan Aka-san. "Uwaah!! cambuk emasnya kembali! kereeeen...seperti di anime-anime saja aaaaaa!!!" aku begitu kegirangan karena bisa memunculkan sebuah senjata.

"Itu adalah cara untuk memanggil senjatamu, Mizuo"

"Benarkah cambuk emas ini sekarang menjadi milikku, Aka-san?"

"Iya" Aka-san mengangguk.

"HOREEEE!!! Akhirnya...aku dapat memilikinya!!" Sambil memeluk cambuk itu erat-erat. Dan aku selalu mengulang-ulang cara memanggil senjata yang diajarkan Aka-san.

'Oh iya! Aku baru ingat! Bukankah seseorang yang memiliki cambuk emas akan menjadi kandidat ratu selanjutnya?! Jadi...Mizuo...adalah calon ratu selanjutnya?? Tapi dengan siapa ia akan menikah? Siapa diantara kita berlima? Siapa yang ia pilih...kenapa dadaku terasa sakit begini' Aka-san meremas dadanya.

"Aka-san! bolehkah aku bertanya sesuatu? He?! Aka-san! kau tidak apa-apa, dadamu terasa sakit kah? Sebaiknya kau beristirahat sejenak" aku panik.

Tiba-tiba Aka-san membuatku terkejut. Ia memelukku secara mendadak untuk yang kedua kalinya. "Mizuo...tetaplah berada disisiku...aku ingin selalu bersamamu..." Aka-san mengucapkannya di dekat telinga kiriku dengan nada yang lirih.

"A-Aka-san! apa yang kau maksud?!" wajahku memerah saat itu. "Aka-san...aku berjanji akan selalu ada untukmu, bersamamu, disisimu" lalu Aka-san perlahan melepaskan pelukannya. 

"Kalau begitu, maukah kau menjadi teman pertamaku di dunia ini, Aka-san?" sambil mengulurkan tanganku padanya.

Kemudia Aka-san bersalaman denganku sebagai lambang persetujuan kita menjadi seorang teman. "Baik, Mizuo. Terima kasih" Aka-san tersenyum dengan sangat tulus bahkan senyuman itu begitu indah, belum pernah aku melihatnya.

'Gawat! jantungku benar-benar berdetak kencang! aaaaaaa!! Malunya...', "S-sama-sama Aka-san!" aku grogi untuk menjawabnya.

"Etto Mizuo...jangan berpikiran yang aneh-aneh ya! Aku hanya ingin be-berteman denganmu saja....benar kok itu saja" Aka-san mengatakannya dengan menggaruk-garuk pipinya dengan jari telunjuk.

"Kalau begitu terima kasih Aka-san mau menjadikanku teman" aku tersenyum padanya.

"I-iya, terima kasih juga...ngomong2 mau aku ajak berkeliling?"

"Jadi-jadi! ayo Aka-san! aku begitu bersemangat nih!" ku tiba-tiba berdiri karena terlalu semangat.

Aka-san hanya tertawa kecil melihatku. Entah mengapa tiba-tiba Aka-san membuat posisi tangan terbuka dengan kaki kanan menekuk dan lutut kaki kiri menempel di tanah seolah-olah menyuruhku untuk digendongnya.

"He? Ada apa Aka-san?" aku kebingungan dengan apa yang ia lakukan.

"Kemarilah, aku ingin menggendongmu" pipi Aka-san memerah.

"HE! HEEEEEEEEE!! Me-menggendongku? Apa aku tidak salah dengar? Mengapa kau melakukannya Aka-san?!!" aku sangat terkejut mendengarnya dan mukaku memerah.

"Kau tidak salah dengar, bodoh~. Sudah sini, kemarilah!" seolah-olah nada bicara Aka-san seperti memaksa.

'Aku dibilang bodoh??!', "Iya tapi kenapa? Aku lebih memilih untuk berjalan kaki saja. Kasian Aka-san nanti terlalu lelah untuk menggendongku...lagian aku ini berat lho ahahaha!" ku tertawa dengan kedua tangan memegang pinggang.

Takdir Dari Sebuah Impian yang KuatWhere stories live. Discover now