Bianglala

12 0 0
                                    


Bianglala adalah sebuah permainan anak kecil, dahulu kala saat musim pasar malam di kampung Alin selalu diajak oma naik bianglala. Sebuah permainan pasar malam, kadang bianglala malah menjadi pusat dari segala permainan pasar malam di kampungnya dulu.

Alin kecil akan terlonjak senang duduk di kursi bianglala, dengan mata berbinar menatap sebagian pemandangan desa dari atas sana. Melihat pematang sawah yang gelam menghitam karena malam, lampu jalanan yang mati tiga hidup satu, melihat suasana pasar malam yang ramai pengunjung, tukang jual gorengan di bawah sana, tukang bakwan, lumpia, penjual kacang yang duduk di sudut, penjual pisang goreng yang kelelahan, baju-baju yang digantung berderet.

Dan yang pertama kali Alin perhatikan adalah petugas karcis bianglala yang mengusap peluh dengan uang digenggam, uang seratusan, lima ratus atau seribuan. Petugas karcis yang tidak kenal lelah, mengatur pengunjung yang berdesakan ingin segera mendapat bagian sebagai penumpang bianglala selanjutnya.

Petugas tersebut dengan celana pendek seperempat dan sarung tersampir di bahu, berdiri tepat di pintu masuk bianglala. Melihat satu persatu pengunjung yang melewati pintu itu, menukar karcis dengan uang. Peluh menetes membuat bintik di hidung, baju lusuh dengan tingkat lusuh terparah bereda di dekat leher, sarung kusut yang bahkan tidak bisa dihampar lagi, sebuah kopiah hitam atau topi lecek tersemat di atas kepalanya. Itulah gambaran petugas bianglala di pasar malam desa.

Pasar malam desa yang sederhana, akan tetapi merupakan petugas yang selalu digemari Alin, petugas tersebut masih muda, dulu setidaknya saat Alin dan oma sering mampir di pasar malam, sebelum berangkat ke ibu kota. Entah sekarang bagaimana keadaannya Alin tidak tahu, oma bahkan sudah tidak lagi ke pasar malam sejak Alin pindah ke ibu kota.

Dan kegemaran duduk di bianglala terbawa hingga kini, dia termangu di kursi bianglala pada sebuah pasar malam kota. Pasar malam kota yang jelas berbeda dengan pasar malam di desanya. Pasar malam kota yang serba modern dengan pemandangan yang juga jelas berbeda.

Jika di desa dulu dia melihat pematang yang menghitam di kejauhan, daun jagung yang melambai seperti lambaian hantu kebun, jalanan dengan penerang seadanya, maka di bianglala yang dia naiki malam ini jelas jauh berbeda, yang duduk di sudut pasar malam adalah penjual es krim dengan seragam berlabel bagus, terjahit rapi dan mewah. Penjual gorengan juga berseragam, berdiri di tenda khusus yang teduh. Petugas bianglala yang mengambil karcis di bawah tadi juga memakai seragam mewah dengan sepatu kulit yang mengkilap. Dari atas sini Alin bisa melihat bangunan mewah ibu kota, jalanan dengan penerang benderang, restoran di pojok dan sebuah kafe di sudut. Jika di desa dulu duduk di atas puncak bianglala adalah tempat tertinggi yang ada, maka di kota, putaran teratas bianglala bukan apa-apa, hanya sebagian puncak dari sekian puncak yang ada. Akan tetapi bianglala selalu menyenangkan.

Di atas bianglala sini, Alin duduk sendiri saja, Rina menunggu di bawah sana, dia sedikit phobia dengan ketinggian. Keduanya memang mempunyai rencana berakhir pekan di sebuah taman bermain, Alin sedang merindukan Oma, jadi dia mengajak Rina untuk menghabiskan akhir pekannya dengan bermain ke sana.

Sendiri saja di atas bianglala, menghayalkan bahwa oma sekarang duduk di sampingnya, ingin sekali Alin menunjukkan pemandangan kota pada oma di atas bianglala ini, rindu oma. Sebesar ini Alin memang selalu rindu oma, tadi sore dia bahkan sudah menelpon oma, entah mengapa rasa rindu itu tak pernah tunai jika tidak bertemua langsung, dan untuk itulah Alin duduk di atas bianglala ini.

Putaran terakhir membuat bianglala berhenti, Alin turun dari kursi bianglala, tersenyum ramah pada petugas bianglala yang memakai seragam. Lehernya tertarik ke atas, melongok sana-sini samping kanan-kiri depan belakang, mencari Rina. Tapi yang dicari tidak juga kelihatan batang hidungnya. Alin cemberut, Rina pastilah pergi tanpa bilang-bilang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 26, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Marmutkelinci143@yahoo.comTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang