Melupakanmu Membuatku Lupa Ingatan

205 7 0
                                    

Apakah cinta yang hilang akan hilang abadi dan tak akan pernah kembali lagi? Itu yang kuharapkan dari kamu, seseorang yang pernah aku tempatkan dalam di hati, namun begitu mudah untuk pergi melukai. Menggores pedih dada yang kian sesak sebab tercekik mati. Lalu kamu ingin pulang kepadaku ketika bersamanya bahagia tak lagi kamu dapati. Tidak, aku tidak lagi ingin mencari. Sebab yang datang akan pergi, dan pada akhirnya menghadirkan luka bertubi-tubi.

Kamu, untuk apa lagi mengharap belas dari seseorang yang bahkan cintanya pun tak terbalas. Membuatnya mencoba berkali-kali melepas bayang yang akhirnya gagal terlepas. Hingga pada akhirnya, aku yang pernah mengharap belas kasihmu bersikeras untuk melupakanmu. Sehebat apa pun cinta itu mengekang jiwa, tetap kucoba melupakanmu. Sebab rasa lelah yang kian datang menghampiri. Karena ketulusan dan kebodohan tak jauh berbeda. Sebab kebodohanku sudah tiba di ujung tahap yang memalukan.

Dan kini, aku sudah berhasil melupakanmu. Sebab kamu yang aku cintai sudah kuanggap mati. Tak ingin kuhidupkan lagi walau hanya  sedetik kenangan perihal kamu datang tanpa jemu. Dan sungguh, tak ada lagi sesak yang membunuh dada. Juga sirna perlahan degup jantung penumbuh rasa. Tak ada lagi cemburu kepadamu dan kepada dia. Tak ingin kuingat lagi bahwa aku pernah mencintai kamu, merasakan sakitnya cinta sepihak. Dengan membunuh waktu senggangku, melupakanmu membuatku lupa ingatan. Lupa bahwa kamu adalah Rieda yang pernah kucintai dengan cara yang seutuhnya tulus di hati. Bahwa pernah kujalani hari-hari indah bersama kamu. Lalu tumbuh perlahan-lahan segumpal rasa hingga sulit kudefinisikan. Terus kujalani hari-hari dengan cinta dalam diam. Susah payah kukumpulkan segenap keberanian untuk mengungkapkannya padamu. Hingga pada saat aku sudah ingin mengungkapkannya, temanku yang juga sahabatku. Dan jelas sahabatmu juga lebih dulu mengatakannya padamu. Bagai sembilu menyayat panjang, bagai belati menusuk dalam. Sakitnya terasa disekujur tubuh. Luka tak berdarah. Aku berlari menjauhi kalian, nenjauh dari pemandangan memilukan itu.

Beberapa minggu kemudian, kamu meminta kita untuk bertemu. Di senja yang aku sukai. Namun di detik yang membawamu pergi. Disitulah jelas aku tahu, kamu sudah berusaha keras mencintaiku. Namun gagal usahamu itu.

Tak apa, melupakanmu membuatku lupa ingatan. Semoga itu terus berjalan. Hingga lukaku tak ada bekasnya lagi.

*Demi Kamu

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 31, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Membunuh SepiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang