4. ditipu misteri guest

22 0 0
                                    

Wulan masih kepikiran siapakah pelaku yang berani membuat dirinya berantakan siang tadi. Rasa geramnya tak terbendung. Batinnya selalu menggerutu. Jika sudah terlihat titik jelas siapa pelakunya, ia berjanji akan membalas apa yang telah dibuatnya.

Catatan hariannya berantakan karena prasaan-nya sedang bercampur aduk. Kesal, marah, sedih, malu. Malam ini tak seperti biasanya. Tak ada diarry yang tulus dia ukir diatas lembaran putih.

Telefon yang sedang di cash, ia cabut meskipun belum terisi penuh. Dibuka-nya aplikasi perpesanan. Lalu dia cari kontak yang mengaku bernama Ricky tadi.

Sudah lebih dari 3 kali ia kirim pesan, namun belum ada juga balasan dari 'Ricky' tersebut.

Ia putuskan untuk menelfonnya...

Tut... tut... tut...

Tidak diangkat, dia coba sekali lagi. Tidak juga diangkat. Sialan ! Pengecut juga itu orang.

Terakhir kali, dia kirim pesan yang beriai..

Eh, cowo banci. Jangan jadi pengecut Lo!. Berani cuma di hp . Cemenos!!!

Barulah ada balasan dari 'Ricky' tersebut.

Kenapa? Gua lagi makan tadi...

Ah, super rese anak ini. Tak di balas lagi oleh Wulan. Yang ada dia banting telfon genggamnya.

Wulan pun melanjutkan kembali menulis. Meski tak tahu alur apa yang sedang ia lalui..

***

Dirumah, haikal tertawa puas. Cekikikan. Sampai mengeluarkan keringat di leher dan wajahnya.

"Hahaha.... mampus lu, gua kerjain!"

Ucapan itu ada di sela sela tawa beringasnya.

Dia kini sedang duduk di depan kursi meja belajarnya. Di hadapannya sudah ada sebuah buku dan pena. Ya, buku diarry. Baru saja ia catat kejadian tadi di bukunya. Tak lupa, ia mencatat sajak yang setiap hari rutin ia buat. Tentang apapun. Yang penting, setiap harinya ada kata-kata yang ia kumpulkan meski hanya sebatas beberapa larik.

Jika aku adalah kamu
Jadilah kita tanpa jemu
Jika kamu adalah aku
Jadilah rasa yang pasti bertemu
Jika aku, kamu, adalah rasa
Sudah pasti, mimpi sedang berkelana.

Sajak tak jelas apa maksudnya. Apa seni di dalamnya. Apa yang terkandung dari baitnya. Tak jelas lah, pokoknya.

Malam telah larut. Mulut pun sudah memberi kode jika mata sudah tak lagi bisa bertahan. Ia rebahkan tubuh di atas kasur empuknya. Lalu ditariknya selimut menutupi seluruh tubuhnya dan.... terlelap.

***

Disekolah hari ini sangatlah panas. Membuat Wulan kegerahan. Dia meminta izin untuk keluar sebentar dari pelajaran. Lalu ia putuskan ke kantin untuk membeli es di warung Mak Eneng. Dan bersantai sejenak disana.

Tak disangka, Haikal melintas dihadapan Wulan dengan membawa sebuah buku. AKU. Karya Sjumandjaya.

"Kaya di AADC"

haikal duduk di kios kantin Pak Jawa. Sendirian.

Wulan menghampirinya. Sebelumnya ia bayar terlebih dahulu minuman yang ia beli tadi.

" hey.... Rangga!"

"Rangga...?" Haikal heran

"Itu bukunya..."

Haikal membalikan bukunya yang berjudul AKU itu.

"Oh... tapi gua ga seromantis Rangga"

Haikal melanjutkan bacanya. Dia tak menghiraukan kehadiran Wulan disampingnya. Yah, anggap saja debu yang tersapu angin.

Wulan merasa keberadaannya tidak dianggap. Sedari tadi dia duduk disamping Haikal, tapi tidak ada kata yang melantun keluar.

"Ah... gaasik,Lo!"

Wulan melesat pergi. Ia bosan dengan tingkah anak so' itu. Sehingga di jalan, ia tiada hentinya mengucapkan

"Gue ga akan ngusik dia lagi!"

Dan..

Benar saja, beberapa hari belakang ia tak menemui Haikal. Malas juga. Untuk apa dia menemui lelaki yang bukan siapa-siapanya.

Namun, hal-hal yang kemarin terulang kembali. Pesan dari nomor tak dikenal. Kali ini, dia seperti seorang yang pernah kenal sebelumnya. Dia pun sedikit curcol mengenai masalah yang dialaminya.

Hai, Wulan... udah tidur?

Belum.... maaf, Elo siapa yah? Yang udah bikin gue malu setengah mati.

Malu?

Gausah so' bego yah jadi orang... kemaren lo nyuruh gue ke lorong buat nemuin lo. Tapi yang ada malah gue kena jebakan. Lo ngaku ke Gue kalo Elo kelas IPA 3. Begitu Gue tanya mereka bilang ga ada yang namanya Ricky... mau Elo apa sebenernya?

Hahaha....

Eh, Gila.... waras ngga lo?

Lu ga harus tau siapa gue...

Ya gue harus tau! Secara, gue mau kasih perhitungan ke Elo !!!

Gausah bikin Gue tambah pusing deh! Gue lagi butuh temen buat ngobrol...

Terus? Lo nyuruh gue buat nemenin lo ngobrol?. Hello.... masih ada yah pelaku begal yang beraksi pake jarum pentol..?

Maksudnya? Ko nyambung ke begal?

Elo cuma mau nindas gue,kan? Pake cara minta ditemenin ngobrol segala!

Eh... seriusan yah, gue lagi pusing.

Setelah berfikir sesaat, akhirnya Wulan memberi penawaran pada misteriguest yang belakangan membuat hidupnya malu setengah mati itu.

Gue mau aja nemenin lo ngobrol... asalkan lo ngaku kalo elo itu siapa??

Ok, Gua bakal ngaku... tapi dengerin dulu apa yang mau gue obrolin!!

Yaudah, cepet ! Cuma 10 menit

Jadi... gua lagi jenuh aja. Belakangan ini hidup gua ga ada yg ganggu. Biasanya ada temen gua yang suka ngintilin, tapi ko sekarang dia ga ada. Gua ngerasa takut aja dia kehabisan cara buat selalu ada disamping gua...

Terus?

Ya, cuma itu aja sih. Gua lagi bete !

Masalahnya sama gue?

Ah.... ga bisa di ajak serius lu!! Gua tidur!.

Eh... tunggu. Lo belum nepatin janji, ngaku dulu elo siapa.... !!

Sehabis pesan terakhir, tak ada lagi balasan dari orang di balik misteri itu.

Wulan merasa tertipu... dia marah pada dirinya sendiri
Ah, gue begi banget sih. Bego... Bego.... bego.... !!!!

Wulan mematikan telponnya. Lalu membaringkan tubuhnya diatas spring bad. Menutup tubuhnya dengan selimut setengah badan. Mematikan lampu. Menyalakan kilas angin. Lalu, tidur....

Minta kritikannya buat author biar insfirasinya ngga asal-asalan. . .
Tetep tunggu yah bagian bagian selanjutnya...

tentang cintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang