3

34 2 0
                                    

Bugh

Bugh

Bugh

Bugh

Suara pukulan itu sangat terdengar keras. Seorang wanita yang sedang marah itu tak bisa sedikit memelankan setiap pukulannya.

Yang dipukul hanya bisa menangis dengan keras. Badannya meringkuk kesana kesini kesakitan sesuai mengikuti arah pukulan-pukulan yang mendarat ditubuh kecil dan tak berdaya itu.

" Dasar anak kurang ajar !! Nangis terus.. terus nangis aja terus.. !! " bentak wanita itu kepada anak kecil yang meringkuk dibawahnya.

Wanita itu memukulkan pegangan sapu di tangannya ke punggung anak kecil itu. Dengan sekali pukulan keras membuat pegangan sapu itu patah menjadi dua. Anak kecil itu tak hentinya menjerit kesakitan dan menangis keras.

" ah.. sakit ma.. ampun ma.. ampun.. " ujar anak kecil itu di tengah tangisan kerasnya.

Tapi hal itu tak menghentikan apa yang dilakukan wanita itu kepada anak kecil tak berdaya yang meringkuk kesakitan di lantai. Wanita itu terus saja menganiaya dan menghajar tubuh anak itu.

" ampun ? Hah.. ampun ? Gak ada ampun.. rasain.. rasain.. dasar anak nakal.. " ujar wanita itu dengan kejam. Tangannya tak berhenti menyiksa anak kecil itu.

Memar yang membekas mulai terlihat di kulit tubuh anak kecil itu. Bekas pukulan pegangan sapu tadi juga membekas dan membengkak. Melihat hal itu wanita itu tak berhenti memukul.

Dirasa pegangan sapu tadi sudah tak bisa dipakai untuk memukul lagi. Wanita itu beranjak mengambil ikat pinggang sekolah milik anak laki-lakinya.

Wanita itu mencambukan ikat pinggang itu ke tangan, ke kaki, ke punggung dan ke wajah anak kecil itu.

Anak kecil itu semakin menjerit kesakitan, tangisnya semakin kencang. Tangannya sibuk mengusap-usap bagian tubuhnya yang di cambuki wanita itu. Mencoba mengurangi rasa panas dan sakit yang ditimbulkan dari cambukan tadi.

Anak kecil itu tak bisa berpikir apa-apa. Dia hanya bisa menangis dan menangis. Anak kecil itu berharap ada seseorang yang akan menolongnya. Tapi harapannya tak terkabul.

Wanita itu melempar ikat pinggang di tangannya ke wajah anak kecil tadi.

Diwajahnya mulai muncul bekas cambukan yang membengkak dan berwarna merah. Panas dan sakit disekujur tubuh yang anak kecil itu rasakan.

Wanita itu berlalu pergi meninggalkan anak kecil itu yang masih menangis sesenggukan karena kesakitan.

***

" Pica ! Pica ! Bangun Pica ! Bangun !! " teriak Angga sambil menepuk-nepuk pipi Pica agak keras agar Pica segera bangun.

Pica yang tersentak langsung matanya terbuka membelalak lebar.

Tatapan nanar Pica menatap Angga dengan penuh rasa takut. Pica beringsut menjauh dari Angga dengan cepat. Tatapannya nyalang menyusuri keadaan sekelilingnya. Tubuhnya tak berhenti bergetar. Mobil sedang berhenti. Terlihat kak Dylan dan kak Dion menolehkan kepala mereka ke belakang menatap Pica dengan tatapan mata yang penuh kekhawatiran.

" Pica.. tenanglah ini aku.. kak Angga.. tenang.. oke.. tenang.. tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan.. coba lakukan Pica.. ayo.. jangan takut.. " ujar Angga mencoba menenangkan Pica.
Kak Dion menyerahkan sebotol air putih kepada Angga.

Angga membuka botolnya dan meminumkan isinya ke mulut Pica dengan pelan-pelan.
Setelah selesai minum. Pica berhambur menabrak dada Angga, memeluknya dan menangis kencang disana.

PICA' S ONE BIG BANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang