Chapter 9

22 4 5
                                    

Akhirnya aku sampai di depan gerbang istana. "Eh? Penjaganya bukan yang kemarin? Sepertinya para penjaga diberi jadwalnya masing-masing" aku pun bertanya pada salah satu penjaga gerbang. "Permisi..."

"Oh! Itu Mizuo-san...selamat datang" para penjaga membukakan gerbang untukku.

"Um...penjaga yang kemarin berjaga di gerbang ini, mereka sekarang dimana ya? Apakah kalian setiap hari bergantian?"

"Benar sekali Mizuo-san, kami para penjaga setiap harinya memiliki jadwal masing-masing dari berpatroli di istana hingga pembagian tempat berjaga. Jika yang anda tanyakan mereka...mereka sedang berjaga di dalam setahu saya" salah satu penjaga menjawab pertanyaanku.

"Begitu ya...terima kasih penjaga" aku membungkuk pada mereka lalu berlari ke dalam istana.

Ku melihat sekeliling "Ha! Ketemu!, oii kalian!!" aku berlari menghampiri dua penjaga yang kemarin aku beri apel.

"Mizuo-san! Ada apa anda memanggil kami?" salah satu penjaga bertanya.

"Maaf tentang yang kemarin...aku memberi kalian apel yang aku beri obat bius. Aku bukan bermaksud jahat kok beneran! Aku hanya ingin keluar dari istana, karena aku berpikir bahwa jika aku keluar pasti kalian para penjaga tidak memperbolehkannya dan menghalang-halangiku..." aku menundukkan kepala.

"Tidak apa Mizuo-san...kami mengerti maksud anda" kata penjaga A.

"Lagipula kata Aka-sama untuk Mizuo-san boleh bebas keluar-masuk istana sesuka hati anda" lanjut penjaga B.

"Eh? Aka berkata seperti itu?...maaf! Aku tidak mengetahuinya...tolong maafkan aku para penjaga!" aku membungkuk untuk minta maaf.

"Mi-Mizuo-san...! Tidak usah sampai seperti ini pada kami...kami sudah memaafkan anda" kata penjaga A.

"Te-terima kasih...dan maukah kalian tidak mengadu pada Aka-sama soal apel yang diberi obat bius, aku mohon pada kalian!" sambil menyatukan kedua telapak tanganku.

"Baiklah Mizuo-san...tanpa anda suruh pun kami tidak akan bilang pada Aka-sama..." kata penjaga B.

"Terima kasiiiih!! Ngomong-ngomong kalian tau penjaga yang kemarin berjaga di pintu depan istana?"

"Ooh mereka...sepertinya-", "Ah! Itu mereka!" tiba-tiba dua penjaga yang kemarin berjaga di depan pintu utama istana lewat. "Kami berdua permisi dulu Mizuo-san"

"Um! Terima kasih ya!" aku pun menghampiri penjaga yang kemarin aku pukul tengkuk lehernya.

"Oii! Permisi kalian berdua!"

"Mizuo-san...ada apa?"

"Maaf kemarin aku memukul kalian dari belakang hingga pingsan...aku hanya ingin keluar istana, dan aku baru tahu jika Aka memperbolehkanku dengan bebas keluar-masuk istana...aku benar-benar minta maaf!" aku membungkuk.

"Oo...jadi Mizuo-san yang kemarin memukul kami hingga pingsan ya...tidak masalah kok Mizuo-san...kami mengerti. Tidak perlu minta maaf hingga membungkuk seperti itu pada kami" kata penjaga C.

"Terima kasih kalian sudah mau memaafkanku...oiya! Aku juga meminjam obat bius. Ini aku kembalikan" aku mengambilnya dari tas.

"Itu obat bius milik saya Mizuo-san...pantas saja saya cari tidak ada. Rupanya anda meminjamnya" penjaga D mengambil obat biusnya kembali.

"Maaf kemarin tidak bilang-bilang dulu...tiba-tiba saja sudah tergeletak di tanah. Jadi aku mengambilnya hehe...memang untuk apa kau memiliki itu?"

"Tidak apa-apa Mizuo-san, saya punya ini karena di beri oleh salah satu pelayan istana. Obat ini digunakan untuk menidurkan seseorang yang mau diobati bahkan dioperasi karena terluka parah. Agar mereka yang terluka tidak merasakan sakit saat operasi sedang berjalan" penjaga D menjelaskan.

Takdir Dari Sebuah Impian yang KuatWhere stories live. Discover now