Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah kerja keras crew untuk acara malam ini, tibalah mereka di acara closing. Fireworks. Setelah kembang api yang begitu indah dan megah dilepaskan, dj pun memulai lagu upbeatnya.
Je yang melihat acara sambil berseder di bar merasa sukses untuk kesekian kalinya. Dia melihat para penumpang sekaligus tamu Poseidon sedang menikmati acara tersebut. Je merasa sangat senang. Dia merasa bahagia saat melihat orang lain bahagia.
Sambil bersender Je menangkap seseorang di sudut matanya, Kayden. Je sedang menegak jus jambu kesukaannya karena dia tidak meminum bir apalagi alkohol karena dia masih harus melakukan tugasnya. Tiba-tiba Kayden duduk di sebelahnya saat Je meminta air mineral pada Kenny, bartender malam itu.
"Aku suka, Je." Kayden mengantakannya sambil tersenyum. Jantung Je berdetak dengan aneh saat mendengar Kayden berkata begitu.
Tapi dengan santai dan sikap acuh tidak acuh Je hanya bergumam. Dia berusaha tidak memperdulikan Kayden dan menikmati jus jambunya. Tidak lupa keberhasilan acara malam ini.
"Acaranya. Aku suka acaranya. Ternyata ini yang membuat kamu lupa kalau aku adalah tamu istimewa. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Cairstairs." Kayden pura-pura cemberut.
Je melihat Kayden yang pura-pura cemberut. Dia jadi ingat...
Tapi semua ingatan itu segera ia tepis dan berkata,"Kayden, can you stop doing this?" Je tidak ingin berbasa-basi lagi. Sudah cukup dengan Kayden. Je sudah cukup sibuk di cruise ini dan dia tidak perlu tambahan Kayden yang terus-terus mengingatkannya terhadap masa lalu.
"Do what, Je? Bersantai di cruise dan menikmati acara?" Kata Kayden dengan nada jenaka.
"Hentikan apapun yang sedang kamu rencanakan sekarang ini, Kayden. Stop being so immature and go back to your life." Je membuang mukanya ke samping dan meminta bir kepada barista. Untuk pertama kalinya di Poseidon. Dia yakin ini akan menjadi buruk untuknya.
"I am not. I'm not planning anything, Je. Aku hanya ingin berlibur dari pekerjaan dan bersantai di cruise."
Setelah Kayden berkata begitu, Je meninggalkan Kayden sambil membawa sebotol bir di tangannya. Kembali ke ruangannya, bilik kamarnya dengan terburu-buru. Sesampainya Je di ruangan kecil yang dia sebut kamar itu, Je meringkuk diatas kasur. Dia tidak peduli lagi dengan make upnya. Tidak juga dengan bajunya. Je hanya ingin sendiri.
Tanpa ia sadari air mata turun dari wajahnya yang segera ia hapus oleh punggung tangannya sendiri.
Stupid, Je. Untuk apa kamu menangisinya lagi?
Yang Je tidak tahu adalah malam itu bukan hanya dirinya yang sakit hati tapi laki-laki itu juga.
***
Je bangun dengan kepala yang sakit pagi ini. Bukan hanya kepalanya tapi juga hatinya. Kayden memang selalu berpengaruh dan memberikan efek yang besar di hidupnya. Je tidak ingin mengakuinya, tapi memang begitulah kenyataan yang ada.
Je berjalan ke arah wastafel dengan malas. Berharap dia bisa libur hari ini. Tapi sayang, itu hanya sekedar harapan. Dia bisa melihat dirinya yang sangat kacau di kaca. Untung saja dia tidak mabuk karena bir semalam.
Je segera membersihkan tubuhnya dan memoleskan makeup diwajahnya. Khusunya si daerah matanya yang kelihatan sangat aneh hari ini.
Saat merasa riasan dan bajunya sudah layak, Je melangkah keluar dari kamarnya. Dia menghela napas. Ini akan menjadi hari yang berat.
Hari ini Je harus memberikan tour kepada Kayden. Karena kemarin ia tidak bisa memberikannya dan dia tidak akan mengecewakan pelanggan hanya karena alasan sentimental.
Je berjalan ke arah ruangan Kayden. Tidak jauh dari ruangan itu, dia sudah bisa melihat seorang perempuan yang berjalan keluar dari kamar Kayden. Perempuan itu memberikan ciuman singkat di pipi Kayden. Je dapat melihat semua itu dengan jelas. Ada rasa aneh dalam hatinya, lagi. Namun Je berusaha keras tidak mempedulikannya. Tepat di depan pintu, Je terbatuk untuk membersihkan tenggorokannya.
Kayden dengan tubuh shirtless dan senyum lebarnya menyambut Je seakan-akan tidak terjadi apapun semalam dan barusan. Je dapat melihat rambut Kayden yang acak-acakan, beberapa bekas cakaran di dadanya, dan beberapa kemerahan di lehernya. seperti habis melakukan sesuatu. Je berusaha mengabaikannya.
"Hey, Je. What's up?" Katanya dengan santai. Sedangkan Je akan gila jika dia melihat atau bahkan mendengar apa yang Kayden dan perempuan itu lakukan tadi, sebelum dia datang.
Je berusaha menghindari tatapan mata Kayden. Dia berkata,"aku akan mengajak anda tour, Sir. Seharusnya aku melakukannya sejak kemarin. Tapi karena aku sibuk, I hope you don't mind."
Kayden dengan santai berusaha menatap mata Je yang terus dihindari oleh perempuan itu,"ah ya, sebenarnya seorang perempuan telah memberikanku tour secara gratis kemarin. Oh, and stop being so formal." Katanya sambil berusaha menatap mata Je.
Dia mendapatkannya sekian detik. Dia tahu. Dia tahu kalau mata Je sembab. Je pun tahu Kayden menyadari matanya yang sembab. Dia ingin segera pergi dari situ,"oh baguslah kalau begitu. A-aku pergi dulu." Je tersenyum formal.
Saat melangkah pergi lagi-lagi Kayden menahan lengan Je. Kayden berada di balik Je. Je menutup matanya dan menghela napas.
"Sorry," kata Kayden lalu melepas pegangan tangannya.
Je masih dengan posisinya, Kayden dapat melihat punggung Je. Punggung Je yang terihat sedang menahan napasnya.
"I am sorry, J. For everything. I am so so sorry."
Lalu Je tidak tahan lagi. Dia meninggalkan Kayden dan pergi. Selalu begitu.
"Je," Je dapat mendengar Kayden yang memanggilnya.
***
Please leave some feedbacks due to improve my writtings

KAMU SEDANG MEMBACA
A Tale Of Cruise [#2]
Romance#2 The worst thing about being lied to is realizing you're not worth the truth. "Do I worth the truth, Kay?" *** I hope you don't cringe the f out bc of this story. Lots of love! Any feedbacks are expected due to story and writings improvemen...