Cruise ⛴ Four

3 0 0
                                    

Keesekoan harinya, Je berusaha keras untuk mengalihkan pikirannya dari Kayden dengan menghindari laki-laki itu. Dan Kayden menyadarinya. Mana mungkin tidak?

Je mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan tugas dia karena kebetulan semua tugas dia sudah selesai dari satu jam yang lalu.

Sekarang ini Je sedang bersembunyi di balik bar. Tidak sepenuhnya bersembunyi karena dia sedang membantu Jace meracik minuman.

"Jadi Je..." kata Jace sambil mengocok minuman di tangannya.

"Kenapa kau bisa terjebak bersamaku disini?"

Je menghentikan kegiatannya menghias gelas dan mengendikan bahunya,"aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Ku pikir membantu akan menjadi menyenangkan, bukan?"

"Lagipula, what's more fun than learn how to make your own cocktail, right?" Kata Je sambil tersenyum ke arah Jace.

Di tengah obrolan mereka berdua, laki-laki yang mati-matian dihindari oleh Je tiba-tiba sudah duduk di bar itu. Memesan segelas margarita dan dia ingin Je yang membuatkannya. Sungguh sial sekali.

Je hanya meracik margarita dengan diam sedangkan Jace yang bermulut besar itu terus-terusan mengajak Kayden berbicara. Sesekali tatapan Kayden dan Je bertemu. Tapi, seperti biasa Je mengalihkan wajahnya.

"Jadi, Mr. Stradivius?"tanya Jace kepada Kayden.

Kayden tertawa ringan dan mengibaskan tangannya,"panggil saja aku Kayden."

"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." Kata Jace sambil melihat Kayden.

"Yah, aku memang baru naik ke Poseidon beberapa hari yang lalu." Kata Kayden sambil melirik ke Je. Jace menyadari itu dan menatap Je juga.

"Woah, special guest, huh? Well, you should try my signature drink." Kata Jace lalu meracik minuman dan memberikannya pada Kayden.

Kayden meminumnya dan memberi pujian pada Jace. Jace pun merasa bangga dengan dirinya dan karyanya.

"Je." Kata Jace memanggil Je yang sedang menghindari Kayden dengan meracik minuman entah apa.

"Kenapa kau diam saja? Biasanya kau yang paling ramah dengan tamu." Tanya Jace dengan penuh selidik. Dia tahu ada yang aneh disini.

Pertama, Je yang sangat pendiam terhadap tamu.
Kedua, Je yang tidak ada tugas lagi dan malah membantunya di bar.
Ketiga, Je yang berusaha menghindari tamu barunya itu.

Bukan Je yang menjawab pertanyaan tapi Kayden dengan wajah pura-pura terkejutnya berkata,"hm... jadi Je itu sangat ramah terhadap tamu? Tapi dia tidak ramah sama sekali padaku sejak aku berada disini. Aneh sekali."

Pada saat itu juga Je menaruh gelas yang dia pegang dan berkata pada Jace,"Jace aku akan ke toilet." Lalu, dia pergi dari bar.

Pada saat itu juga Kayden bangkit dari tempat duduknya dan berkata pada Jace,"thanks, bro. Kurasa kita harus hangout lain kali. You seems great."

Sebelum Kayden benar-benar pergi dari tempat itu Jace memanggilnya,"hey."

"Sebenarnya kau ini siapa?"

Kayden tersenyum dan mengendikan bahunya, "no one," lalu pergi meninggalkan Jace yang kebingungan.

***

Je tidak benar-benar bohong saat dia bilang dia akan pergi ke toilet. Karena kenyataannya perutnya seperti di remas-remas. Kayden membuat perutnya mual dan sakit. In a bad and good way. Kayden selalu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Selalu.

Setelah memastikan dirinya baik-baik saja, Je membasuh tangannya dan keluar dari toilet. Menemukan Kayden yang sedang berdiri tepat di depan toilet perempuan. Je berusaha tidak peduli dengan adanya laki-laki yang sedang menunggunya. Dia berjalan seperti biasa sambil menghindari Kayden.

Tapi, bukan Kayden namanya kalau dia menyerah begitu saja. Dengan langkah yang lebih panjang Kayden dapat menyamai langkah Je dengan mudah. Tapi perempuan itu tetap menganggapnya seperti angin lalu meskipun Kayden telah memanggilnya beberapa kali.

Sampai akhirnya Kayden yang lelah dengan keadaan seperti itu memegang lengan Je. Membuat mereka berdua sama-sama berhenti berjalan. Kayden yang merasa takut kalau Je akan kabur darinya mendorong Je menempel ke tembok.

Tubuh mereka begitu dekat sampai Je dan Kayden bisa mencium wangi mereka satu sama lain. Kayden menaruh kedua tangannya di tembok di sebelah Je, mengurung Je diantara tubuhya. Je yang mengalihkan pandangannya ke bawah memejamkan matanya. Perasaan ini. Sama persis seperti dulu dan Je membenci dirinya yang selalu terjebak dalam posisi seperti ini. Dia tidak bisa. Dia tidak bisa melihat mata Kayden. Dia tidak ingin melihat mata Kayden dan jatuh dalam iris hazelnya.

Dengan jari telunjuknya Kayden mengelus pipi Je higga ke dagu dan mengarahkannya tepat ke depan wajahnya. Je berusaha melawan tapi bukan Kayden kalau dia tidak bisa memaksa Je. Pada akhirnya Je menatap iris hazel itu. Je dapat melihat mata Kayden memancarkan kekesalan sekaligus rindu. Dia bisa melihatnya dengan jelas.

Dengan nada yang lesu dan pandangan sendu, Kayden memohon pada Je,"Je, please. Please."

Je memejamkan mata dan menggigit bibirnya, menahan rasa sakit dan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Je tidak bisa. Dia tidak mau lagi jatuh di lubang yang sama. Je menghela napas dalam dan berkata,"no, Kayden. We're over. Since a long time." Je mengatakannya dengan penuh penekanan.

***

Need to be cut here. Hehe
Sorry

A Tale Of Cruise [#2]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang