[#6] I say, I Love You

3.3K 358 63
                                    

.

.

Suasana di meja makan sedikit berbeda dari biasanya, Seungkwan dan Hansol merasa canggung berhadapan dengan Soonyoung yang tadi memergoki mereka sedang beradegan panas, itu salah mereka sendiri karena membiarkan pintu tak terkunci.

Mereka bertiga menikmati makan malam dalam diam, Seungkwan dan Hansol yang salah tingkah berhadapan dengan Soonyoung diam tak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan soal kejadian tadi, mengingat memang belum ada yang tahu tentang hubungan mereka, termasuk Soonyoung yang sudah tinggal bersama mereka selama hampir 2 tahun ini. Sejak tiba di apartemen, Soonyoung terus diam tak sedikitpun ia bicara. Beberapa hari ini suasana hatinya sedang tidak baik.

Berkali-kali Seungkwan menyikut Hansol yang duduk di sebelahnya, saling melirik memberi kode untuk bicara melalui gerakan mata.

"Umh, A-anu ... umh ...."
Hansol membuka suara, ia seperti orang bodoh yang tak tahu harus bicara apa. Ia tidak enak hati.

" ..umh .. sup kepiting ibu Seungkwan memang yang terbaik! HAHAHA!"

Seungkwan langsung menoleh ke arah kekasihnya itu dengan mata mlotot.
'Kenapa malah bicara sup kepiting?!' Jika diterjmahkan mungkin itu yang Seungkwan katakan. Mereka berdua saling lirik dengan mulut komat-kamit, berdebat tanpa suara.

"Jadi, berapa lama kalian berpacaran?"
Tanya Soonyoung membuat Seungkwan dan Hansol kompak menoleh ke arahnya.

"Umh ..."
Hansol hendak bicara namun dengan cepat Seungkwan bicara mendahului.

"Awalnya kita hanya teman biasa, tapi seiring berjalan waktu, kita tinggal bersama, berbagi kamar, bahkan harus berbagi ranjang yang sama. Semuanya mengalir begitu saja."
Ucap Seungkwan, menundukan kepala tak berani menatap Soonyoung.

"Hentikan saja."
Kata Soonyoung membuat Hansol dan Seungkwan mengangkat kepala, menatap wajah yang saat ini menampakan wajah serius. Soonyoung terlihat menakutkan jika sedang serius seperti ini.

"Kalian pikir ini permainan? Hentikan saja, jika hanya main-main."
Kwon Soonyoung yang biasa kekanakan, konyol dan selalu bertingkah heboh, berisik. Kini tak terlihat, yang ada Kwon Soonyoung yang serius.

"H-hyung .."
Gumam Seungkwan, setengah tak percaya Soonyoung mengatakan hal tersebut. Suasanya seperti sedang berhadapan dengan kedua orang tuanya., tegang.

Hansol menggenggam tangan Seungkwan yang berada di atas meja, pria bermarga Boo itu mencoba melepaskan genggaman tangan Hansol, namun pria itu semakin mengeratkan genggaman tanganya.

"Aku tidak akan memulainya, jika aku tidak yakin dengan perasaanku. Aku mencintainya .. aku serius dengan hubungan ini."
Ucap Hansol penuh ketegasan. Soonyoung bisa melihat keseriusan pria muda ini dari matanya.

Seungkwan menatap wajah kekasihnya dari samping, matanya mulai berair mendengar kata-kata yang barusan terucap. Pada dasarnya Seungkwan memang memiliki perasaan yang sensitif, ia bisa menghabiskan satu kotak tisue hanya karena menangis melihat adegan sedih di drama yang ia tonton. Tapi kali ini berbeda, ia tersentuh dengan kata-kata Hansol yang penuh dengan ketulusan. Ia bisa merasakanya.

Soonyoung menghembuskan nafas panjang, kemudian melanjutkan makanya.
"Lain kali kunci pintu dulu. Untung aku yang masuk, bagaimana jika yang masuk bibi pemilik gedung?"
Kata Soonyoung sembari menyumpit nasi di mangkuknya.

"Jadi, kau merestui hubungan kami?!"
Kata Seungkwan heboh, tersenyum girang seperti baru saja menang lotre.

Soonyoung hanya mengendikkan bahu sembari berkata.
"Aku tidak punya hak melarang orang berpacaran .."
Katanya santai. Menikmati makan malam yang hari ini menunya sup kepiting oleh-oleh titipan dari ibu Seungkwan.

Light A Candle In The Cold Night [SEOKSOON FANFICTION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang