#01 - Di Suatu Pagi

510 49 12
                                    

Ya bukan Chihiro namanya kalau nggak heboh. Nggak ada sesuatu yang nggak menarik untuk dikomentarin. Semua yang kelihatan di matanya rasanya pengen dia komentari satu per satu. Contohnya ya pagi ini.


"Nah, kalo gini kan berasa banget kekeluargaannya. Semuanya kumpul di rumah trus bisa sarapan bareng. Dedek suka lihatnya," ucap Chihiro sambil mesem-mesem manja. Gigi gingsulnya mengintip malu-malu.


"Ih, apaan. Geli denger ada kata 'dedek' segala," ledek Hiro. Tertawa sebentar lalu menyendokkan makanan ke mulutnya.


Tak ingin kalah, si sulung juga ikut menimpali. "Si manja ya gitu, suka alay kalo ngomong. Nggak sadar umur apa, ya?"


Chihiro langsung menyerobot. "Wooo, suka nggak sadar diri ya emang," sindirnya sambil manggut-manggut. "Lebih alay mana sama yang bentar-bentar selfie trus diupdate di instagram? Melet-meletin lidahnya atau kalo nggak gitu monyong-monyongin bibir. Ih, udah mirip anak ABG yang baru kenal sosmed. Alay. Nggak cool tau," ejek Chihiro lagi.


Hiro tertawa. Aduh, ini lucu baginya. Pembicaraan dengan mereka berdua memang bisa jadi hiburan tersendiri baginya. Apalagi jika sudah lama tidak bertemu seperti ini. Pasti akan ada banyak bahan pembicaraan tidak penting yang keluar.


"Ih, dasar nggak paham seni. Itu namanya seni dalam berfoto, tau," jawab Taka tidak terima.


"Yang kaya gitu katanya seni? Halah, seni apaan coba. Nggak cool, nggak keren, nggak swag," cibir Chihiro. Duh, bahasanya tinggi banget.


"Ya terus yang keren kaya gimana? Harus pake topi dibalik trus duduk di papan skateboard, gitu? Atau nyender di pager sambil noleh ke kanan pasang muka ala-ala innocent, gitu? Ih, udah nggak jaman kali. Basi."


Hiro tertawa lagi.


"Ya minimal kaya Bang Toru gitu. Diem aja udah kelihatan cakepnya, kelihatan kerennya. Atau kaya Mas David gitu, emmm cakep," ujar Chihiro sambil mesem-mesem. "Nggak kaya kakak yang banyak tingkah polahnya," lanjutnya meledek.


"Gitu-gitu fansnya membludak loh, Chi. Temennya juga bule-bule sekarang. Beuh," timpal Hiro sambil tertawa.


Taka tersenyum bangga, jiwa sombongnya sebentar lagi akan keluar. Tapi belum sempat mengucapkan sepatah kata apapun, si Mama keburu menyahut.


"Kalian ya, kebiasaan banget kalo makan suka rame sendiri. Nggak baik, tau. Udah berhenti dulu ramenya, selesain dulu makannya." Wasit sudah bersabda, para pemain harus menuruti apa katanya kalau tidak mau menerima kartu merah dan dikeluarkan dari lapangan.


"Tuh, Ma, Mas Taka yang mulai duluan," adu Chihiro pada sang Mama sambil bersungut-sungut pura-pura marah. Aduh, aktingnya jelek banget, batin Taka.


Nah, Chihiro itu juga sedikit unik, atau mungkin aneh, atau mungkin dua-duanya. Dia memanggil nama Taka dengan banyak panggilan. Kalau ingatnya kak, ya manggilnya kak. Kalau ingatnya mas, ya manggilnya mas. Kalau ingatnya abang, ya manggilnya abang. Gitu.


"Chi.."


Aduh! Chihiro meringis sambil memandang wajah Papanya. Taka dan Hiro hanya tertawa dalam hati.


"Iya, iya, Chichi diem sekarang biar nggak rame," ucapnya lalu menyelesaikan menu sarapannya.


Chihiro Moriuchi. Biasa dipanggil Chichi oleh orang-orang terdekatnya. Si superhiro ketiga. Yang paling heboh kalau ada apa-apa.

---


Gimana? Mau lanjut apa unpublish aja? Hehehe

The Superhiro FamilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang