CHAPTER 1 : Awal (?)

152 10 0
                                    

Usai.

Riuh tepuk tangan sempurna menutup pertunjukkan akustik malam ini. Bahkan saat kami beranjak dari atas panggung, suasana romantis masih jelas terasa. Membuat cafe tepi pantai ini menjadi kian istimewa.

"Apa aku tidak salah lihat? Apa aku tidak salah dengar? Mereka bahkan tersenyum begitu lebar dan ikut bernyanyi! Apa kita memang sudah setenar itu??" Ucap Raino yang sejak tadi heboh karena respon penonton yang begitu antusias.

Bagaimana tidak. Sebagai band lokal, mendapat respon yang sedemikian rupa merupakan suatu hal yang luar biasa. Ditambah lagi, konser ini tidak kami lakukan di dalam negara sendiri.

"Of course, we're so popular now! So,..."

"So..." Free menyahut, menirukan logat Inggris Day. Ia lalu tertawa saat Day memasang wajah datar dan hendak melemparnya dengan sepatu.

Kebiasaan bicara Day memang unik. Dan Free selalu mengambil kesempatan itu untuk menggodanya.

"Kak Noha... kita akan pulang malam ini juga, bukan?" Si Bungsu akhirnya angkat bicara, memecah pertikaian rumah tangga Day dan Free.

"Tentu saja, Blue. Kita akan langsung kembali setelah ini." Balasku.

"Memang kenapa, Blue? Apa kau sudah rindu dengan masakan ibumu??" Raino menyahut.

"Aku juga rindu dengan kakakmu." Free kembali menggoda siapapun yang berada di dekatnya. Sementara Blue sebagai sasaran hanya diam, sambil sesekali tertunduk.

"Ada apa denganmu sebenarnya? Kau baik-baik saja?" Aku memegang bahunya kemudian, sedikit heran melihat sikapnya yang tak seperti biasa.

"Eum. Aku baik-baik saja, Kakak."

"So, karena Blue sudah sangat rindu dengan masakan ibunya..."

"Dan aku juga sangat merindukan kakaknya." Free kembali menyahut, membuat Day tak bisa mengontrol rasa sebalnya lagi kali ini.

"Chatmu akan kublokir setelah ini! Lihat saja!"

"Aih.... Kakaaakkk....! Aku hanya bercandaaa...." Ucapnya sambil gelendotan memegangi lengan Day, sengaja membuat Day sebal lebih jauh lagi.

"Eiisshhhh... don't touch me, Free! Lagipula kenapa kau tidak merindukan kakakmu sendiri saja?!"

Kami tertawa sekaligus geli melihat tingkah Free. Dan aku merasa beruntung karena malam ini bukan aku yang menjadi sasaran gelendotannya.

"Kalau begitu, let's goooo....!!! Kita pulaaaangggg....." Raino berucap semangat, sudah siap menenteng tas berisi bassnya.

Kemudian Blue bergegas mengikuti. Day dan Free juga segera menyusul setelah percekcokan mereka selesai. Kami berjalan keluar ruang make up tanpa rasa khawatir, atau perasaan buruk semacamnya.

Kami akan segera pulang, jadi apa yang perlu dikhawatirkan?

Namun rasa bahagia kami memudar, ketika terdengar suara jeritan banyak orang dari luar. Meskipun samar, namun suasana di luar terdengar gaduh sekali, membuat kami menghentikan langkah sejenak untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

"Hei, kalian dengar itu?!?" Raino yang pertama kali mengungkapkan rasa terkejutnya, membuat rasa takut kami muncul semakin nyata.

Dan belum usai kami memahami rasa takut kami, seluruh lampu ruangan juga mendadak padam.

"Kakak... sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua lampunya mendadak padam???" Blue yang memang sudah sejak tadi merasa tak enak hati kini beralih menjadi semakin panik. Sementara Free berusaha menenangkannya, kuedarkan pandanganku ke sekeliling.

Kurasa memang ada yang tidak beres.

"Rain, cepat kau lanjutkan berjalanmu! Kita harus segera keluar dari sini!" Ucapku menyuruh Raino untuk segera kembali berjalan, karena dia yang berdiri paling depan.

Namun, bahkan belum selangkah...

Suara ledakan itu terdengar begitu kerasnya, hingga terasa berdenging di telingaku. Aku tak melihat setitikpun cahaya. Aku juga tak bisa melihat ataupun mendengar suara sahabat-sahabatku. Dan perlahan, semua menjadi samar. Semua hilang.

Black out.

***





One Second For A Moment (Day6 Fanfiction)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang