Part 32. A backfire

2.9K 353 53
                                    

Setibanya di mansion Mahendra, Aila menangis tersedu di pelukan Daniel, daddy tercintanya. Terpisah hampir dua puluh jam dengan sosok cinta pertamanya itu, membuat Aila menggigil ketakutan. Daniel mengusap lembut punggung putrinya dengan penuh kasih. Avril yang melihat histerisnya Aila saat memeluk suaminya, ikut menitikkan air mata. Hatinya bercampur antara merasa terharu dan juga lega. Avril berharap peristiwa penculikan kemarin tidak lantas menimbulkan trauma pada putri semata wayangnya itu.

Avril sangat tahu apa yang sedang dirasakan Aila saat ini. Pastinya sangat menakutkan saat menyadari ada orang yang ingin mencelakakan diri kita sendiri. Avril tahu dan sangat mengerti, karena dulu Avril sendiri pernah mengalami hal itu. Avril pun sedikit mengalami trauma setelah kejadian terburuk dalam hidupnya itu. Avril selalu merasa ketakutan jika harus keluar dari rumah. Setiap malam Avril juga mengalami mimpi buruk karena hal itu. Dan itu sungguh sangat menyiksa jiwanya. Avril berharap Aila tidak akan mengalami trauma seperti dirinya.

" Tenanglah, princess..mommy dan daddy ada di sini. Kau sudah baik-baik saja sekarang. " bisik Avril setelah ikut mendekap erat putrinya, yang masih dalam dekapan suaminya itu.

" Aila takut, dad.. " isak Aila pilu. Berbagai kejadian buruk di dalam dan luar mansion Neil, kembali membayanginya. Tubuhnya bergetar hebat oleh rasa takut.

" Daddy janji, princess..mulai saat ini semuanya akan baik-baik saja. Daddy tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu lagi. Mereka yang sudah menyakitimu akan membayar mahal, princess. Daddy sendiri yang akan memastikan hal itu. " Daniel mencoba menenangkan kekalutan putrinya.

Selama beberapa menit ke depan, isakan Aila masih terdengar. Daniel dan Avril membiarkan putrinya menangis, hanya supaya perasaan putri semata wayang mereka lega. Daniel dan Avril hanya tetap memeluk hangat Aila, agar sang putri tidak merasa sendirian. Sementara Edsel dan Dareen yang saat itu juga melihat dan mendengar tangisan Aila, merasakan marah dan geram. Mereka ingin sekali menghajar orang yang sudah membuat Aila menangis.

" Jadi..si brengsek itu belum ditemukan, kak ? " gumam Dareen pada Edsel. Dia menjaga suaranya agar tidak terlalu keras. Dareen tidak mau kakaknya menjadi kalut dan ketakutan, jika mendengar tentang Neil Brewman yang belum tertangkap, dan masih bebas berkeliaran di luar sana.

" Menurut informasi dari Adam, orang itu berhasil kabur dengan jet pribadinya ke Batam. Dan kini dia dalam perjalanan ke Singapura dengan kapal feri sewaan. Adam berhasil mengikuti jejak orang itu. " jawab Edsel pelan.

" Tenang saja..Mr.Cranford dan anak buahnya sudah menunggu di Singapura. Dia akan membantu Adam untuk menyergap Brewman di sana. Bajingan itu tidak akan bisa kabur lagi. " tambah Edsel kemudian, saat melihat raut tidak puas di wajah Dareen.

" Baguslah kalau begitu. Berarti aku punya kesempatan untuk memukulinya. " sahut Dareen dingin.

" Rasa-rasanya itu ga perlu, Reen. Jangan repot-repot mengotori tanganmu. " kata Edsel sambil menepuk-nepuk bahu Dareen.

" Ed.. " Tiba-tiba Edsel mendengar suara kekasihnya memanggil namanya.

" Yes, sweetheart.. " Edsel bergerak mendekati Aila. Gadisnya sudah tidak menangis di pelukan daddynya lagi.

" Kau tadi sudah janji kan..akan membuatkanku nasi goreng. Aku mau sekarang..aku lapar.. " rengek Aila manja. Edsel terkekeh mendengarnya. Hatinya merasa lega, karena kekalutan gadisnya sudah mereda.

" As you wish, my princess.. " sahut Edsel sambil tersenyum manis. Aila langsung menggandeng lengan Edsel, dan membawa kekasihnya itu ke ruang dapur. Daniel, Avril dan Dareen hanya mampu tersenyum lega, melihat Aila perlahan sudah kembali ceria lagi.

Cinta Kita ( SUDAH TERBIT )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang