02. Makhluk Menyebalkan

31.7K 1.2K 22
                                    

Bismillahirrahmanirrahim

.
.
.

"Kamu kenapa sih, kok makin hari bukannya tobat malah tambah gak ke kontrol gini. Apa yang salah sama didikan kami? Ada yang kurang perhatian? Papa sama Mama gak bisa menuhin semua keinginan kamu? Ada yang salah saat kami menasehati kamu? Apa yang salah Ghazy." Lelah bercampur kecewa kini tergambar jelas di wajah Rendra. Wajah yang biasanya terkesan dingin tapi memiliki sisi lembut juga itu hanya bisa mendesah pasrah. Kok bisa putra semata wayangnya seperti ini sih. Apakah selama ini ia yang salah mendidik?

"Seminggu loh, Papa kasih kamu waktu buat muhasabah. Papa berikan waktu buat kamu berpikir apa saja kesalahan kamu selama ini. Tapi apa? Pulang-pulang malah bawa masalah baru lagi. Gak capek?" Ghazy yang sejak tadi diam mendengarkan ceramah panjang papanya hanya bisa pasrah mendengar ocehan papanya yang tiada habis. Sudah sekitar satu jam Papanya itu menasehati kadang juga marah kadang juga menunjukkan kekecewaan.

"Berhenti kuliah, kamu ke pesantren Abiya aja. Pergaulan Jakarta gak cocok buat kamu. Bukannya tambah pinter malah melanggar terus. Teman-teman kamu juga gak ada yang positif malah bawa hawa negatif aja."

"Pa, gak bisa gitu dong!" Kali ini ia menyeru tak terima. Enak saja Papanya meminta ia berhenti kuliah. Ia sudah menginjak semester akhir, bahkan sebentar lagi akan melaksanakan KKN. Kalau berhenti sekarang bisa-bisa ia harus mengulang kembali.

"Pilihan kamu cuma dua, kuliah dengan tanggung jawab atau ke pesantren Abiya." Keputusan Rendra ia rasa sudah sangat tepat. Putranya ini memang harus ditekan sekarang, selama ini ia terlalu membebaskan. Dulu, ia berpikir untuk tidak menjadi orang tua kolot sebagaimana Abinya dulu. Tapi, melihat bagaimana perkembangan Ghazy yang begitu memperihatinkan. Sepertinya keputusan ini memang sudah sangat tepat.

"Pa?!"

"Kenapa lagi? Kurang berat?" Ghazy duduk kembali. Sepertinya Papanya sedang kecewa berat sekarang. Dan ia hanya boleh memilih kan? Baiklah biarkan ia memilih.

"Ok, aku akan ke pesantren Abiya. Tapi dengan syarat." Ghazy mulai melakukan negosiasi.

"Kamu bukan dalam kondisi bisa mengajukan persyaratan. Pilihan kamu hanya yang tadi gak ada tindak negosiasi atau apapun itu." Final Rendra tak mau dibantah.

"Tapi Pa, kita semua memiliki hak yang sama atas apa yang akan pilih buat hidup kita sendiri kan? Apa Papa juga mau mencabut hak suara aku? Papa udah gak mau mendengarkan pendapat aku. Kita masih di Indonesia kan ini?" Rendra memandang putranya dengan berdecih pelan. Baru disituasi seperti ini baru pikirannya berdasarkan logika. Ia suka heran, Ghazy ini laki-laki apa perempuan. Pakai logika pas udah terdesak dan tak memiliki pilihan lagi.

"Syarat apa?"

"Aku di pesantren Abiya hanya beberapa bulan aja. Aku udah mau semester akhir Pa. Masa berhenti sih, sia-sia aja dong aku kuliah udah hampir empat tahun."

"Dih berasa sok iya kuliah ada perjuangannya. Padahal cuma setor nama aja. " Ghazy yang mendengar itu tak merasa bersalah. Memang benar sih ia datang ke kampus hanya untuk absen setelahnya ia memilih untuk melipir ke sekretariat himpunan.

"Mama boleh bicara nih? Daritadi kalian mulu yang ngoceh." Riska mengangkat tangan seperti akan memberi pertanyaan atau lebih tepatnya sudah kebiasaan mengikuti metode sidang.

"Kalau menurut Mama sih, Papa setuju saja dengan syarat Ghazy." Ghazy yang mendengar ucapan Mamanya tersenyum senang. Artinya ia mendapat pembelaan. "Tapi, ada tapinya nih. Syaratnya itu Ghazy wajib hafal 100 hadits dan hafalan qurannya sudah harus tuntas."

Crazy Ghazy ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang