Bismillahirrahmanirrahim
.
.
.Sesampainya di kamar asrama pun senyum yang terukir dibibirnya tak juga pudar. Teman-teman kamarnya yang berada disana menatapnya heran. Saat masuk pertama kali saja tadi wajah santri baru ini sangat masam. Melihatnya saja sangat sepet, tapi ketika masuk di pintu kedua kalinya malah berbanding terbalik. Tersenyum dengan cerah tak tahu apa penyebabnya.
Menyadari ia bertingkah aneh saat melihat kedua orang di depannya menatapnya curiga ia kembali ke mode dasar. Datar. Ia berjalan kearah tempat tidur ya sendiri, tanpa menyapa teman sekamarnya. "Kok berhenti senyum, cerita lucunya sudah habis?" Suara Alka memecah keheningan.
Tak ada tanggapan, ia melihat kearah teman yang berada dekat dengan dirinya. "Nggak direspon Rak, lo coba," katanya sambil menyenggol temannya agar ia saja yang bicara dengan santri baru itu.
"Berhenti manggil Rak, lo kira gue rak telur?" Raka yang terkena senggolan Alka menanggapi tak suka. Lagian teman-temannya ini kebiasaan menyingkat nama panggilan. Padahal namanya hanya terdiri empat huruf saja. Kenapa sulit sekali sih.
"Iya, iya Raka. Anak gantengnya bapak Rustam dan Ibu Nia." Alka mengalah, sepertinya Raka dalam mode senggol bacok. Lebih baik cari aman saja.
"Oh iya, kita belum kenalan. Kenalin gue Alka. Dan ini Raka, ada satu lagi. Nah itu di belakang lo." Ia memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan sebagai perkenalan. Ghazy yang melihat itu menoleh tak suka.
"Ghazy," jawabnya pendek tanpa menerima uluran tangan Alka. Merasa tak akan bersambut ia pun menarik kembali tangannya itu. Agak malu, tapi memang seperti itulah jika belum beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia cukup paham, dulu saja ia sangat diam awal masuk ke pesantren ini. Lama-lama ia juga terbiasa, apalagi ia bergaul dengan Reza yang hobinya bacot.
"Kenapa Za?" Ia beralih pada Reza yang kini mendudukkan dirinya di dekat mereka. Jadi seperti ini, Ghazy di ujung dekat tembok lalu Reza, kemudian Raka. Dan yang paling dekat dengan pintu itu tempat tidur Alka. Alasannya simple ia suka di dekat pintu. Katanya ia suka kebelet jika tengah malam, daripada menganggu grasak-grusuk tengah malam lebih baik ia yang paling dekat dengan pintu tidurnya.
"Entah, mungkin tadi kesambet Mbak Kun pohon mangga tua dekat kolam ikan?"
"Heh, kok lo bisa sampai sana. Gue aja yang udah bertahun-tahun tinggal disini belum berani kesana. Apalagi setelah dengar cerita anak-anak yang katanya pernah liat Mbak Kun gelantungan di pohon mangga itu."
"Gue juga nggak mau kesana, tapi si Ghazy kesasar. Jadinya gue susulin lah, eh malah gue ditinggal. Mana tadi pas gue sendiri disana gue denger suara-suara. Kek ada yang manggil-manggil gitu, tapi gak ada wujudnya. Lo ngerti gak sih, apalagi udah mau magrib. Bulu kuduk gue sampai merinding." Alka yang serius mendengar cerita dari Reza menatap Ghazy takut.
"Kenapa lo?" tanyanya karena tatapan Alka itu tak teralihkan dari dirinya.
"Lo nggak kerasukan kan?" Ia bertanya memastikan, takutnya memang kerasukan.
"Maksud lo apa, hah?!" Ghazy melangkah mendekat kearah Alka yang kini dekat dengan dirinya. Karena saat ingin mendengar cerita Reza ia berpindah tempat agar lebih jelas.
"Eh, eh. Lo mau ngapain." Alka melihat Ghazy takut. Pasalnya wajah Ghazy kini terlihat sangat menyeramkan.
"Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim, Allahu la-ilaha illah."
Ia melihat kearah Reza yang sepertinya juga ikut ketakutan. "Za, kok nggak mempan." Reza menggeleng, ia juga tidak tahu. Apakah setan yang merasuki Ghazy begitu kuat hingga ayat kursi saja tidak mempan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Ghazy ✔
RandomTakdir yang mempertemukan, takdir pula yang memisahkan. Tanpa ketaatan maka akan tersesat dijalan. "Kamu dan luka itu sama, terlalu menyakitkan." »»--⍟--«« Start : 05/08/2022 Finish : 31/01/2023 Copyright ©...