Bismillahirrahmanirrahim
.
.
.Tak mau menunda waktu lebih lama, setelah dari ruang kedisiplinan Ghazy langsung kembali ke asramanya. Membereskan barang yang dimilikinya yang memang tak seberapa. Dengan cepat semuanya sudah masuk ke dalam tas ransel yang berukuran sedang. Saat semuanya telah beres ia akan beranjak namun orang yang berdiri di depannya itu membuatnya berhenti.
"Ghaz." Berusaha tak menghiraukan, Ghazy hendak melangkah lagi.
Namun, langkahnya terhenti saat lengannya ditahan. "Ghaz, gue tau gue salah. Dan gue minta maaf soal itu. Sumpah tadinya gue nggak ada niat buat kabur dari sana, tapi kalau gue nggak kabur gue bisa dikeluarin dari pesantren. Apalagi ada Ustadz Mahmud disana. Dulu gue udah pernah janji buat nggak melanggar aturan lagi, dan gue udah tanda tangan hitam diatas putih. Ghaz, maafin gue ya?"
"Gak, cemen banget. Lo pikir gue bakal biarin mereka keluarin lo gitu? Lo pikir gue bakal setega itu? Gue bukan temen kek gitu, tapi gue tahu sekarang. Kalau lo bukan temen yang sebaik itu Za. Lo lebih mentingin diri sendiri. Egois!"
"Ghaz, bukan gitu."
"Bukan apanya? Lo nggak egois? Kalau lo nggak egois lo nggak akan ninggalin gue sendiri apalagi alasan basi kek gitu. Yang gue butuhin tadi itu cuma temen gue, tapi lo dimana, hah?!" Ghazy mengeluarkan kekesalannya. Tangannya bahkan sudah terkepal, sedikit saja Reza memancing emosinya. Maka, kepalan tangannya itu siap menyentuh pipi mulus Reza.
"Minggir!" Sentaknya tak lupa menyenggol bahu Reza yang terkulai lemas. Benar juga, ini salahnya. Ia yang terlalu pengecut dan egois. Seandainya dia tidak meninggalkan Ghazy sendirian tadi. Ghazy tidak akan semarah itu padanya. Ghazy tidak akan merasa dikhianati.
"Ghaz, gue bener-bener minta maaf," ucapnya lemah yang tak mendapat tanggapan apapun dari Ghazy. Ia terus melangkah meninggalkan kamar tersebut tanpa menoleh lagi.
"Ghaz, lo mau kemana?" tanya Raka yang baru saja kembali dari kampus. Tapi sekali lagi, tak ada tanggapan.
"Mau kemana sih?!" Raka menghalangi jalan Ghazy yang dibalas tatapan mematikan.
"Lo kenapa?"
"Minggir atau lo gue tonjok!" Suara Ghazy terdengar tertahan.
"Ok, ok gue minggir tapi cerita ke gue. Apa yang sebenernya terjadi, lo mau kemana sampai bawa tas lo gini? Mau balik Jakarta?" Rentetan pertanyaan Raka membuat kepala Ghazy pening.
"Nanti aja gue cerita, sekarang minggir!" Ghazy menarik Raka kearah kanan agar ia bisa lewat. Tanpa memberikan penjelasan. Raka yang melihat itu jadi bertanya-tanya tentang apa saja yang terjadi saat ia tak ada tadi.
"Biarin dia tenang dulu lah." Putusnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mereka.
Ghazy adalah tipikal orang yang jika sedang marah, kesal, atau sedih tak ingin diberikan pertanyaan. Atau ia akan meledak, biarkan dia berpikir sejenak, biarkan dia tenang lebih dulu. Ketika sudah merasa tenang, maka Ghazy akan bercerita dengan sendirinya.
"Lah, lo kenapa Za?" Baru saja melangkahkan kaki masuk pintu kamar, ia melihat pemandangan Reza yang tengah menelungkupkan badannya sambil memeluk lutut. Tak lupa kepala yang ia sembunyikan di sela-sela lututnya.
"Kacau!" racau Reza membuat Raka semakin mengeryit heran.
"Kalian ada apa sih, kalau ada masalah jangan kekanakan. Bicarakan dengan kepala dingin, apa yang terjadi saat gue ke kampus tadi? Kalian berantem?"
"Lebih dari itu Rak, Ghazy dihukum berat. Itu karena gue, lebih parahnya gue pengecut dengan ninggalin dia sendirian!" Mata Reza memerah, air matanya juga sudah mengucur bebas. Rasa bersalah membuatnya tak bisa berpikir jernih. Rasa bersalah pula yang membuat dadanya sesak.

KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Ghazy ✔
SonstigesTakdir yang mempertemukan, takdir pula yang memisahkan. Tanpa ketaatan maka akan tersesat dijalan. "Kamu dan luka itu sama, terlalu menyakitkan." »»--⍟--«« Start : 05/08/2022 Finish : 31/01/2023 Copyright ©...