Bismillahirrahmanirrahim
.
.
.Matahari sudah kembali keperaduan, langit sudah mulai gelap. Masjid terdekat juga sudah bersahut-sahutan menandakan waktu magrib telah tiba. Walau sudah seperti itu ketiga gadis di kamar asrama itu masih saja harap-harap cemas. Orang yang sejak tadi mereka cari belum juga kembali.
"Duh, udah magrib gini Fia belum juga balik. Gimana dong?" Salsa yang sejak tadi mondar-mandir itu hanya bisa terus menengok kearah pintu. Berharap Fia datang.
"Sabar, paling bentar lagi juga balik kok," ucap Fina yang sudah lelah mencari Fia. Ia sampai sudah mencari kesetiap penjuru pesantren tapi tak juga menemukan Fia.
"Mending siap-siap ke masjid, ini salat perdana diimamin Kak Ghazy kan?" Aulia yang juga sudah sama lelahnya dengan yang lain memilih jalan tengah. "Kalau setelah salat magrib Fia belum balik, baru kita lapor ke ustadzah. Kalau perlu ke Ndalem sekalian."
"Nah, benar juga. Aku harus di shaf paling depan nih. Mau dengar suara Kak Ghazy setelah tujuh tahun. Huwwa nggak sabar!" Salsa bergerak cepat, ia mengambil mukenahnya yang tersampir dekat tempat tidurnya.
"Cepat guys, kita harus paling depan pokoknya."
"Santai aja kali Sal. Mau kamu shaf paling depan juga gak akan bisa liat Kak Ghazy. Ingat kita ini perempuan yang berarti shafnya di belakang. Apalagi tertutup hijab, jadi gak akan bisa." Fina tetap ogah-ogahan. "Lagian semakin jauh shaf kita dari imam bukannya pahalanya lebih besar ya? Kebalikan dari laki-laki?"
"Iya juga sih, tapi tetap aja. Ayo cepetan!" Ia menarik tangan Aulia dan Fina dengan tidak sabaran.
"Iya, iya. Lepasin dulu tangan kita." Ia berusaha melepaskan tangannya dari Salsa, hingga perhatian mereka teralihkan oleh salam seseorang.
"Assalamu'alaikum." Mereka bertiga serentak menoleh kearah pintu.
Dengan cepat Salsa melepaskan tangan kedua temannya dan beralih menghampiri orang tersebut. "Wa'alaikumussalam, astaghfirullah Fia. Kamu dari mana aja sih. Kita udah cariin kamu dari tadi tau. Kamu nggak pa-pa kan? Ada yang luka? Atau ada yang sakit?" Ia memeriksa tubuh Fia dengan seksama.
"Maaf, jadi ngerepotin kalian. Pasti capek ya, maaf banget. Tadi aku nyamperin Mbak Sania dan cerita banyak. Sampai lupa buat balik, jadi aku nggak pa-pa. Sehat tanpa kekurangan apapun." Walau tak menceritakan secara keseluruhan yang tadi ia lakukan. Setidaknya ia berusaha jujur. Lagian ia tak berbohong kan, hanya tak menyampaikan segalanya.
Mendengar itu Salsa bernapas lega. "Yaudah kalau gitu, ambil mukenah kamu. Siap-siap kita ambil wudu biar cepat. Ini perdana diimamin sama kak Ghazy. Harus excited!" Kali ini bukan kedua temannya lagi yang menjadi korban kebrutalan Salsa melainkan Fia yang harus rela ditarik kesana-kemari oleh Salsa.
"Pelan-pelan Sal, nanti keserim-"
Bruk!
"Pet." Baru saja ingin mengingatkan, Salsa sudah terlebih dahulu melepas rindu dengan ubin asrama.
"Ha ha, baru juga dibilangin. Udah jatuh aja, kangen kamu sama ubin?"
"Kamu sih, harusnya jangan diingetin!" Sungutnya. Walau begitu tetap menjulurkan tangan hendak meminta bantuan pada Fia.
"Bukannya diingetin sayang, tapi memperingati." Dengan pelan ia mulai menarik Salsa agar kembali keposisi semula.
"Sama aja Fia, ucapan adalah doa. Ucapan kamu itu berbahaya."
"Iyakan aja deh, biar cepat."
"Ish!"
"Kekanakan banget sih Sal, tapi cara jatuh kamu lucu." Fina yang baru saja menyusul mereka menertawakan Salsa. Ia tadi melihat bagaimana aestheticnya seorang Salsabila menciun ubin dingin.

KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Ghazy ✔
De TodoTakdir yang mempertemukan, takdir pula yang memisahkan. Tanpa ketaatan maka akan tersesat dijalan. "Kamu dan luka itu sama, terlalu menyakitkan." »»--⍟--«« Start : 05/08/2022 Finish : 31/01/2023 Copyright ©...