12. Khalwat

21.5K 816 7
                                    

Bismillahirrahmanirrahim

.

.

.

"Ghaz!" Langkah yang tadinya ringan berubah terasa berat saat melihat dari arah depan seseorang tengah menungguinya di serambi masjid. Merasa tidak ada yang penting, ia hanya melihatnya sekilas lalu kembali melangkahkan kakinya.

"Ghaz, dengerin gue dulu." Dengan langkah tergesa-gesa mengejar langkah Ghazy ia berhasil menarik lengan lelaki tersebut.

"Penting?" tanyanya dingin.

"Gue mau minta maaf, gue sadar kalau gue udah salah ninggalin lo gitu aja. Gue yang terlalu pengecut, gue nggak nyadar diri padahal lo bakalan ngelakuin apa aja buat bisa bantu gue kalau memang sebenarnya gue bakal dikeluarin dari sini dan beasiswa gue dicabut." Dengan kepala tertunduk lelaki itu benar-benar menyesali perbuatannya.

"Kemarin lo kemana aja?" masih dengan nada enggang ia bertanya.

"Maksudnya?"

"Se-enggak penting itu ya gue bagi lo? Lo punya banyak waktu buat datang ke gue dan ngakuin kesalahan, tapi baru sekarang? Lo nganggep gue orang asing kek yang lain? Gue nggak pernah nganggap lo itu punya kesalahan padahal, gue cuma nggak suka orang yang nggak setia kawan. Katanya sahabat tapi pas susah ninggalin, sahabat apa mantan itu?" Reza semakin tertunduk dalam.

"Maaf."

"Gue nggak butuh maaf dari lo. Ternyata disini beneran beda ya, lingkungannya bagus dan diajarkan buat punya attitude yang baik tapi hanya karena ketakutan yan g nggak perlu lo ninggalin gue gitu aja. Gue kasi tau sama lo ya Za, di Jakarta temen-temen gue emang brandalan, suka balap liar, mabok-mabokan, dan semua yang melanggar norma sosial. Tapi, mereka nggak akan pernah ninggalin temannya pas lagi susah. Kalau satu yang susah, ya susah semua. Mereka akan berbondong-bondong datang menjulurkan tangan tanpa pamrih. Walau sebenernya hidup mereka juga berat. Tapi yang namanya solidaritas itu perlu. Kek gini lo mau bikin geng? Mending nggak usah, itu bakalan kita semakin terpecah belah kalau masih ada sisi egois kek gini dalam diri kita."

"Aderfia? Itu kan nama geng yang lo usulin. Berasal dari bahasa Yunani yang artinya bersaudara. Lo mau bangun persaudaraan yang kek gimana kalau masih ada keegoisan pribadi? Lo nggak bisa masuk dalam semua circle pertemanan kalau egois itu masih ada." Setelah menceramhai Reza panjang lebar, Ghazy melangkah pergi meninggalkan Reza yang masih terpekur dengan apa yang diucapkan oleh Ghazy.

Ghazy itu brandal, itu yang orang tahu tapi tak ada yang tahu bahkan mencari tahu kenapa ia melakukan itu, hanya mampu menjudge. Bahkan orang tuanya sendiri tak mempercayai dirinya dan menganggap bahwa perbuatan Ghazy itu salah. Hanya karena norma social, tanpa memikirkan kemanusiaan itu lebih penting.

"Gue harus apa biar lo maafin gue?"

Langkahnya kembali terhenti saat mencapai pintu kamar marbot. "Gue udah maafin lo, tapi kasi waktu buat gue nerima kalau gue cuma lo anggap teman, bukan sahabat apalagi saudara." Ia langsung menutup pintunya rapat, ia memberikan tanda pada Reza ia sudah lelah dan tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka. Jika diteruskan pun taka da gunanya itu akan membuat terlalu banyak bicara dan bisa saja itu membuat Reza tersinggung.

"Gue keterlaluan gak sih?"

"Bodo amat, sakit hati, sakit hati dah lo. Emang gue pikirin? Mending turu."

»»——⍟——««

Langkah yang senantiasa mengendap-endap agar tak diketahui itu selama beberapa hari terakhir ini selalu berhasil tanpa tercium oleh siapapun. Semoga saja hari ini tetap seperti dini hari sebelum-sebelumnya. Matanya dengan awas melihat sekeliling takutnya ada pengurus pondok yang sedang berpatroli memantau santriwati maupun santriwan yang kadang suka ngeyel keluyuran, seperti dirinya contohnya. Bukannya tidur di asrama malah melangkahkan kakinya menuju masjid yang tak pernah absen ia kujungi, bahkan sekarang semakin intens.

Crazy Ghazy ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang