Air perasan Lemon.

712 12 1
                                    

Part. 06 Air Perasan Lemon.

Di mulai dari minggu ini setiap kelas 10-11 sudah mulai sibuk menyiapkan sebuah penampilan yang nantinya akan dipentaskan di Bali. Ya, school trip 2 tahun sekali ini selalu ada.

Kami akan berangkat minggu depan ke Bali. Kelasku nampak sibuk sekali mempersiapkan semuanya, drama komedi, paduan suara. Aku hanya ikut di paduan suara, aku tak mau sibuk biar mereka saja yang lelah berlatih hahaha..

Setiap hari mereka meminta izin pada guru untuk tidak mengajar, agar mereka bisa berlatih padahal latihan pun isinya hanya bercanda.

Aku mengajak Ilman, salah satu teman sekelasku yang sangat cinta pada Jepang. Dari rambut dan wajah sudah seperti pelajar jepang yang tergila gila pada idol Jepang, di tambah tubuhnya yang gempal semakin memperlihatkan dia sebagai seorang wibu.

Aku mengajaknya ke Kantin daripada kami yang tidak banyak tugas cuma menonton pertunjukan di kelas. Sepanjang jalan ke kantin Ilman hanya melihat ponselnya, yang ku lihat dia sedang membaca komik online. Ya ampun.

“Mas Alip, gudeg biasa ya.” Kataku memesan gudeg langganan.

“Oke bang, yang kemaren belum bayar loh bang.” Balas Mas Alip.

“Loh yang kapan?” Aku tak ingat.

“Yang waktu minggu lalu, Bang Zedan ngobrol ama cewe cantik itu langsung pergi. Saya mau tagih ga enak..”

“Yaelah ganteng-ganteng ngutang lu” Ledek Ilman.

“Ooooo iyaaa belum bayar ya, yaudah nanti saya bayar sekalian mas.. Maap yak” Kataku.

Mas Alip mengangkat jempolnya lalu mulai menyiapkan gudeg yang ku pesan. Ilman memesan bakso kesukaannya, aku sekelas dengan Ilman dari kelas 10 dan setiap ku ajak ke kantin dia pasti memesan bakso. Apa tak bosan ya.

Ilman membawa dua es jeruk lalu duduk di depanku.

“Nih Zed gua yang bayarin.” Kata Ilman yang lalu menyodorkan es jeruk itu.

“hahaha tumben amat, ada maunya ya lu..”

“Seudzon terus jadi orang, daripada lu ngutang.”

“Iya iya maap.”

“Zed, lu lagi deket ya sama Devi si anak jenius?” Tanya Ilman

Hmm.. Ini gosip emang cepat sekali ya menyebarnya. Sampai Ilman yang kerjaannya hanya di kelas saja bisa tau.

“Gatau man, gua juga bingung ini tuh lagi deket apa kaga. Lu kenal dia ya?” Yang ku ingat mereka ada di satu ekskul pecinta Nihongo.

“Ya kenal sih..” Kata Ilman, tak lama bakso pesanannya datang, lalu ia fokus melahap baso favoritnya.
Seperti melihat dugong yang girang melihat ikan salmon.

Gudegku juga datang, aku melahapnya pelan. Mataku terarah ke lapangan, kantin sekolahku emang bersebelahan dengan lapangan. Ku lihat ada kelas yang sedang olahraga senam, aku melihat Athan disana. Kalau ada Athan berarti ada Devi ya. Mataku mencari keberadaannya. Tapi aku tak menemukannya. Yasudahlah, aku melanjutkan makanku.

“Man.. Lu tau gak Devi suka apa?” Tanyaku.
Ilman menjawab dengan sedikit ragu, tapi aku malah yakin bisa melakukan sesuatu yang spesial untuk Devi. Semoga.

Aku kembali ke kelas, setelah kantin aku melewati ruang olahraga lalu UKS aku mengintip sedikit ternyata ada Devi di dalam dan satu orang perempuan yang berbaring di ranjang. Aku mengenalnya. Perempuan itu memanggilku. Awalnya aku tidak mau masuk, tapi Ilman mendorongku masuk karna melihat Bu Anita.

“Zed Bu Anita Zed”

Bu Anita adalah guru kimia yang kebetulan wali kelasku, bisa-bisa kami diomeli bila ketahuan habis dari kantin saat jam pelajaran.

Aku melihat ke arah jendela yang waktu itu beradu dengan kepalaku. Ternyata masih belum diperbaiki.

“Zaidan dipanggil sombong banget..” Perempuan itu memanggilku lagi.

Aku melihat ke arahnya.
“Apa?” Responku pendek.

“Gapapa manggil aja.” Jawabnya..

Aku jadi malas diam disini, tapi Bu Anita masih diam di depan koperasi yang berseberangan dengan UKS ini.

“Zed sombong banget sih sekarang..” Kata perempuan itu lagi..

“Udah kamu lagi sakit Yur, jangan banyak ngomong..” Jawabku.

Devi melihat ke arahku. Sebenarnya itu jawaban yang tidak sopan sih untuk seorang kakak kelas yang sedang memulai pembicaraan. Tapi, aku selalu merasa menjadi pecundang bila melihat wajah Yuri. Orang yang aku suka sebelum Devi.

“Idih galak banget, dulu ajaa baik ke aku sekarang ada Devi jadi sombong..” Balas Yuri.

Aku terdiam, aku hanya bisa melirik Yuri. Aku tak mau membalasnya lagi, yang ada luka lamaku akan dibanjur dengan air perasan lemon oleh Yuri. Pedih. Tapi wajahnya masih selalu ku ingat, wajah gadis sunda rambut panjang dan hidungnya yang pesek yang menambah efek gemas tiap melihatnya. Andai saja waktu itu........

Tak lama pintu UKS yang tadi Ilman tutup terbuka pelan, lalu seorang lelaki masuk. Daffa. Ia menghampiri Yuri yang sedang terbaring. Aku segera berjalan ke pintu, aku ingin segera keluar dari tempat ini, tak peduli biarpun terkena omelan bu Anita.

“Zaidan..” Devi memanggilku yang membuatku menghentikan langkahku. Aku menoleh..

“Tungguin..” Aku mengangguk. Ilman mengintip dari pintu ternyata Bu Anita sudah tidak ada di koperasi.

Tanpa bicara Ilman meninggalkanku, aku masih menunggu Devi dari balik pintu lalu ia keluar mengenakan pakaian olahraga, rambutnya dikuncir satu dengan poni yang di jepit ke atas. Lucu sekali.

“Kenapa sih jutek banget?” Tanya nya.
Aku menggeleng. Aku tak mau menjawab.

“Jawab dong, aku lagi ngomong sama Zaidan apa sama pintuuu” Ia merengek, dengan tingkah manjanya hatiku luluh juga.

“Aku gak suka aja kalau masa lalu dikorek korek lagi Dev.. Apalagi soal Yuri.” Jawabku.

“Yaaahh maaf ya aku waktu sabtu kemarin nanya-nanya soal Yuri..” Devi merengek lagi, yang membuat aku semakin lemah.

Aku membalasnya dengan senyum.
“Gapapa. Mulai sekarang mending ngomongin masa depan aja..” Kalimat bodoh macam apa ini..

Devi tertawa, lalu dia bilang harus segera kembali ke lapangan untuk olahraga tapi aku menahannya.

“Aku mau ngajak kamu ke Jakarta deh Dev..”

“Hah? Ngapain?”

“Ada tempat yang mau aku kasih liatin ke kamu.. Tapi kapan ya?”

Devi berpikir sebentar.
“Kamis yuk, kita kan sekolah setengah hari.” Jawabnya semangat.

Aku tak mengira respon darinya begitu memuaskan batinku. Aku setuju, lalu ia segera berlari ke lapangan. Aku tak dapat menahan senyumku, mungkin sekarang aku seperti orang tak waras yang senyum sendiri.

Aku kembali ke kelas, tapi ngomong-ngomong Daffa sama Yuri ngapain ya berduaan di UKS. Perasaan sabtu kemarin Daffa sama Vio hari ini sama Yuri. Beruntung sekali. Hahaha..

Aku segera mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Athan.

Mengagumimu Dari Jauh (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang