Sebuah rasa menusuk seperti belati
Merasa di khianati sakitnya tak ada duanya
Bagai diam mencoba menahan
Tapi luka menganga membuat ku mengingatnya
Terimakasih rasasakit
Kau pernah ada untuk rasa senangku—///—
14:23
Aku merasa sebuah tangan memegang pundaku, dan aku mendongak dengan mata penuh air. Ternyata pelayan tadi yang menepuk bahuku.
Aku pasti telah mengganggu karena menangis disini, "Maaf ahjumma, aku... Aku tidak maksud mengacaukan cafe ini, tapi.... Aku, aku akan pergi...Ahjumma."
Dia menahanku sebelum aku berdiri. "Hai,, jangan, kau tidak perlu pergi, disini pun sudah tak ada orang," dia memandang pria yang tadi membaca buku sekarang sedang memakan sesuatu. "tenang, dia sedang memakai earphone"
Dan memang benar, dia sedang memakainya.
"mau berbagi?"
Aku mengangguk.
Wanita didepanku ini tersenyum lembut dan aku menghargainya. Dia mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya, "Shin bae hyun...panggil Ahjumma saja."
"Park jiyeon, Ahjumma."
"Oke... Tadi itu?"
"pacarku... Umm, maksudku dia bekas pacar, Eh... Dia bahkan tadi bilang, dia terpaksa padaku...." aku terisak kembali, dia telah bersama ku satu tahun ini, merasakan dia hilang, aku sakit.
"sayang, kau anak manis, pria itu sangat malang karena melepasmu."
Aku sedikit tersentak, dia memandangku dengan hangat, dan aku menggeleng, "Dia itu baik ahjumma, dia pria yang baik, tapi kakakku bodoh, dia masih menganggap ku seperti bocah ingusan, dia merasa aku masih perlu di tuntun Ahjumma" kataku bersama isakan kecil.
"sayang, kakakmu menyayangimu, makanya dia seperti itu,"
"yah, dia begitu. Tapi karenanya, dia memaksa seorang pria yang berpacaran dengan temanku untuk menjadi kekasihku. Itu keterlaluan," kudengar Ahjumma menarik nafas. yah, hidupku memang ironis.
"oke sayang, sebentar." dia izin lalu pergi ke dapur cafe.
Aku menunggu sembari mengedarkan pandanganku keseluruh isi cafe, disana, pria itu masih duduk ditempatnya, dan tentu masih sepi. Aneh, padahal makanan disini enak, dan tempatnya nyaman untuk nongrong, dan musik mengalun pun merdu-merdu.
Setelah beberapa saat, Ahjumma kembali dengan sebuah Cupcake ber-cream putih disebuah piring kecil berwarna hikau dan merah muda, dan ini sangat cantik, liurku mengalahkan air mataku. Oh ayolah!... Aku bukan bocah lagi tapi mengapa cara membujuk Ahjumma ini begitu sukses.
"Coba lah sayang, ini enak sekali."
Aku terenyum malu, "Rasanya itu bisa di percaya."
Ahjumma ini tertawa, dan mengangguk. Memperhatikan saat aku memakan sedikit demi sedikit cupcakes nya.
Rasa cupcakes ini benar-benar luar biasa. Ada manis, legit, wangi, ah... Putih ini adalah Cream keju. Enak seeeekkkkaaaaaalllliiii....

KAMU SEDANG MEMBACA
Magic Cupcakes
General FictionBagaimana jika suatu hari, semua dalam dirimu berubah saat kau bangun dari tidurmu, semua nya! Bahkan status mu?. jiyeon tak pernah nyangka, disuatu malam, semuanya sudah berubah, dia tak tahu bagaimana dan untuk apa semua itu terjadi. (BERLANGSUNG)...