Aku terbangun dipagi hari karena suara bising dari dering ponsel, lagu itu sangat menyeramkan, hanya berisi musik yang terdengar 'WROOOOOKKKKK' tapi saat aku melirik, suara itu sudah mati dengan sendirinya. Dan aku masih kaget saat sebuah tangan melingkar dipinggangku, dan satu tangan—mungil—lagi dilenganku.
Aku berada ditengah orang asing. Yang sekarang kusayangi. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Aku punya keluarga yang menyayangiku, dan aku menyayangi mereka. Dalam 1 hari satu malam. Hebat!
Semoga selamanya!
"Hmm.. Bangun pemalas!" bisiku pada kim Myungsoo karena muluku berada tepat disamping telinganya. Dia hanya mengerang dan memiringkan kepalanya hingga kupingnya tadi tertutup bantal. Dan sekarang hidungnya dan hidungku bersentuhan.
Aku berniat menjauhkan wajahku, tapi tangannya menahan tengkuku. Membuat aku memekik kaget. Dan dia terkekeh.
"selamat pagi," dia membuka mata dan masih menempelkan hidungnya dihidungku, nafas hangatnya menyembur, dan sungguh tak adil. Bahkan saat bangun tidur pun, nafasnya sangat wangi.
"pagi..." gumamku dan dia tersenyum. Lalu mengedipkan matanya dan semakin fokus.
"Kau... Ada yang aku mau tanyakan..." dia memandangku sangat serius, dan aku mengangguk. "apakah?.... apakah aku boleh.. Boleh...—"
"boleh apa?" ku sela ucapanya saat dia berambigu ria.
"Mencium mu?"
"HAH?" kurasa suaraku mengagetkannya.
"ssssuutttt!"
Aku menarik nafas sebanyak-banyaknya dan membuangnya kembali. Kalau ini aku harus bagaimana? bisa kulakukan? Aku pernah hampir berciuman. Tapi tak jadi karena... Aku lupa karena apa, yang jelas aku rasa semua tubuh ku terbakar akibat malu, Saat aku memandangnya lagi, dia masih menatapku penuh harap.
"Aku,,,, aku tidak bisa. Aku... Aku..."
Dia menggigit bibir atas dan bawahnya menjadi satu lalu melepasnya lagi, dan tersenyum padaku, "tak apa, aku paham. Rasanya aku sudah lancang meminta macam-macam," bisiknya.
Aku masih memandangnya dengan hidung yang masih menempel, dan dia pun sama. Dia semakin kebar tersenyum saat melihat raut ku memakin gugup. "sudah lah. Hahhh....." dia menghela nafas berat, membuatku merasa bersalah.
Dan Myungsoo menarik wajahnya kembali kedepan, dan memandang langit-langit. Membuat aku kehilangan, aku merasa sungguh pengecut sekarang, aku tak seharusnya begini, banyak seusiaku yang lebih parah dariku, tapi aku, ciuman ku pun bahkan segan ku berikan. Aku harus bagaimana?
Ah... Aku akan lakukan sesuatu
"Myung–"
"ah, aku mandi dulu, yah." sebelum ku ucapkan maksudku, myungsoo memotong dan berlalu pergi, membawa dirinya kekamar mandi dan menguncinya.
Aku terbengong, menggigit bibirku, pening!!
Ku tatap seyi dan memeluk tubuhnya, "sayang, eomma harus bagaimana?, oh ya ampun, kau sangat manis saat tertidur, ah..." aku berbisik, dan sedikit teralihkan saat memandamg wajah lucunya, hmmm...
Aku mendengar suara air semakin deras dikamar mandi. Lalu dengan pelan, ku turunkan kepala seyi ke bantal pink nya. Lalu turun dari tempat tidur. Berdiri ditengah kamar luas, membuatku sedikit ling-lung, kamar besar bernuansa kelasik, tentu saja cocok dengan myungsoo, ranjang berukuran king benar-benar membuat ku takjub, apa lagi interiornya. Kamar ini didominasi abu-abu dan putih, dan coklat untuk perabotan, dan warna merah untuk sofa didekat pintu dengan Televisi didepannya. Dan Bedcover merah tua dikasur cream.

KAMU SEDANG MEMBACA
Magic Cupcakes
General FictionBagaimana jika suatu hari, semua dalam dirimu berubah saat kau bangun dari tidurmu, semua nya! Bahkan status mu?. jiyeon tak pernah nyangka, disuatu malam, semuanya sudah berubah, dia tak tahu bagaimana dan untuk apa semua itu terjadi. (BERLANGSUNG)...