4. Perjumpaan Lebih Awal

6.6K 662 34
                                    

Aku berjalan menuju pintu keluar kedatangan, berjalan sambil mencari yang akan menjemput.

Ku edarkan pandangan, tetapi hasilnya nihil, apa penjemput belum datang.

Ku arahkan trolley ke kafe yang tidak jauh dari pintu keluar.

Setelah memesan, aku segera duduk dekat jalan agar memudahkan orang yang menjemput ku.

Aku mengambil ponsel dan menyalakannya, tetapi tidak ada sms atau telepon masuk.

Ku tekan nomer yang diberikan Mbak Windy, tetapi tidak diangkat.

"Ibu Menik?"

Aku mendongak dan mendapati seorang pria tersenyum pada ku.

Sesaat aku terpana lalu tersadar, sambil mengangguk dan menjabat uluran tangannya, aku mempersilakan pria itu duduk.

"Maaf, apa kita pernah bertemu?"

"Tidak, saya disuruh Ey..... maksudnya Ibu Antari menjemput Ibu Menik, saya Danis."

"Oh, saya kira Pak Trijaka yang diminta menjemput, Eyang Antari seharusnya tidak usah merepotkan orang kantor."

Aku melihat raut muka terkejut dari pria bernama Danis ini, apa aku salah bicara.

"Apa hubungan Ibu Menik dengan Ey.... Ibu Antari."

Apa pendengaran ku yang salah, aneh terdengar dia setiap kali menyebut nama Eyang Antari.

Aku menatap penasaran dengan pertanyaan itu.

"Maaf kenapa Bapak Danis menanyakan itu?"

"Maaf, yang saya tahu tidak ada saudara dari Ey... Ibu Antari bernama Ibu Menik."

Kenapa keingin tahuan pria ini, agak mengganggu.

"Saya bukan saudara Eyang Antari tentu saja, saya akan bekerja padanya."

"Saya heran, orang yang akan bekerja dengan Ibu Antari mendapat fasilitas seperti kamu."

"Maksud Bapak?"

"Mana ada calon pembantu naik pesawat kemari dan dijemput orang kantor."

"Maksud Bapak, pembantu dijemput orang kantor?"

"Dengar, aku kira siapa kamu sampai harus dijemput Trijaka."

Aku jadi tahu kenapa pria sok ini bicara seperti tadi, aku dikira pembantu, kalaupun iya kenapa dengan pekerjaan itu.

Aku sepertinya harus memberi dia pelajaran.

"Itu berarti Eyang Antari memanusiakan setiap asistennya, karena beliau adalah orang yang baik."

"Kamu benar, dia memang orang baik.

"Terlalu baik malah, menurut saya."

"Ya benar, kamu telah merasakan sendiri, naik pesawat kelas satu, pasti baru pertama naik pesawat."

Ingin sekali ku siram jus ini ke mukanya, ia ku lihat mengangkat ponselnya yang bergetar.

Ia lalu menyebutkan tempat kami minum.

Sesaat kami terdiam dalam dunia masing - masing, sampai seorang pria menyapa.

"Ibu Menik, saya Trijaka suruhan Ibu Antari untuk menjemput Ibu."

Aku lihat pria yang bernama Trijaka ini lebih sopan dari pria sok bernama Danis.

"Silakan duduk Pak Trijaka, mau pesan apa?"

Malas rasanya menawari pria satunya lagi.

"Seharusnya pria yang traktir, jadi saya...."

"Jangan tersinggung Pak, saya tidak bermaksud."

The Fox Lady                                       ( Completed )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang