Tembakan bola udara yang keluar dari mulut para mahluk berotak aneh menghujani mereka berlima secara beruntun seakan mereka dihujani oleh bola meriam dalam jumlah yang sangat banyak secara bersamaan sehingga menghancurkan sebagian lingkungan sekolah.
Kepulan asap dan debu tidak menunjukan keberadaan mereka berlima yang membuat para mahluk berotak aneh berhenti menembak. Namun samar-samar dari balik asap dan debu, tubuh mereka berlima ternyata masih terlihat yang menandakan mereka berhasil selamat dari serangan beruntun tadi.
Sesaat sebelum serangan tadi dilancarkan, Danzel membuat pelindung di sekitar mereka yang membuat mereka bertahan dari serangan beruntun tersebut.
"Hei, kalian, apa kalian baik-baik saja?" tanya Danzel yang terjatuh dengan luka di sekujur tubuhnya dan darah yang mengucur keluar dari mulutnya.
"Danzel. Hei Danzel bertahanlah." Ucap Raizei yang dengan panik menghampiri Danzel yang terluka parah dan sangat kelelahan.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa. Aku masih bisa menahan luka-luka ini. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau mahluk menjijikan seperti mereka bisa menggunakan tembakan distorsi seperti itu. Kita tidak boleh lengah, mereka bisa saja akan mengulang tembakan tersebut. Bagaimana kondisi ketiga anak tadi?"
Raizei menoleh ke belakang dan melihat ketakutan dan keputusasaan menguasai mereka bertiga hingga tidak sanggup lagi untuk berdiri.
"Apa kalian baik-baik saja?"
"Kak, apa kita benar-benar bisa selamat dari tempat ini?" Tanya Hans dengan penuh keputusasaan.
"Kami tidak akan membiarkan kalian mati di sini. Aku tidak akan mengulang kesalahan besar tadi untuk kedua kalinya. Aku janji."
Setelah mendengar ucapan dan melihat usaha Danzel dan Raizei dalam menyelamatkan mereka bertiga, Rick menguatkan hatinya dan berdiri sambil menghapus air matanya.
"Aku lelah hanya duduk dan menangis dalam keputusasaan sambil menyaksikan para senior mengorbankan diri mereka hanya untuk menyelamatkan anak-anak cengeng seperti kita. Aku akan membantu." Ucap Rick dengan penuh keyakinan di wajahnya
"Tapi Rick, kita sama sekali tidak memiliki kemampuan seperti yang mereka berdua miliki. Bahkan mereka yang memiliki kemampuan seperti itu malah terluka sangat parah seperti ini."
Hans memegang pundak Rick sambil meyakinkan kalau mereka benar-benar tidak bisa melakukan apapun.
Rick melepas genggaman tangan Hans dari bahunya. "Aku tidak peduli dengan kemampuan seperti itu. Yang aku tahu, aku bisa mencoba membantu mereka dan membawa kita semua keluar dari tempat ini."
Dalam kondisinya yang parah, Danzel tiba-tiba berdiri dan tertawa sangat keras.
"HAHAHAHAHAHAHAHA... Hei anak bodoh, dari tadi aku dengar mereka memanggilmu dengan nama Rick ya? Jujur saja, namamu terdengar konyol di telingaku. Tapi, aku suka dengan nyali besarmu untuk mati demi keluar dari tempat ini."
"Maaf kak, tapi aku tidak berniat untuk membuat kita semua mati di tempat ini. Tidak akan." Jawab Rick dengan penuh ketegasan dan percaya diri di wajahnya.
Mendengar semua hal yang barusan dikatakan Rick, Manda bangkit dan menghapus air matanya sambil membersihkan roknya.
"Aku juga lelah menangis dan ketakutan meskipun sekarang aku masih benar-benar merasa takut. Aku bahkan tidak bisa membuat kakiku berhenti bergetar. Tapi, aku akan mencoba semampuku untuk membantu kalian semua. Aku, aku...." ucapannya terhenti ketika Hans menyodorkan sebuah pipa besi kepadanya.

YOU ARE READING
PLUTONIUM
FantasyKata jenius menjadi dipertanyakan ketika IQ yang dimiliki manusia golongan tertentu melampaui batas normal yang membuat mereka mampu mengakses "Blank Spot" dalam otak mereka sehingga mereka mampu memaksimalkan kemampuan mereka melampaui manusia bias...