4. Maaf, Aku Belum Siap (Revisi)

988 49 4
                                    


"Fir, lo jadian apa gimana sama Adit?"

"Nggak."

"Kenapa? Jelas-jelas kalian saling suka."

Bagaimana mau menjelaskan jika semua sudah membuat kesimpulannya masing-masing? Lelah sekali rasanya kalau harus berantem terus-menerus dengan diri sendiri. Sepertinya, berdamai lebih baik dan akan terasa melegakan.

"Itu yang kalian lihat dari gue? Gue kelihatan suka sama dia?" Pelan-pelan aku mulai berani menyimpulkan perasaanku sendiri.

"Memangnya lo nggak suka sama Adit? Dia baik ke lo." Fia menimpali.

"Gue bingung, gue nggak tahu perasaan gue ke Adit yang sebenarnya kaya gimana. Gue nggak tahu maunya apa."

Teman-temanku masih diam, menyimak menungguku melanjutkan kalimatku.

"Gue cuma ngerasa nyaman sama Adit, nggak lebih. Dia asik, tapi sekali lagi gue cuma nyaman." Akhirnya aku berhasil menyelesaikannya. Aku sudah meloloskan semua rangkaian kalimat dalam otakku.

Diam. Tidak satupun wajah yang terlihat punya solusi. Aku yakin mereka juga sedang bertengkar dengan pikiran mereka. Helaan napas nahkan terdengar bergiliran. Menandakan keputusasaan bukan hanya aku yang merasakannya.

Terdengar helaan napas yang lebih berat kali ini. Aku tidak yakin milik siapa itu, tapi helaan itu terdengar penuh dengan amarah.

"Selama ini gue pikir lo serius sama gue. Ternyata gue jadi hiburan lo doang, ya."

Bagaimana bisa ... Adit tahu aku belum pulang dan di sini dengan teman-temanku? Bagaimana bisa dia mendengar semua percakapanku? Apa yang baru saja kukatakan? Semesta, tolong...

"Dit, gue—"

"Gue dengar jelas semuanya. Cukup tahu, Fir, nggak usah hubungin gue lagi." Dia pergi. Bersama amarah yang masih menggelegar hebat di dalam dadanya. Bersama luka yang ia tahan sendiri perihnya. Bersama mimpi, yang perlahan kuhancurkan sinarnya.

Suara-suara lain sahut menyahut memanggil Adit agar ia kembali dan sedikit mendengarkan. Sedang aku hanya diam, tidak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Tidak mampu mengendalikan rasa sakit yang juga bergemuruh di dalam dadaku. Bahkan tidak mampu menghentikan tetesan telaga di atas pipiku. Semuanya terjadi begitu cepat. Seolah semesta memaksaku memberi jawabannya sekarang.

Maaf, aku belum siap.

"Fir, kita antar pulang, ya."

* * *

Sekarang semuanya terlihat sama. Kelabu. Tidak cerah, tidak juga gelap. Persis di tengah-tengah. Tidak jelas. Seperti nyata, tapi juga seperti mimpi. Tidak jelas.

Mengapa sekarang baru terasa kalau aku membutuhkannya? Mengapa baru terasa sedih kalau tidak ada dia? Sebenarnya, semesta maunya apa? Itu juga tidak jelas.

Payah, semuanya abu-abu. Tidak ada yang menarik.

"Kalau lo marah, gue masih boleh dapat sinar matahari nggak, Dit?" Tentu saja, aku hanya berbicara dengan angin. Semuanya berakhir, aku tidak lagi boleh menghubungi Si Matahari itu.

"Nggak." Aku tahu betul jawabannya. Itu membuatku tersenyum saat mengingatnya. Apa dia benar-benar akan sepelit itu?

* * *

Hari ini langit mendung. Sepertinya ia memang memenuhi janjinya. Benar, dia laki-laki yang pelit. Padahal, katanya ia mau menyinari orang-orang.

"Fira, jangan lupa bawa payung, ya, Nak."

Kuharap hari ini hujan saja. Aku ingin sesuatu yang pasti. Setidaknya satu. Aku mau bermain dengan titik-titik air yang jatuh dari langit. Aku mau basah kuyup karenanya. Aku mau menangis di bawahnya. Aku mau berteriak bersama guruhnya. Supaya tak ada seorangpun yang tahu sedihnya.

Jalanan penuh sesak dengan berbagai macam mobil bersama kesibukannya. Mungkin semuanya waspada, kalau-kalau hujan melanda tanpa aba-aba. Hanya satu atau dua motor yang beberapa kali melintas. Tentu saja bersama jas hujan mereka. Semuanya bersedia, mungkin hanya aku yang bersiap seadanya. Bahkan berharap agar turun hujan saja.

Beberapa siswa terlihat buru-buru berlari agar lekas sampai ke kelas tanpa harus repot-repot berurusan dengan hujan. Bahkan tak sedikit yang menabrakku dari belakang. Aku benar-benar menggambarkan keputusasaan.

"Hati-hati, ya, Nak." Kata ayahku sambil melajukan mobilnya, kembali bertarung dengan kemacetan ibukota yang tak ada habisnya menyapa.

Semakin banyak benturan yang kurasakan sekarang. Tidak, bukan seseorang yang melakukannya. Benturan itu berasal dari atas. Berasal dari rintik yang menjelma hujan. Semakin deras dan semakin deras. Tapi, aku hanya diam dan menyaksikan semua orang berlarian kemana-mana. Seolah waktu berhasil beku.

Seseorang menarik lenganku tanpa sebuah izin dariku. Ia menarikku hingga aku sukses sampai di depan kelas dengan sedikit basah kuyup. Kemudian, ia berkata, "Harusnya lo pakai payung." Detik selanjutnya ia sudah berlalu berjalan menuju ke kelasnya.

Lagi-lagi, ia datang bersama mendung yang seolah melindunginya. Dia adalah orang yang sedang kupikirkan sejak terakhir kali aku dapat mendengar suaranya. Dia adalah orang yang membuatku seperti ini. Ah, tidak. Aku sendiri yang membuat diriku kacau.

"Fira, itu barusan Adit anter lo ke sini?"

"Iya, tadi nggak sengaja ketemu di lapangan."

Aku tidak sedang berduka, tapi seperti ini saja sudah cukup. Kutipan favorit dari drama favoritku, Goblin. Sepertinya kalimat itu cocok untuk keadaanku sekarang.

Waktunya menjadi Fira yang ceria dan terlihat baik-baik saja. Aku harus sadar, aku ini sedang bersekolah. Mana boleh terlihat murung hanya karena seorang laki-laki, bukan? Apalagi kalau Fajar—teman semejaku sekaligus teman baik Adit—tahu tentang hal ini. Bisa-bisa aku di-bully habis-habisan.

"Lo putus sama Adit, ya?"

Kaget 'kan? Sama, akupun begitu. Bisa-bisanya Fajar tahu.

"Pacaran aja nggak." Jawabku sambil mengeluarkan beberapa buku dan peralatan tulis yang kuperlukan.

"Adit cerita sama gue."

"Serius? Cerita gimana?"

"Ada deh." Begitulah Fajar. Dia suka sekali memancing. Terutama memancing emosi. Tapi, tidak di saat seperti ini. Sepertinya aku harus diam untuk beberapa waktu. Menjadi Fira yang benar-benar serius memperhatikan guru.

* * *

"Tutup buku kalian, kita lanjutkan minggu depan, ya, Anak-anak." Syukurlah pelajaran sudah usai. Sudah cukup untuk berpura-pura baik-baik saja. Setidaknya untuk hari ini.

"Pulang sama siapa lo?"

"Biasanya sama siapa?" Padahal dia tahu kalau aku terbiasa pulang sendiri.

"Mau bareng nggak? Gue kosong nih." Benar. Fajar punya sisi baik yang benar-benar tulus seperti ini.

Sebelum dia berubah pikiran, aku cepat-cepat berkata, "Yuk."

Rumahku memang tidak terlalu jauh dari sekolah. Tapi, kalau jalan kaki apalagi sendirian, akan terasa seperti jauh sekali. Sekarang Fajar sedang menuju ke parkiran dan aku disuruh menunggu di depan gerbang sekolah. Sendirian. Mengapa aku tidak boleh ikut, sih? Menyebalkan.

Beberapa motor melintas di depanku. Itu Adit dan teman-temannya. Sekarang aku tahu mengapa Fajar menyuruhku menunggu di sini saja. Fajar adalah teman yang benar-benar baik untukku dan untuk Adit.

Tak lama, Fajar tiba di depanku. "Gue nggak enak kalo Adit tahu gue anterin lo pulang, jadi gue suruh lo nunggu di sini."

Aku mengangguk. Tepat seperti dugaanku.

"Yuk."

SegitigaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang