7. Ajakan seorang Most Wanted

385 13 0
                                    

Hujan turun mengguyur bumi. Kulipat tangan didada, menyandarkan punggung pada tembok menunggu hujan yang tak kunjung reda. Ada beberapa orang nekad menerobos guyuran air hujan yang cukup deras itu demi waktu pulang. Sebenarnya aku bisa saja pulang hujan-hujanan seperti mereka, namun aku tak yakin mulut nenek akan diam saja jika melihatku pulang dalam keadaan basah kuyup. Aku semakin merapatkan jaket yang kukenakan karena dingin mulai menyerang menusuk tulang.

Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat Kanaya tengah termenung menatap curahan air hujan yang turun dari atas genting. Tak ada niat untuk memdekatinya aku lebih memilih memandanginya dari kejauhan. Tangannya erat memeluk tubuhnya sendiri sambil sesekali mengusap tengkuk nampak kedinginan. Melihatnya seperti itu, aku tak bisa lagi menahan langkah untuk memdekatinya, sebisa mungkin tak kutimbulkan suara ketika berada disampingnya. Bisa kulihat tubuhnya semakin menggigil, segera aku melepas jaket dan menanggalkannya dikedua pundak Kanaya. Menyadari apa yang kulakukan, Kanaya menoleh dan mengerjap kaget. Dia bergeming menatapku dalam kebisuan, sementara aku hanya tersenyum melihatnya. Sengaja aku tidak berucap sepatah katapun, karena aku tahu setiap kata yang keluar dari mulutku hanya akan mengundang emosinya. Kutepuk kedua pundaknya satu kali, menatapnya beberapa detik kemudian melenggang pergi menuju tempat asalku berdiri.

Kembali menyandarkan punggung pada tembok, aku mengarahkan pandangan ke langit kelabu disertai kilatan petir yang sesekali membelahnya.

"Arkan" seseorang menepuk bahuku dari samping. Menoleh, kudapati Kanaya tengah menatapku sembari melemparkan senyuman memabukannya yang kini benar-benar ditujukan untukku.

"Hm? Kenapa?"

"Makasih ya jaketnya, kamu tahu aja kalau aku lagi kedinginan"

Aku terkekeh, menundukan kepala sesaat, lantas mendekatkan bibir ketelinganya.
"Itu bukti kalau aku bener-bener suka sama kamu"
Tanganku menopang kepala dengan posisi sikut tertumpu pada tembok sekadar memandangi ekspresinya dari samping.

"Kenapa sih, dari tadi pagi ngomongnya itu mulu?" balasnya setelah beberapa lama sambil membuang muka. Tangannya rikuh menyematkan helaian-helaian rambut yang tertempel dipipinya. Dia terlihat salah tingkah.
Refleks tanganku ikut menyelipkan helaian-helaian rambut itu kebelakang telinganya, namun segera dia menepis tanganku yang mungkin menurutnya kurang ajar.

"Cuma bantuin doang, makanya ikat yang bener"

Dia tidak menggubris kata-kataku namun menuruti seruanku untuk membenarkan ikatan rambutnya sambil memutarkan bola mata.

Hujan mulai reda menyisakan rintik-rintik air yang masih setia menyirami rumput dan pepohonan. Sekali lagi kulirik Kanaya yang masih setia menapakan kaki disampingku.
"Hujannya udah berhenti nih, gak mau pulang?"

"Kanaya, pulangnya aku anterin ya"
Entah kapan dan dari mana tiba-tiba Bagas muncul, membuat Kanaya menahan jawabannya atas pertanyaanku. Kedatangannya benar-benar seperti hantu. Bagas sama sekali tidak mempedulikan eksistensiku, matanya menatap Kanaya lekat menunggu respon yang akan diberikan Kanaya mengenai ajakannya.

Kanaya melirikku sesaat dan kemudian kembali menoleh pada Bagas seraya mengangguk pelan tanda menerima tawarannya.

"Ya udah ayo!"
Kuturunkan pandanganku kebawah, melihat tangan Bagas menggandeng tangan Kanaya tanpa permisi.

"Tapi tunggu dulu" dia menarik tangannya dari genggaman tangan Bagas, membalikan badan dan menatapku.
"Ini jaket kamu..."

"Udah pake aja, nanti kamu masuk angin"

"Mm... Yaudah deh. makasih ya, aku duluan"
Tangannya terangkat rendah melambai pelan kearahku yang hanya kubalas dengan sebuah anggukan.

"Duluan ya" sahut Bagas mengikuti seraya mengangkat tangannya rendah diiringi senyuman miring yang tak kumengerti maksudnya. Mungkin itu senyum kemenangan setelah berhasil mengajak Kanaya pulang bareng.
Tangannya yang kurang ajar kembali menggandeng tangan Kanaya. Demikian juga dengan gadis itu, dia sama sekali nampak tidak terganggu dengan apa yang dilakukan Bagas.

Mengejar BidadariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang