Pindah dari tempat yang tadi adalah solusi yang tepat untuk mendinginkan hati yang sudah terlanjur kegerahan melihat para pasangan itu saling memamerkan kemesraannya. kini aku lebih memilih duduk diatas motor- nangkring di depan mini market sambil memakan kacang rebus yang baru saja kubeli dari seorang kakek yang saat ini menjajakan kacang rebusnya disampingku.
Aku menatap kosong jalanan sambil membuang kulit kacang kesegala arah tanpa mempedulikan umpatan orang-orang yang tanpa sengaja terkena lemparan kulit kacang dariku.
Terdengar deru motor berhenti disampingku. Menoleh, kudapati dua orang muda-mudi yang mungkin usianya berkisar empat belas atau tiga belas tahunan-- tengah membeli kacang rebus si kakek. kuperhatikan tingkah si perempuan yang terus menerus menempelkan kepala dibahu laki-laki berkacamata yang kuasumsikan itu pacarnya, tangannya sedari tadi tidak lepas menggenggam lengan laki-laki itu.
Cih! Sungguh muak aku melihatnya. Ya, kau boleh mengatakan aku iri pada mereka.Alih-alih pergi, kedua bocah itu malah pacaran disampingku sambil suap-suapan kacang rebus dengan mesranya.
Kuubah posisi tubuh menghadap kearah mereka, menonton apa yang mereka lakukan dengan tatapan monoton. Walau begitu mereka tetap tidak mempedulikan diriku, seolah dunia serasa milik berdua.
Kali ini aku tak mau pergi untuk mengalah, mengusir mereka adalah cara yang lebih efektif menurutku.Dengan sengaja aku melempar kulit kacang kearah mereka terus menerus. Satu kali mengenai pipi si laki-laki, dua kali mengenai lengannya, tiga kali mengenai rambut si perempuan yang langsung disingkirkan oleh si bocah cupu itu, keempat kali mereka menatapku kesal.
"Heh kalian, pulang gih! Udah malem. Cuci kaki, gosok gigi, terus bobo. Jangan pacaran mulu, nanti mama papanya nyariin loh." ucapku yang hanya dibalasnya dengan lirikan sinis. Walau begitu mereka tetap enggan untuk pergi.
Sekali lagi kulempar kulit kacang mengenai jidat si perempuan, membuatnya meringis dan berdecak kesal, hingga pada akhirnya merekapun memilih pergi tanpa melakukan perlawanan sedikitpun.
"Gitu sih orang jomblo mah, sirik aja sama orang pacaran." sahut si perempuan sambil menaiki motor. Kata-kata yang keluar dari mulut bocah biadab itu membuatku semakin naik darah, lantas tanpa pikir panjang kulempar kulit kacang kepunggungnya berkali-kali. Si bocah tengik itu menoleh dan memeletkan lidah kearahku sambil memeluk erat pacarnya."Woy!! Gue sumpahin habis ini hubungan lo berdua putus!"
"Eeh gak boleh gitu." sahut seseorang dari belakang. Suara itu, aku mengenalnya. Begitu menoleh, kulihat Kanaya tengah tersenyum kearahku, seketika itu juga jantungku berdegup kencang memompa desiran darah panas keseluruh tubuh.
"Hai." ucapku menyengir menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ngapain disini?""Habis belanja." tangannya mengangkat rendah satu kantong plastik belanjaan yang dibelinya dari mini market.
"Ngomong-ngomong kamu sendiri ngapain disini?""Cuma jalan-jalan, nyari udara seger. Dirumah suntuk."
Dia tersenyum seraya bergumam 'Oh'
"Kamu kenapa marah-marah sama orang yang tadi?""Ooh yang tadi, aku cuma ngingetin mereka supaya gak pacaran mulu. Ini kan udah malem, nanti kalau orang tua mereka pada nyariin gimana?"
Bibirnya mencebik mencemooh. Melihat ekspresinya seperti itu aku langsung menambahkan:
"Niat aku baik tahu, ngingetin mereka supaya cepet pulang."Lagi-lagi bibirnya mencebik dengan sebelah alis terangkat
"Bilang aja kamu iri sama mereka."Tepat. aku memang iri pada mereka.
"Enggak.""Terus ngapain kamu nyumpahin mereka putus segala?"
Aku menelan ludah susah payah mendengar pertanyaannya yang satu ini. Kulemparkan tatapan menyelidik kala aku menduga kalau Kanaya memang memperhatikanku dari tadi, mungkin cukup lama.
"Berarti dari tadi kamu merhatiin aku ya? Duh, Senengnya diperhatiin cewek cakep."

KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Bidadari
Teen FictionKupikir kau adalah satu-satunya yang nyata diantara perempuan- perempuan yang mendiami dunia khayalku, namun ternyata kau juga salah satu bagian dari mereka. Baiklah, kubiarkan kau hidup bahagia bersama orang lain, tapi bukan berarti aku menyerah. A...