2. Perkenalan Itu....

81 6 0
                                    

"Bang, kopi susunya satu sama cappucinonya satu." kata engkoh itu setelah merasa yakin aku merelakan kopi susu itu untuknya

Namun setelah aku berjalan beberapa meter, tiba-tiba aku merasa seseorang menepuk pundakku, dan ketika aku menoleh.... Ternyata engkoh-engkoh yang baru saja aku temui?

"Eh..." kataku reflek ketika menyadari dirinya menepuk pundakku.

"Tunggu cik! Saya mau kasih ini buat ciciknya." kata engkoh itu tiba-tiba sembari menyodorkan es kopi susu yang tadinya ingin kubeli.

"Eh,..." kataku kaget bercampur heran.

"Ah, tidak usah koh. Kopi susunya buat engkohnya saja." kataku sungkan menerima pemberian itu.

"Ah, nggak usah sungkan cik. Terima saja, kan cicik sendiri yang bilang kopi susu ini boleh saya yang beli, dan saya beli ini buat cicinya. Jadi tolong diterima." katanya sangat sopan.

Tidak enak menolak pemberian engkohnya tadi, akhirnya kuterima juga kopi susu pemberiannya.

"Terimakasih." kataku sembari menerima kopi susu dari tangannya.

"Iya, sama-sama." balasnya ramah...

"Jadi... Cicik baru pulang kerja ini?" tanya engkoh itu memulai percakapan baru.

"Ah, iya habis lembur." jawabku sopan.

"Owh..."

"Kalau engkohnya sendiri?" tanyaku balik sekedar basa-basi

Sembari tanpa sadar kami mulai berjalan beriringan entah sejak kapan.

"Iya, nih. Baru pulang lembur juga tadi." katanya sambil sambung bertanya.
"Tapi maaf, ngomong-ngomong cicik kalau pulang juga sering lewat sini ya?"

"Iya... Emangnya kenapa?" tanyaku.

"Iya gapapa sih. Cuma berarti rumah kita searah dong, kebetulan rumah saya dekat bundaran di gereja dekat sini. Kalau cicik rumahnya sebelah mana ya kalau saya boleh tahu?" tanyanya tiba-tiba.

"Emmm... Memangnya kenapa ya koh, maaf kalau saya boleh tahu juga."

"Iya, kalau cicik tidak keberatan saya mau menawarkan tumpangan, kan kebetulan rumah kita searah." katanya menjelaskan dengan sopan.

Aku mengangguk pelan sembari menjawab " Ah, nggak usah saya tidak enak kalau merepotkan engkohnya." jawabku sopan.

"Nggak perlu sungkan cik, kan emang kebetulan saja rumah kita searah. Yah, itu kalau ciciknya tidak keberatan lo ya saya antar."

"Iya, deh. Tapi bener nggak ngrepotinkan?"

"Iya, tenang aja cik." jawab engkoh itu sopan.

"Eh, iya ngomong-ngomong saya sampai lupa kalau kita belum berkenalan. Nama saya Nathan, kalau cicik namanya siapa?"

"Nama saya Rebeca." jawabku.

Lalu dari situlah awal aku berkenalan dengannya. Lelaki sederhana yang tak kusangka mengubah kehidupanku lewat sebuah pertemuan tak disengaja kala itu. Ketika kami sama-sama hendak membeli secangkir kopi, yang pada akhirnya justru memperkenlkan kami satu sama lain.

Secangkir kopi susu yang manis, siapa yang bisa menduga akan membawa arti lain dari sebuah pertemuan yang tak disengaja. Lambat laun ia mulai membawaku jauh. Menyusuri arti persahabatan yang tak dapat aku selami. Sebab dalam lubuk hati, aku akhirnya sempat menyadari bahwa arti persahabatan itu menggelitik sebuah batas, yang selama ini ingin aku pungkiri.

Tetapi kala itu, aku belum benar-benar menyadarinya. Aku hanya ingin menikmati saat bersama kawan baru. Mencicipi kopi susu yang selalu menemani setiap perjumpaan kami.

Bahkan aku sempat mentraktirnya minum kopi sebagai balasan dia mentraktirku saat itu. Namun siapa yang bisa menduga, kalau hal itu justru menjadi gerbang tempat kami semakin sering bertemu. Berbagi cerita, yang mungkin lebih dari sekedar teman biasa.

Sebab dibalik kata sahabat yang terucap, aku secara diam-diam telah menyerahkan hatiku seutuhnya sebagai seorang wanita, dibawah alam sadar yang tak pernah aku rasa. Begitu pula dengan dirinya yang seolah memberi harapan. Membuat diriku semakin larut dan tak pernah menyadari sejauh apa aku telah membiarkannya masuk. Mengisi kekosongan hatiku akan kehadiran pribadi lain yang kuharap bisa mengisi hari-hariku selama ini.

Maka ketika dirinya mulai hadir membawa warna pelangi yang berbeda. Dengan mudahnya aku mulai larut terbawa suasana. Terbawa oleh keinginan untuk mengisi kekosongan diri dengan pribadi lain yang kuharap dapat saling melengkapi dan mengisi kehidupan masing-masing. Namun salahkah?....

Bantu vote dan komen ya.... Menurut kalian ceritanya gimana?? Terlalu puitiskah kata-katanya?

Filosofi Pasangan KopiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang