Fika begitu senang ketika menerima pemberian motor dari Bintang. Pagi ini, sebelum dia berangkat sekolah.
Bintang memberikan motor padanya, hanya sebuah yang motor matic harga nya memang tidak seberapa tapi begitu berharga bagi Fika. Apalagi di sekitaran kompleks perumahan memang tidak ada kendaraan umum yang lewat, jadi ini bisa jadi solusi bagi Fika.
"Terimakasih banyak ya kak Bintang, aku suka banget" kata Fika dengan riang sambil meraih kedua tangan Bintang untuk mengungkapkan betapa bersyukur nya dia
"Iya, jadi kamu bisa ke sekolah sendiri. tapi hati-hati ya"Jawab Bintang, bagi Bintang ini menjadi solusi agar Rena tidak lagi mempermasalahkan Fika di antar atau di jemput.
Tiba-tiba Rena muncul entah dari mana membawa tatapan angker nya dengan kasar melepas pegangan tangan Fika pada Bintang, tentu saja kedatangan gadis sontak merubah suasana pagi yang tadinya sejuk menjadi tengang
"Gue udah tau kalau sebenarnya ini tujuan lo datang ke sini, apa ibu kamu belum puas menghancurkan rumah tangga orang tua gue, jadi sekarang dia mengirim lo ke sini untuk menjadi duri dalam rumah tangga gue?" Maki Rena pada Fika
"Ren, tadi itu aku cuma berterimakasih sama Bintang karena dia ngasih motor ini ke aku" Fika mencoba menjelaskan
"Ren" Bintang baru ingin menjelaskan tapi terhenti karena Rena langsung berbalik melotot kepadanya.
"Apa? lo mau belain dia lagi? kemarin lo nganterin dia ke sekolah, hari ini lo ngasih dia motor, dan dia pegang tangan lo, terus besok apa lagi, Bintang gue gak buta, gue bisa lihat semua perhatian lo ke dia selama ini, dan lo yang selalu jadi pahlawan bagi dia melindungi dia, lalu apa kabar dengan gue? lo pikir gue baik-baik saja harus melihat dia setiap hari? melihat dia dengan mudahnya menarik semua perhatian lo dan oma, melihat darah daging pembunuh orang tua gue merebut apa yang tersisa di hidup gue?" Emosi Rena meluap-luap, selalu seperti itu kalau ini tentang Fika. Baru saja kemarin mereka sedikit berdamai, tapi hari ini semua kembali kacau sepagi ini.
"Rena cobalah lihat dari sisi yang berbeda, ubah cara pandang kamu. Jangan selalu melihatnya dari arah yang sama" Pinta Bintang.
Bagi Rena di pandang dari sisi manapun dia tetap tidak bisa menemukan titik di mana Fika berhak untuk selalu di bela dan di lindungi oleh Bintang.
"Lo nyuruh gue mengerti dari sudut pandang lo, apa lo pernah mencoba mengerti dari sudut pandang gue? apa lo tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup lo dan penyebab kematian mereka hidup bahagia dan mencoba merebut apa yang tersisa dari hidup lo" Perkataan Rena kali bagaikan skat mat bagi Bintang, tak ada lagi kata yang mampu terucap dari mulut Bintang, tak tau lagi bagaimana cara membuat Rena mengerti, atau bagaimana cara agar Rena tidak tersakiti dengan semua ini.
Fika hanya menundukkan kepala, dia yakin apapun yang di katakan Fika tak akan memperbaiki keadaan, bahkan hanya bisa semakin memperburuk
Rena meninggalkan Bintang dan Fika yang masih berdiri terpaku di halaman rumah, dengan mobil ferrary warna putih yang selalu dia kendarai Rena menabrak motor matic yang baru saja di beli untuk Fika, motor itu langsung terjatuh ke tanah, dan tentu saja mobil Rena juga lecet.
kejadian itu cukup membuat Bintang, Fika dan oma Ratna yang berada dalam rumah tersentak kaget. Kemarahan Rena memang selalu di barengi dengan kelakuan anarkis nya. setidaknya kali ini Rena hanya menabrak motor, bukan menabrak Bintang atau pun Fika yang juga masih berdiri di dekat motor itu.
***
Rena menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi dan emosi yang meletup-letup. dia masih sangat kesal.
tanpa di duga nya, seekor anak anjing menyebrang jalan dan
Braaakkk
Mobil Rena menabrak anak anjing tersebut meskipun Rena sudah dengan sekuat tenaga menginjak rem mobilnya tapi dia tetap tidak bisa menghindari anak anjing tersebut.
Rena berhenti keluar dari mobil, dan bermaksud untuk menolong anak anjing tersebut.
Rena mendekat tapi anak anjing itu sudah tidak bergerak dan darah keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Seketika perasaan marah Rena berubah menjadi panik. tidak berselang lama muncul seekor anjing besar, sepertinya itu adalah ibu dari anak anjing yang di tabrak Rena. anjing itu langsung menggonggong dan ingin menyerang Rena.
Dewi fortuna. Seseorang menarik tangan Rena dan berlari, Rena langsung menoleh dan dia adalah Rendy
"Rendy?" gumam Rena, dia masih belum yakin dengan apa yang d lihat nya
"ayo lari" kata Rendy sambil menarik tangan Rena
"kita gak boleh lari kalo di kejar anjing, dia bisa mengigit" kata Rena
"jadi lo mau diam di tempat? dia itu sudah marah karena kamu nabrak anaknya" jelas Rendy menarik tangan Rena lebih erat dan berlari
"Aaahh.. jadi gimana dong dia mengejar kita" Rena mencoba berlari lebih kencang karena anjing tersebut mengejar mereka.
Rendy mencari cara lain, matanya melihat di sekeliling sambil terus berlari dan memegang tangan Rena yang juga ikut berlari bersamanya.
"Panjat pohon yang itu" kata Rendy sambil menunjuk sebuah pohon yang tak jauh dari mereka.
Rena langsung menambah kecepatan nya dan segera memanjat pohon itu bersama Rendy. Dia memanJat dengan cepat, entah karena rasa takut yang mendorongnya atau memang dia masih memiliki keahlian memanjat seperti yang sering di lakukan nya dulu bersama Rendy saat mereka tumbuh bersama.
"huffft... selamat" kata Rena dengan senyum saat sudah merasa aman duduk di ranting pohon meskipun anjing yang mengejarnya masih berdiri di bawah pohon dan menggonggong mereka
Rendy tertawa lepas, semangatnya sangat membara, dia merasa sangat senang bisa sedekat ini lagi dengan Rena dan melihat senyum di wajah Rena. senyum yang sangat di rindukannya, wajah teduh dan ceria yang sangat ingin di lihatnya, mata sendu nan indah yang selalu hadir dalam bayangan nya dan kebersamaan yang sangat dia rindukan 5 tahun belakangan ini.
"Lo masih jago manjat ya" Puji Rendy.
"Terima kasih ya udah nolongin gue" kata Rena dengan senyum manisnya, sejenak Rena lupa akan kemarahannya dengan Bintang, dia juga lupa dendamnya pada Rendy. Setelah berlari kencang dan memanjat pohon andrenalin nya memacu dan membuat senyum di wajahnya nampak lepas.
"Gue senang kita ada di sini, sejenak rasanya di kembali ke masa kecil dulu"
Rena terdiam, tak ada kata yang dapat dia ucap. Dalam hatinya terasa lebih ringan, mungkin dengan memaafkan Rendy bisa membuat hatinya lebih lega. Mungkin saja itu akan membuat nya merasa lebih baik. Atau bisa saja itu akan membangkitkan kembali semangat Rena. Mungkin.

KAMU SEDANG MEMBACA
JELAGA HATI (REVISI)
RomansaRena itu troublemaker banget, belum lagi kebiasaan nya yang suka dugem, mabuk-mabukan, temperament dan terlibat dalam masalah. Pokok nya dia adalah paket complete pemberontakan anak remaja. Wajar jika oma nya memaksa dia menikah untuk bisa memperba...