7. Mengatakan yang Sebenarnya

54 5 0
                                    

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hingga tiba saatnya untuk pulang kantor, yang berarti Nathan akan datang menjemputku. Supaya kami bisa sama-sama menikmati kopi susu lagi di taman, yang entah mengapa kegiatan ini menggelitik sebuah pemikiran lain.

Tentang kesempatan mengutarakan perasaanku secara terbuka pada Nathan setelah saling kode kemarin. Tapi satu hal yang mengganjal hatiku. Apa itu tidak terlalu cepat ya? Karena jujur aku masih terlalu takut jika akhirnya berujung kecewa.

Sekalipun aku tahu, bahwa aku harus segera memaafkan masalalu. Supaya tidak menyakiti hati orang lain yang mungkin tulus menyayangiku. Namun hal itu bukan perkara mudah.

Mengingat terlalu dalam rasa sakit yang pernah ada. Walaupun aku paham jika dalam menjalin sebuah hubungan tidak bisa kita menghindari gesekan. Tapi, ya gesekan itu terlalu mengena karena bukan dikarenakan apa yang kami cari berbeda maka aku tak bisa bersama orang yang aku suka.

Malah aku terpaksa merelakan hubunganku kandas oleh alasan dangkal mengenai perbedaan warna kulit kami. Bukan alasan kuat seperti dasar prinsip atau pandangan hidup yang kami miliki. Membuat aku masiho sulit menerima, mengingat Nathan adalah orang yang satu warna kulit dengan dia yang pernah meninggalkan kata cinta.

Sejujurnya aku memang belum bisa menerima bahkan untuk diriku sendiri bisa menaruh hati pada Nathan. Aku merasa seperti takdir mempermainkan suratannya untuk diriku. Seolah aku ini wayang yang dengan sekenanya diceritakan seadanya, tetapi apakah memang demikian?

Jika sebuah cerita dijalankan sebuah tokoh. Tidakkah setiap tokoh memiliki peranan penting sekali pun hanya menjalankan bagian kecil didalam cerita. Lalu kalau demikian, apa yang memang ingin takdir ceritakan melalui diriku?

Karena aku merasa begitu ganjil menerima perasaan yang aku dapati sendiri. Sampai Nathan datang menjemputku pulang, aku masih merenungkan segalanya. Sampai terbesit untuk mencoba mengutarakan kejujuranku padanya.

Mencoba mencari celah mengisyaratkan kegelisahanku padanya. Berharap dia mengerti dan mau mempertimbangkan semuanya.

Lalu saat itu pun tiba, saat kami kembali duduk santai berbincang berdua ditaman. Ditemani segelas kopi susu seperti biasa.

"Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya seperti biasa tiap kami bertemu.

"Aku baik. Kalau kamu sendiri gimana?" tanyaku balik.

"Aku baik. Tapi jujur kok kayaknya kamu lagi ada sesuatu...yang lagi dipikirin." katanya hati-hati.

"Emm... Entahlah mungkin masalah di kantor tadi." jawabku sekenanya.

"Ya, klo kamu ga keberatan. Kamu bisa kok cerita ke aku. Siapa tau aku bisa ngasih masukkan." katanya.

" Emm.. Ya, sebenernya masalahnya nggak terlalu penting sih. Cuma ngena aja pas tadi ngobrol di kantor. Kita crita-crita, tentang pernah nggak nyesel suka sama orang." kataku

"Terus, kamunya responnya gimana?" tanyanya lagi.

"Ya, aku jawab enggak. Nggak pernah nyesel suka sama orang. Klo kamu gimana Than?"

"Klo ga pernah alesannya apa?" tanyaku.

"Iya, aku tahu aja apa yang sebenernya aku cari." katanya.

"Emm... Memang yang kamu cari apa?" tanyaku lagi.

"Iya, jujur aku memang pernah suka sama orang, dan aku akui itu nggak cuma sekali. Tapi biarpun aku menjalani dengan satu dan yang lain aku selalu maksimal." katanya.

"Kok bisa? Memang apa yang kamu lakuin klo suka sama orang?" tanyaku lagi.

"Jadi diriku sendiri aja. Aku nggak berusaha buat jadi orang yang dia suka. Walaupun aku tahu kalo hal itu bikin ceweknya tahu lebih awal tentang kekuranganku. Tapi menurutku kalau memang mau tampil baik didepan pasangan atau orang yang kamu suka, itu tidak dengan berpura-pura menjadi orang lain. Cukup koreksi diri dan jadilah dirimu sendiri. Karena andai kata ketanyanya
itu membuktikan kalau memang tidak bisa bersama. Apakah kita harus berhenti untuk jujur pada diri kita sendiri?" tanyanya

"Ya, enggak sih..."

"Setidaknya dari situ kamu juga jadi tahu. Sebenernya pasangan hidup yang kamu butuhkan itu seperti apa? Misal antara orang lapangan sama orang kantor, kira-kira butuh pasangan yang kapasitasnya sama atau beda?" tanyanya

"Iya, beda sih... Lebih berat orang lapangan. Soalnya ceweknya mesti mandiri kalau ditinggal."

"Yups, sekarang kamu pahamkan. Tapi tetap saja semua bisa langsung tahu. Kalau kamu sejak awal mau jujur dengan pasanganmu. Dimulai dari berani menyatakan perasaan secara terang- terangan." katanya.

"Kok gitu?"

"Ya gitu. Gampangannya gini, klo semisal ngomong suatu hal yang kamu suka aja nggak bisa gimana mau ngomongin hal yang nggak enak coba? Ngomongin prinsip misalnya? Pasti takut."

"Iya, bener sih."

"Makannya klo semisal suka sama orang. Omongin aja. Setidaknya kalau orang itu bukan orang yang sungguh-sungguh serius mau njalani hubungan sama aku dia pasti mundur. Tapi kalau dia serius pasti berusaha buat mempertimbangkan." katanya lagi menjelaskan.

"Ye... Memang kamu udah praktek apa kok sampe bisa menyimpulkan sejauh itu?" tanyaku lagi menggoda.

"Iya, ini yang sekarang lagi aku lakuin. Buat nanyain kesediaan orang yang aku suka njalani hal itu berdua."

Blush
....

Pipiku langsung merah saat ini, dan yang jadi pertanyaan sadarkah dia dengan sikapnya yang seperti ini? Aku sungguh tak menyangka justru hal ini akan terjadi lagi.

Dirinya seperti belum puas membuat diriku selalu tersipu malu. Tetapi yang lebih rumit adalah... Bagaimana caraku menjawab perasaannya. Sedang bibirku terkunci karena debar-debar yang aku rasa saat ini.

Aduh, gimana nih?
.......

Bantu vote dan komen ya.... Sekalian aku minta sarannya. Menurut kalian cerita ini gimana? Si Rebeca mestinya gimana menanggapi perasaannya Nathan....??? Bisa ga ya langsung bilang iya.... Bantuin ngasih saran ya...

Filosofi Pasangan KopiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang