Dari barisan paling belakang, di antara kerumunan siswa yang mulai bubar, terlihat Bintang sedang berdiri menatap Rena.
Rena baru bisa melihat Bintang dengan jelas setelah para siswa itu bubar. Melihat sepasang bola mata indah indah itu menatap dengan senyum kepadanya membuat Rena mengumpat kasar dalam hati. Bintang benar-benar datang untuk menyelamatkan Fika, begitulah yang ada di benak Rena.
"Kenapa lo harus datang nyelamatin dia, kenapa lo harus begitu peduli pada dia?" Lirih Rena dalam hati.
Bintang jalan mendekati Rena, Fika, Dinda, Sefa dan Rendy yang masih diam terpaku di tengah lapangan. Melihat Bintang berjalan menuju ke arahnya, Rena langsung berencana untuk beranjak pergi meninggalkan lapangan.
Rena tidak ingin tinggal lebih lama dan membuat dirinya semakin marah melihat perhatian Bintang ke Fika, entah lah itu marah atau cemburu tak ada yang bisa membedakannya.
"Rena" panggil Bintang begitu melihat Rena membalikan badan nya dan ingin pergi.
"Gue gak ada urusan sama lo, kalo lo mau marahi gue tentang apa yang menimpa Fika hari ini itu bukan tanggung jawab gue" Kata Rena tanpa balik menatap Bintang sedikitpun.
"Hai kak Bintang" sapa Sefa dengan centil kepada Bintang. Dalam kondisi seperti ini masih sempat-sempatnya
Dinda langsung menyikuk Sefa untuk memberinya kode "ini tuh bukan saat yang tepat, lo gak lihat suasananya lagi tegang" Bisik Dinda.
"Minggir gue mau pulang, lama-lama di sini gue semakin darah tinggi" lanjut Rena kemudian melangkah meninggalkan lapangan.
"Ren, kita pulang bareng" Ajak Bintang
"Males" Jawab Rena singkat
Bintang mengerti tidak ada hal yang dapat merayu Rena untuk pulang bersamanya, apa lagi pagi tadi Rena marah besar padanya.
Tentu saja tidak ada yang bisa merayu nya kecuali paksaan
Bintang langsung berlari mendekati Rena dan tanpa di duga dia langsung mengangkat Rena seperti akan menculiknya.
Sontak bukan hanya Rena yang kaget, tapi Sefa, Dinda, Rendy terutama heran dan Fika juga.
"Bintang lo apa-apaan sih" Rena protes tapi tidak berdaya melepaskan dirinya dari Bintang karena Bintang memegangnya dengan erat di tambah lagi tubuh kurus Rena juga terasa lemas di gendong Bintang, bagaimana tidak kelakuan Bintang jelas membuatnya lemas dan tentu saja membuat wanita lain cemburu melihatnya, bukan hanya wanita tapi juga pria lain yang diam-diam menyukai Rena atau pun yang terang-terangan menyukai Rena, seperti Rendy misal nya.
"Kita harus pulang bersama, ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersama kamu" Ujar Bintang sambil terus menggendong Rena menuju ke mobilnya
"Dia om nya Rena kan? bagaimana mungkin om bisa melakukan itu pada keponakannya, mereka tampak romantis, lagi pula sejak kapan Rena punya om?" Rendy mulai curiga, pertanyaan beruntun di arah kepada Dinda, jelas Rendy merasa cemburu melihat itu.
"Bintang itu anak angkat oma Ratna, lagian lo kok sewot sih" Jawab Dinda, senyumnya mengembang merasa begitu senang melihat Bintang dan Rena hampir akur.
"Om angkat dan adik tiri, kenapa begitu banyak orang baru yang hadir dalam hidup Rena, padahal gue dan Rena itu sahabat sejak masih di kandungan" gumam Rendy
"Itu artinya lo bukan sahabat yang baik" Timpal Sefa
"Tapi kenapa om nya sangat tampan, itu membuat gue kesal karena mereka berdua terlihat sangat serasi seperti pasangan" Rendy masih dengan rasa cemburu nya, dia melihat memang ada yang lebih dari sekedar hubungan om dan keponakan antara Rena dan Bintang.
Bukan hanya Rendy yang pernah protes kenapa harus anak angkat oma Ratna mesti begitu tampan
"Bintang itu adalah malaikat pelindung buat Rena" jawab Dinda
"Ya sudah lah, karena berdua adalah om dan keponakan maka gue gak perlu khawatir, Rena tetap tercipta untuk gue, dan kita akan bersama lagi seperti yang dulu, saat itu terjadi gue gak akan pernah melepaskan dia lagi" Rendi sangat yakin dengan perkataan nya
"Bangun woiii, ini tuh masih siang bolong, gak usah mimpi" Sefa memukul pundak Rendy untuk menyadarkan
***
"Bintang lo apa-apaan sih, semua orang melihat kita" Rena masih protes tapi Bintang tidak menghiraukannya, saat ini mereka sudah ada di dalam mobil Bintang.
"Pasang sabuk pengaman" Perintah Bintang.
Renna juga tidak mau mendengarkan perintah Bintang, dia tetap diam dan memasang wajah cemberut.
"Gue gak mau ikut sama lo, gue gak akan mau bicara sama lo, gue gak mau menerima permintaan maaf dari lo dan gue gak akan mau mendengarkan perintah dari lo" sergah Rena membangkang
"Ya udah kalau kamu tidak mau, aku akan memaksa" Ancam Bintang dengan senyum smirk.
"Lo gak akan bisa memaksa gue" Tantanf Rena sambil mencoba membuka pintu mobil Bintang, tapi Bintang sudah dengan sigap mengunci pintu mobilnya sehingga Rena tidak bisa keluar.
"Actually, i can" seusai berkata demikian, Bintang menyandarkan tubuh Rena di kursi dan memasangkan sabuk pengaman pada Rena.
Rena terpaku, jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah. Sekali lagi kelakuan bintang membuatnya tidak mampu mengendalikan getar di dadanya. Sikap Bintang selalu mampu membuatnya seperti tak di pegang oleh gravitasi.
"Aku sarankan kamu tetap diam, kalau tidak mau saya berbuat lebih nekat" Kata Bintang sambil menatap wajah Rena dari jarak yang sangat dekat sehingga membuat darah Rena terasa semakin panas dan jantungnya seperti akan melompat keluar.
Rena membisu, tidak ada kata-kata yang dapat dia ucapkan dia hanya bisa menelan ludah
"Anak pintar" Bintang mengakhiri kalimatnya dengan mengusap kepala Rena.
"Kita mau kemana?" Rena bertanya, dia akhirnya menyerah pada egonya dari pada kena serangan jantung mendadak karena sikap Bintang
"Mengajak mu jalan-jalan" Jwab Bintang, dia ingin menebus rencana yang kemarin berantakan karena mereka berdua ketiduran.
"Kemana? Makan? gue lagi gak laper" Kata Rena
"Bukan" Jawab Bintang singkat.
"Lalu? shopping? gue lagi gak mood shopping"
"Bukan juga" jawab Bintang lagi.
"Lo tidak perlu melakukan apa-apa untuk minta maaf. Gue gak butuh"
"Aku bukan mau minta maaf"
"Lalu"
"Nanti juga kamu tau"

KAMU SEDANG MEMBACA
JELAGA HATI (REVISI)
RomanceRena itu troublemaker banget, belum lagi kebiasaan nya yang suka dugem, mabuk-mabukan, temperament dan terlibat dalam masalah. Pokok nya dia adalah paket complete pemberontakan anak remaja. Wajar jika oma nya memaksa dia menikah untuk bisa memperba...