Keluargaku

112 2 5
                                    

"Fiq, nanti aku, Bintang, Radit mau main ke rumahmu nih," kata Danang, salah satu temanku.

"Untuk apa?" tanyaku, basa-basi.

"Tentu saja untuk bertemu kakakmu," jawab Bintang yang langsung mendapat anggukan kepala dari Danang dan Radit.

"Hah?" responku sedikit terkejut dengan kejujuran mereka bertiga. "Aku heran sama kalian. Suka sekali bertemu sama kakakku," sahutku.

"Kakakmu itu perfect! Sempurna!" seru Radit dengan semangat tinggi.

"Betul, betul," sahut Danang dan Bintang serempak.

"Bentuknya yang kecil dengan wajah yang imut dan sikapnya yang manis sekali," kata Danang disusul dengan anggukan kepala dari Bintang dan Radit.

"Keusilannya yang berhasil membuat siapa pun langsung merindukannya padahal baru berpisah beberapa detik," kata Radit dan lagi-lagi langsung mendapat anggukan dari Danang dan Bintang.

"Di tambah lagi, umurnya yang sudah tua. Membuatnya tahu cara menggoda cowok seumuran kita," kata Bintang.

"Betul sekali!" seru Danang.

"Bravo!" seru Bintang.

"Intinya kakakmu itu sempurna!" seru Bintang seraya menunjukkan jempol ke arahku.

Aku hanya bisa menghela napas, melihat ke tiga temanku yang sudah menjadi budak kakakku. Yah, salahku juga sih, kenapa juga aku mempertemukan mereka dengan kakakku? Tidak perlu menunggu waktu lama, mereka langsung klepek-klepek deh sama kakakku. Kuhela napasku untuk yang ke dua kalinya saat melihat ke tiga temanku itu asyik mengobrol tentang kakakku. Seandainya ada Polisi lewat, pasti mereka sudah ditangkap.

"Sayang sekali, kakakku hari ini ada wawancara kerja," jawabku malas.

"Apa maksudmu?" tanya Danang, konfirmasi kalau-kalau apa yang barusan dia dengar tadi keliru.

"Intinya hari ini kakakku tidak ada di rumah," jawabku.

"Bohong," sahut Bintang dengan nada tidak percaya.

"Tidak mungkin," sahut Danang dengan ke dua tangan memegang kepalanya.

"Tidak!!!" seru Radit yang langsung menarik perhatian seisi kelas.

Untungnya lagi istirahat, jadi mereka bertiga tidak disuruh ke luar kelas. Terkadang aku berpikir, kenapa aku bisa berteman dengan ke tiga orang alay ini.

"Jika kalian masih mau main ke rumahku, tidak apa sih. Lagipula, cuma aku sendirian nanti di rumah," kataku sambil memasukkan buku catatan Biologi ke dalam ransel hitamku.

"Ehhh..." respon Danang sambil menunjukkan wajah malas.

"Jika tidak ada Kak Ade, percuma," kata Bintang sambil menekankan kata "percuma".

"Lagipula kita masih normal tahu. Bukan humu," kata Radit sambil manyun.

"Emang, lu kira aku kagak normal!" seruku. Beneran deh, ke tiga orang ini, batinku geram.

"Kakakmu lagi sibuk cari kerja ya, sekarang..." kata Radit.

"Begitulah," jawabku pendek.

"Fiq, jujur saja nih. Dari dulu aku selalu penasaran. Apa Kak Ade itu anak adopsi?" tanya Danang.

Lagi-lagi pertanyaan ini lagi.

"Kakakku bukan anak adopsi," jawabku.

"Berarti kamu yang anak adopsi?" tanya Bintang.

"Aku juga bukan anak adopsi," jawabku.

"Lah kok beda sekali? Tidak ada mirip-miripnya dengan Kak Ade," kata Radit dengan nada protes.

"Jangan tanya aku. Tanya ke Sang Pencipta sana," jawabku.

Begitulah. Ketidak miripan aku dengan kakakku sangat lah jauh. Bahkan kebanyakan yang melihat foto keluargaku pasti pada mengangkat alisnya sebelah, karena terlalu bingungnya. Jadi begini, ayahku itu memiliki tinggi 180 cm dengan wajah anak SMA. Padahal umurnya sudah 53 tahun. Sementara ibuku yang baru berumur 50 tahun sudah seperti nenek-nenek wajahnya. Dulu waktu aku masih SD ibuku juga sudah sering dikira nenekku. Jadi kalau ada yang belum kenal keluargaku, ayahku dikira anaknya ibuku yang masih SMA, aku dikira suami ibuku dan kakakku dikira anak bungsu yang masih SD. Ibuku bahkan pernah mengatakan kalau dia merasa beruntung kalau Kak Ade diberi wajah imut-imut, walau untuk umurnya yang sekarang itu sudah tidak cocok lagi.

Jadi, jika ayah dan ibu pergi bersama pasti dikira nenek dengan cucunya, begitu juga saat ibu pergi ditemani Kak Ade. Jika ayah sedang bersama Kak Ade, sering dikira kakak-adik. Kalau aku dan Ibu sering dikira suami-istri. Beginilah penampilan keluargaku yang bentuknya di luar kata normal. Ajaib kan ya? Meski begitu, mereka adalah keluargaku.

Kehidupan Sehari-hari Adik Laki-lakiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang