Lullaby↪Thirteen [END].

1.3K 167 61
                                    

Dua bulan berlalu. Semua tampak sama entah dari bulan, minggu, hari, jam, menit bahkan detik yang lalu.

Tapi maaf, ralat segera dimulai.

Hari, bahkan bulan ikut bersilih ganti. Yang lalu, biarlah berlalu. Mari kita mulai masa berikutnya dengan hal yang berbeda.

Berbeda? Ah iya! Ada tiga perbedaan penting selama cerita ini berlangsung.

Pertama, Ji Hoon tak lagi merengek manja---makan atau sebagainya. Dia melakukan sendiri apapun yang dibutuhkan. Semua itu, Min Ji yang mengajari. Sedangkan Yong Guk, dia memperlancar proses mental milik pasien yang dijaga sejak kurang lebih dua setengah bulan lalu hingga sekarang.

Kedua, Min Hyun tak pernah melarang sang adik untuk datang ke rumah sakit. Terserah Min Ji, dia mau menginap atau bermain bersama pasien kesayangannya asal tak mengganggu proses pembelajaran.

Ketiga, Min Ji terus melirik jam di saat titik penghabisan jam pelajaran. Gadis itu sekala menunggu kapan bel pulang sekolah berdering. Entah mengapa, kakinya gatal guna menuju rumah sakit khusus manusia kehilangan mental itu.

Stop! Sebelumnya... Menunggu bel pulang sekolah?

Kebetulan..

Seperti biasa, bel menggema di sekujur bilik sekolah. Sedikit duka bagi guru karena proses pembelajarannya sudah berakhir. Justru sebuah kehormatan dari sang murid untuk petugas piket yang memencet bel pulang sekolah.

Min Ji berhenti melirik arloji berwarna pink pastel. Sudut bibirnya mengembang begitu memandang guru yang beranjak dari kelas. Cepat-cepat memasukkan buku ke dalam tas secara asal, gadis itu langsung berdiri begitu semua sudah rapi.

"So Mi. Aku duluan, ya!" Wanita kini berumur enam belas tahun berteriak pada teman yang duduk dua bangku dari belakang. Dia malas bahwasan kakinya harus terangkat menuju tempat pemudi 'Jeon, sebab jauh dari pintu kelas. Setelah berujar, Min Ji melambai dan berjalan keluar.

So Mi mendongak sambil memproduksi bentuk kerucut dari bibirnya. Melihat penipisan keberadaan Min Ji dari dalam kelas, pemudi itu lekas bergeming kencang. "Kau mau ke mana, huh? Meninggalkanku begitu saja?"

Wanita marga Hwang menghentikan langkahnya lantaran mendengar pertanyaan lantang dari Jeon So Mi. Amat-amat sangat terpaksa, Min Ji berbalik sembari menghela napas gusar sebanyak satu kali. "Kalau begitu, kau mau ikut? Aku mau ke suatu tempat."

So Mi mengangguk. Dia juga merapikan buku serta peralatan sekolah dengan senyum yang mengembang. Langkah kecilnya digunakan untuk berlari guna proses gerak cepat---kasihan kalau Min Ji menunggu lama. "Ayo!" Ajaknya begitu pergelangan tangan sukses melingkar di pergelangan tangan wanita 'Hwang.

---

Perjalanan berlangsung kurang hikmat. Pokok utamanya, Min Ji merasa risih lantaran lima pertanyaan yang sama dari teman di sebelah. "Sudahlah, nanti kau juga tahu." Itulah jawaban paling tepat.

Gadis bermarga 'Jeon mengerutkan kening begitu dirinya memasuki bangunan besar juga menelan saliva kuat-kuat. Memandang tulisan kapital 'Rumah Sakit Jiwa' membuat rambut tangannya berdiri sontak. Mulut So Mi terasa membeku, padahal dia ingin bertanya lagi. Alhasil, pemaksaan membuka suara adalah hal paling ampuh di saat genting seperti ini. "R-Rumah sakit jiwa? K-Kau mau bertemu siapa? Kak Min Hyun?"

Min Ji menggeleng. "Bukan. Kita akan bertemu dengan pasien yang aku sayangi." Dia menampakkan deretan gigi putihnya. Menyebut kata 'sayang', membuat perutnya tergelitik.

So Mi menaikkan sebelah alis sembari menetralisir apa yang sahabatnya tutur barusan. Napas yang terhembus lebis gusar dari biasanya, juga rambut tengkuknya berdiri--percis terkena sengatan listrik. "Sungguh demi apa pun, aku menyesal telah mengikutimu, Hwang Min Ji. Sebenarnya kau mau bertemu siapa, huh? Apa mungkin..." Terpaksa wanita itu menghentikan perkataan karena tak mengingat lanjutan kata yang ingin diucap. Intinya, So Mi berpikir dulu sebelum melanjut.

Lullaby || Park Ji Hoon ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang