-Author POV-
Pukul 04.00, di kamar Raino...
Nddrrrtttttt... Ndddrrrrttttt..... Nddrrrrrtttttt..... Tiruring... Tiruring.... Ndrrrttttttt... Ndrrtttt.....
Ponsel milik Raino terus berbunyi memecah lengang pagi. Juga memecah teriakan Day yang masih tertidur pulas di kasur sebelahnya.
"Raaaaaiiiiinnnnn....! Apa handphonemu sudah bosan hidup?!??"
Demi mendengar teriakan Day, ia terpaksa membuka setengah kesadarannya. Lantas meraba-raba meja di sebelahnya, berusaha mengambil ponsel.
Chat line dari Free.
[KuFREEt]
Kak Rain, apa Kak Noha menginap di kosanmu semalam??
Kakak apa kau masih hidup????
KAKAK KENAPA KAU TIDAK MEMBALAS CHATKUUUUUU?????
Raino seketika mematikan ponselnya.
Sementara itu, pukul 04.10, di rumah Blue...
Nddrrttt.... Nddrrrtttttt.... Nddrrrrrrrttttttt.... Ndddrrrtttt... Nddddrrrrttttttt.... Ndddrrtttt....
Blue yang masih membantu ibunya mengupas bawang hanya mampu melirik ponselnya sekilas, tidak berani mengangkatnya. Sementara ibunya yang sejak tadi memotong sayuran di atas meja kini semakin risih dengan getaran ponsel Blue yang tiada habisnya.
"Astaga, Blue! Kenapa ponselmu sudah berisik sekali di waktu sepagi ini?"
"Emmm... aku... akan mematikannya, Ibu." Ucap Blue sembari mengambil ponselnya dan bergegas ke kamar. Ia lalu membukanya sejenak.
10 telepon dari Free, dan pesan dengan jumlah tak terhingga juga dari Free.
[Kak Bebas]
Blue...
Dimana kau?
Blue...
Jawab pertanyaankuuuu!
BLUE.....!!!!!!
HARUSKAH AKU MENELEPON KAKAKMUUUU???
HEY, BIRUUUUU!!!!
(Langsung scroll down ke bawah....)
...
...
...
...
Apa Kak Noha bersamamu?
Blue lantas bergegas mematikan ponselnya, begitu ibunya berteriak memanggil agar ia segera kembali untuk menyelesaikan tugasnya mengupas bawang.
Kemudian pukul 04.30, kembali di kamar kos Raino...
Kini giliran dering ponsel Day yang memecah teriakan Raino.
"Daaayyyyy....! Apa handphonemu sudah bosan hidup?!!!"
Tanpa perlu repot-repot, Day sudah membanting ponselnya sendiri.
***
Siangnya.
Aku berjalan secepat yang kubisa menuju studio. Aku sedang buru-buru, panik, dan berbagai prasangka buruk lainnya yang menemani perjalananku siang ini. Berkat Pak Ketua. Hah, awas saja kalau dia pulang nanti! Aku akan makan banyak biskuit dan menyisakan remah-remahku di atas kasurnya!
Aku membuka pintu studio kemudian, masih dengan wajah panikku.
"Hei, kalian! KEMANA SAJA KALIAN, HAH!? KENAPA TIDAK ADA SATUPUN DARI KALIAN YANG MEMBALAS CHATKUUUUU????!!!!!" Aku berteriak, mengomel, sembari masih terengah.
Semua termangu menatapku.
"Apa Kak Noha ada di sini?" Aku lantas celingukan, mengedarkan pandanganku ke sekeliling.
"Apa Kak Noha tidak pulang ke kos?" Kak Raino bertanya, membuatku harus menghela napas panjang sekali lagi.
"Kalau dia pulang, aku tidak akan repot-repot menge-chat kalian satu persatu pukul empat pagi seperti tadi!"
"Mungkin.... dia menginap di kos temannya?" Blue menyahut.
"Tapi setidaknya ia menghubungiku, bahkan meski hanya karena ia pulang terlambat. Sedangkan ini? Dia tidak pulang, dia juga tidak menghubungiku..." ucapku sambil masih berusaha menelepon, "Tidak bisa dihubungi pula! Kemana anak ini sebenarnyaaaa?!!!"
Aku berakhir frustasi. Semua terdiam. Ruang studio lengang.
"Kau tenang saja, Free..." Kak Day berucap sepersekian detik kemudian. Entah apa yang terjadi, namun kurasa wajahnya terlihat murung kali ini.
Ia lalu menatapku, tersenyum.
"Noha hanya sedang menunggu."
Aku sedikit tersentak, heran. Yang lain juga beralih serius menatap Kak Day.
"Menunggu?"
***
Day benar. Aku baik-baik saja, berdiri di lobby perpustakaan sekarang. Aku hanya sedang menunggu, untuk bertemu dengan seseorang yang ternyata adalah penggemar rahasiaku.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
One Second For A Moment (Day6 Fanfiction)
Fanfiction"Aku bisa melihat segala sesuatu yang tidak seharusnya kulihat." -Noha- "Jika kau berkata, semua terserah pada waktu, lantas cepat atau lambat waktu yang akan menjawab. Waktu yang semestinya mengendalikan, namun bagiku sebaliknya." -Day- "Denganku...