-
-
-
-
Anin yang telah bersiap melepaskan tembakan petir ke arah kepala Kinal, ternyata kalah cepat dengan sentakan pilar listrik biru yang menyeruak dari dalam tanah yang dipijaknya. Tidak sempat menghindar, ia terpental. Terpelanting jauh ke atas. Memberikan Kinal kesempatan untuk menyerang balik.
“Di atas sana, tidak ada tempat berpijak untuk menghindar!” geram Kinal.
BLASH!!
Tombak listrik dilemparkan Kinal. Tepat mengarah Anin yang terombang-ambing di udara. Tanpa perlindungan, tanpa pijakan.
“Itu bukan berarti Aku hanya pasrah menerima serangan!” seru Anin.
Kembali, sebuah cincin merah tipis mengelilingi pinggangnya. Kemudian membentuk sebuah selimut yang saling terhubung. Cincin tersebut berubah menjadi bola. Bola pelindung yang sebelumnya digunakan Anin. Dan kali ini pun, bola pelindungnya berhasil menahan serangan Kinal. Meski tombak petir biru tersebut berhasil menembus bola pelindung, namun itu hanya sebagian. Tidak seluruhnya.
Anin tersenyum puas meski jelas terlihat raut wajahnya yang kesakitan menahan segala luka yang ia derita. Namun, senyum tersebut perlahan memudar saat ia melihat Kinal yang juga ikut tersenyum. Instingnya mengatakan bahwa ia harus segera menghilangkan bola pelindung tersebut, namun logikanya berkata lain.
“Kau pikir Kakak akan menggunakan serangan yang sama?” gumam Kinal.
Suara berisik akibat pergesekan dua petir tersebut semakin lama semakin keras. Semakin ribut. Hingga akhirnya berubah menjadi sebuah ledakan. Ledakan yang cukup besar sehingga menghembuskan angin yang cukup kencang. Menerpa dedaunan, pepohonan, juga membuat Kinal harus susah payah mempertahankan posisinya.
DUM!!!
Anin terjatuh. Suaranya saat tubunya menghantam tanah tidak jauh berbeda dengan daging yang sedang dipukul untuk dijadikan abon.
--
“Astaga. Pantas saja kalian kalah dari gadis bernama Kinal itu.” gumam Natalia yang sepertinya terpukau melihat pertarungan antara Kinal dan Anin.
“Dan untungnya kami tidak mati.” Sahut Ikha.
“Tapi kenapa Anin tidak menembak saja kepalanya saat Kinal terjatuh di hadapannya?”
Ikha terdiam. Memperkirakan jawaban yang tepat meski ia tahu, jawaban yang ada di pikirannya adalah jawaban yang tidak ia sukai.
“Mungkin gadis itu tidak tega melakukannya?” sela Natalia.
“Mungkin.” Gumam Ikha.
“Atau mungkin karena memang Kinal tidak memiliki celah. Tentu kalian tadi lihat bagaimana pilar petir birunya tiba-tiba menyeruak dari dalam tanah. Membuat Anin terhempas jauh.” Tambah Ikha.
“Ya. Aku saja tidak menyangka akan serangan tersebut.” Sahut Yuvia.
--
Kembali ke pertempuran Kinal dan juniornya, Anin, Anin masih tidak bergerak sedikitpun. Tubuhnya benar-benar terkapar penuh luka di atas tanah. Kinal melangkah mendekat ke arahnya. Langkanya terseok menahan sakit di perutnya.
“Apa yang mereka tawarkan padamu?” tanya Kinal.
“Balas dendam.” Jawab Anin. Suaranya terdengar lemah.
“Balas dendam karena apa?”
“Karena Kakak lebih memperhatikan mereka daripada Aku.”
“Cih! Bukankah sudah Kakak bilang sebelumnya…”

KAMU SEDANG MEMBACA
Season 2 Hunted (Completed)
FanfictionCerita ini lanjutan dari season 1 nya yaitu "TOP HUNTER". Disarankan untuk membaca season 1 nya agar jalan ceritanya tidak membingungkan untuk anda.