.
.
.Pada suatu malam di awal musim penghujan lima tahun yang lalu
Ketika bisikan mu perlahan bangunkan bulu roma ku
Disitu aku hanya ditemani sepotong roti dan segelas susu
Menunggu teman yang entah sedari tadi benar ku tunggu
Hingga layu roti di dalam gelas penuh susu
Dan tak pernah ku jumpai yang ku tungguPada esok malam yang di guyur hujan deras sedari sore
Tumpukan buku sudah habis ku baca
Menyisakan sebuah tanya dalam benak kecilku
Entah apa makna kuhabiskan waktuku
Hanya untuk membaca hal yang mungkin tak ingin ku tau
Hingga akhirnya tak mampu kuhentikan telunjuk yang mengecap lidahku
Hanya untuk membuka halaman demi halaman sebuah waktuKutemukan sepotong kalimat yang nyata
Bercerita dalam satu baris aksara"Menghidupkan kembali kenangan sebuah masa, masa dimana janji pernah hampir terbayar pada waktunya"
Aku pernah meninggalkan sebuah janji
Yang terpaksa harus ku ingkari
Bukan karena tak mampu menepati
Namun karna tak lagi mempersatukan hati
Aku tak pernah memaksamu untuk menerimaku
Aku juga takkan pernah menahanmu pergi dariku
Namun saat musim telah berganti
Ingatlah bahwa kekosongan di sela jari itu harus di isi kembali.
.
.
.

KAMU SEDANG MEMBACA
Goresan Ke-Peka-an (SELESAI)
PuisiGoresan - goresan yang tak berbicara inilah yang akan menjadi saksi bisu dalam alur yang bernama kehidupan. Percayalah bahwa setiap yang punya rasa pasti bisa peka, hanya saja pada kadarnya masing - masing.