Six

19 2 0
                                    

"Tidak mau! Aku tidak suka dengan bubur itu! Aku ingin pulang!" Pekik Ara kesal. Ia benar-benar muak berada di rumah sakit berlama-lama. Ternyata, dugaannya salah. Ara mengira bahwa rawat inap di rumah sakit begitu menyenangkan dan nyaman karena ia belum pernah dirawat sebelumnya, tapi semua perkiraannya salah.

"Tetapi hanya ini yang harus kau makan, jika kau mati kelaparan, aku tak 'kan mengurusimu." Ancam Jackson sambil menaruh mangkuk bubur di samping tempat tidur Ara. "Hah, baiklah sini."

Ara langsung melahap bubur itu hingga habis, ia tidak ingin merasakan begitu pahit dan tawarnya bubur yang ia makan saat ini. "Huek!"

Cklek.

"Ada apa?" Seseorang masuk dengan kantung plastik yang berisi makanan digenggamannya. "Apa yang kau bawa?"

"Capcay, untuk Are."

Ara yang melihatnya hanya bisa tersenyum. "Makasih, Dion." Ucap Ara sambil mengambil mangkuk capcay yang habis dituang oleh Jackson.

"Kau tidak membelikan untukku juga?" Tanya Jackson memelas. Rio yang melihatnya lantas memasang wajah jijiknya.

-

Ara melihat layar ponselnya yang menunjukkan tanggal 20 November, "beberapa hari ini nomor asing itu tak pernah muncul lagi dilayar lockscreenku."

Ddrrtt... ddrrtt...

Siapa yang dimaksud dan digumam oleh Ara tadi seakan-akan sampai ke si empunya. Nomor asing itu menelponnya, tetapi tidak Ara jawab.

"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Rio. "Nomor asing, untuk apa aku menjawabnya? Bisa kau lacak orang ini?"

Rio hanya mengangguk pasif sambil memakan coklat yang digenggamnya. "Dion, kau dengar tidak?"

"Ya, aku dengar." Singkat Rio. Ara yang geram hanya bisa mendengus. "Kalau begitu, aku tidak jadi memaafkanmu."

"Maaf apa?" Oh, jelas. Ara terkejut karena hal itu. Tetapi Ara tak bisa berkata apa-apa dan menyibukkan diri dengan ponselnya.

"Aku sudah hampir seminggu berada disini, bolehkah aku jalan-jalan untuk mengurangi rasa penat-"

"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ingin ke toilet." Rio lagsung masuk ke dalam kamar mandi. Namun, Ara sangat tidak suka menunggu, ia berinisiatif untuk bangun sendiri walau tangan kanannya yang perban. Tak lupa, jarum infusnya tak pernah ia lepas.

Ara membuka pintu ruang rawat inapnya, dan berjalan-jalan menulusuri tiap koridor yang berada di rumah sakit.

Ramai, kata yang bisa mendeskripsikan keadaan rumah sakit sekarang. Siang hari memang sangat ramai, banyak orang yang keluar masuk dari ruangan rawat inap, menjenguk, dan anak-anak yang berkeliaran karena tidak diperbolehkan masuk.

Namun, saat Ara ingin melanjutkan jalan-jalannya, ia melihat seorang laki-laki yang memakai kursi roda sedang melaju dengan kecepatan yang lumayan kencang. Dengan cepat Ara langsung memberi isyarat 'stop' menggunakan tangannya.

Laki-laki itu berhenti dan menatap Ara dengan bingung, namun Ara menganggapnya biasa dan mengajak orang itu bersalaman.

Tangan mereka saling menyaut satu sama lain dan tersenyum. "Ara."

"Kiko." Seketika Ara tertawa, "apa ada yang lucu?"

"Tidak, hanya saja namamu... ah sudah lupakan. Apa kau sedang keliling sendiri?"

"Ya," ucap Kiko. Ara tersenyum seketika, "kebetulan, aku juga sedang berkeliling sendiri, mungkin kita bisa keliling bersama sambil bertukar cerita dan menjadi teman."

Laki-laki yang bernama Kiko itu mengangguk, "tentu saja."

Mereka jalan-jalan bersama hingga akhirnya keluar dari gedung rumah sakit. Selama mereka jalan beriringan, banyak pertukaran cerita antara mereka berdua, hingga akhirnya mereka duduk di kursi panjang karena lelah.

"Aku ingin duduk di kursi itu." Ucap Kiko. Tanpa banyak bicara, Ara langsung membantu Kiko untuk dududk dikursi panjang itu.

Saat Kiko sudah duduk dengan nyaman, ia langsung mengambil earphone dan iPodnya untuk mendengarkan lagu sambil menggambar dibuku gambar yang ia selip di kursi rodanya.

Ara hanya diam sambil memandang danau kecil beserta taman bunga yang berada didepannya.

Ddrrtt... ddrrtt...

Ara mengambil ponselnya dari saku celana rumah sakitnya, tetapi saat Ara melihat nomor yang terpampang pada layar ponselnya, ia hanya diam hingga sambungan terputus. "Kenapa tidak kau angkat? Siapa tahu penting."

"Tidak sama sekali," ucap Ara masih memandang layar ponselnya.

Tning!

Unknown number: apa kabarmu? Aku merindukanmu, cepatlah datang kemari. Dan kau melupakan hari ulang tahunku :)

H+1078

Ara membulatkan matanya, namun, suara nyanyian serta petikan gitar membuat fokus Ara teralihkan menoleh ke kiri. Seorang perempuan sedang berdiri, menyanyi sambil memainkan gitar. Disana juga ramai para pasien yang sedang menonton perempuan tersebut.

Kini, Ara berbalik ke arah Kiko. Tatapannya yang fokus dan tangannya yang sedang menggambar sesuatu di buku gambar tersebut. Ara melihat sekilas apa yang sedang digambar oleh Kiko, lalu langsung membuka sebelah earphone yang Kiko pasang sambil menunjuk ke arah perempuan yang sedang bernyanyi itu.

"Tidak ingin menonton?" Tanya Ara. Kiko melihat ke arah perempuan itu dengan intens. "Bantu aku untuk mendekat ke sana."

Tanpa jawaban apapun, Ara langsung membantu Kiko duduk kembali di kursi rodanya dan mereka sama-sama pergi beriringan ke kerumunan itu.

In the evening

I walk around with by myself

Crowd, I'm so lonely in this hospital.

But when I saw a girl, I think I'm falling in.

She stopped me.

Kiko terpaku mendengar lirik lagu yang perempuan itu bawakan, seperti kejadian saat ia menyuruhku untuk berhenti.

"Ara, aku ingin-, Ara?" Kiko melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada Ara di sekitarnya, Kiko menghembuskan napas berat, "semoga saja ini bukan terakhir kalinya kita bertemu, Ara."

【✔️】 No Caller IDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang