Dari jam 5 pagi hingga jam 11 pagi, Ara tidak melakukan apapun di kamar rawat inapnya itu. Ia benar-benar bosan dan kesal. Bosan karena sudah 6 jam ia berbaring di kasurnya, dan kesal karena tidak diperbolehkan oleh Rio untuk keluar tanpa izin dan pengawasan.
"Aku bosan, Dion!" Pekik Ara sambil melempar bantal tidurnya ke arah Rio. "Aku tahu, Are. Tetapi kau harus banyak beristirahat, tanganmu belum sembuh. Aku takut kau kenapa-kenapa."
"Aku baik-baik saja, percayalah. Aku juga mempunyai teman di rumah sakit ini, namanya Kiko. Kita berteman baik walau baru dua hari belakangan ini,"
"Baru dua hari, jangan mudah percaya."
Ara menoleh ke arah Rio dengan bingung, gaya bahasanya dari beberapa hari yang lalu memang berbeda dari Dion yang biasanya. Apakah ia benar-benar berubah selama di London?
"Apa yang kau pikirkan? Ayo habiskan makanannya, aku tak ingin kau sakit. Sebentar lagi, kita akan pulang."
Knock, knock!!
"Araa!" Pekik seseorang sambil membuka pintu dan berlari memeluk Ara. "Aku merindukanmu, sobat! Apa kabar, yo!"
Ara terkekeh melihat sahabatnya ini menjadi aneh, "ada apa denganmu? Sudah minum obat? Jika belum, minumlah obat yang ada disampingku ini, kau 'kan menerima semua jenis obat apapun. Kebal, hahahaha."
Seketika wajah Olive menjadi datar, "dasar margarin."
"Kenapa oil?" Ara meledek.
Olive mendengus, "kalau begitu, aku ingin meminjam Ri- Dionmu sebentar, ada yang harus diurus dengannya, komputerku rusak."
Ara mengangguk dan memperbolehkan mereka berdua untuk berbincang di luar ruangan, kini Olive dan Rio sudah tidak terlihat lagi dalam penglihatannya, mungkin mereka ke kantin rumah sakit atau ke taman.
"Aku bosan, mungkin jika aku keluar, aku akan bertemu dengan Kiko." Gumam Ara, dan seketika ia menjentikkan jari. Ara langsung bangun dari tempat tidurnya dan berusaha untuk berdiri.
Saat Ara jalan beberapa langkah menuju pintu, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Olive dengan Rio.
Tatapannya kosong, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, pikirannya kemana-mana. Ara butuh penjelasan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ara seketika. Hal itu membuat Olive dan Rio benar-benar terkejut atas kedatangan Ara yang begitu mendadak. "Ah.. uh,"
"Katakan yang sebenarnya!" Nada bicara Ara mulai meninggi, "tenang dulu, mari kita masuk kembali, aku akan menjelaskan semuanya."
Air mata Ara turun dengan deras membasahi pipinya, ia hanya bisa diam dengan napasnya yang tidak teratur. Tidak ada yang memulai percakapan karena takut.
"Jadi benar, kau bukan Dion?"
Ara terbangun dari pingsan, saat ia terbangun, yang pertama kali ia lihat adalah Rio. "Dion?"
Tentu, hal itu membuat keluarga Ara, Olive, dan Rio terkejut. "A-aku bukan Dion, Re."
"Mah...," suara Ara yang parau membuat Riley langsung mengusap puncak kepala anak perempuannya yang sedang terbaring lemas. "Kenapa, sayang?"
"Dion, Mah..," lagi-lagi Ara memanggil nama Dion. "Ini Rio, bukan Dion, sayang."
"Itu Dion, Rio siapa?"
Rio yang berada disamping Ara hanya bisa tersenyum, "aku Rio, bukan Dion. Kita memang hampir sama, tetapi kita tidak mempunyai hubungan darah apapun."
Ara memejamkan matanya sebentar, "bohong. Kau Dion, jangan membuat lelucon."
"Kau sendiri yang tidak percaya, Ara. Maka dari itu, aku menyudahi perdebatan dengan mengiyakan bahwa Rio adalah Dion."
Tangis Ara semakin menjadi, "lalu dimana Dion? Ia tidak datang kemari? Bagaimana proses operasinya? Seharusnya ia sudah pulang, ia berbohong? Memang tidak tahu diri," Ara mengusap airmatanya dengan kasar sambil tersenyum sinis.
Olive hanya bisa menatap Ara nanar, sedangkan Rio diam tidak berniat membuka mulut.
"Kalau begitu, jika Dion tidak datang kemari, aku yang akan datang kesana."
Olive dan Rio mendongak seketika menatap Ara tak percaya sekaligus heran, "kau belum sembuh total, Ara. Ulang tahun Dion masih beberapa minggu lagi-"
"Keputusan sudah bulat, Liv. Aku yang akan menemuinya ke sana. Ke London."
Olive menghembuskan napas berat, "keras kepala."
-
Ara tetap tidak menjawab perkataan dari orang tuanya dan kakaknya. "Jangan seperti ini, Ara-"
"Bagaimana bisa aku dibodohi semudah itu? Mempercayai bahwa Rio adalah Dion, aku tidak terima jika seperti ini. Kemana Dion, Mah?"
Riley hanya bisa memeluk dan terus menenangkan Ara, sudah 2 jam tiada hentinya Ara menangis dan terus memaki dirinya sendiri.
"Mah, Ara izin. Ara ingin menemui Dion sekarang juga." Ucap Ara yang masih sesenggukan. "Mama, Papa, dan Jackson akan ikut menemanimu, sayang."
"Enggak, Mah. Ara bisa sendiri, Ara gak mau buat Mama sama Papa capek, apalagi kak Jackson yang males."
Perdebatan dimulai lagi, tetapi akhirnya Riley bisa menerima walau dengan berat hati. Bagaimanapun juga, saat Ara sudah berangkat, keluarganya akan menyusul.
"Aku akan ikut denganmu." Ucap Olive saat ia melihat Ara sedang menuruni tangga dengan tas ransel yang berada dipunggungnya.
"Tidak ada yang ikut, karena aku sendiri."

KAMU SEDANG MEMBACA
【✔️】 No Caller ID
Historia CortaNo description or summary, just read. Then comment how'd you feel after you read this story. Completed. Copyright reserved. 2017 No Caller ID © white-town.