“Api?! Apa jangan-jangan semua elemen ia kuasai? Tapi bagaimana bisa?! Aku tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Bahkan mendengarpun tidak.” Gumam Beby terkejut sekaligus kagum ketika melihat Api merah menyala dari telapak tangan Ayana langsung menjalar membakar tubuh Lidya.
“Aaargghh!!!”
DASSH!!!
Jeritan Lidya yang diikuti dengan hembusan angin darinya sehingga kembali membuat bola angin pelindung, membuat api yang menjalar, membakar liar tubuhnya lenyap seketika. Memang tidak ada luka serius di tubuhnya, namun terlihat luka bakar yang menimbulkan asap menguap di beberapa titik di tubuhnya seperti bahu dan lutut.
“Kau pikir apimu bisa menghanguskanku? Jangan harap!”
DRAKK!!!
Dengan satu hujaman dari masing-masing pedang anginnya, tanah yang memerangkap kakinya langsung retak. Pecah hingga akhirnya Lidya dapat kembali merasakan kebebasan untuk menggerakkan kakinya, juga untuk berada secara tiba-tiba di hadapan Anaya seperti yang ia lakukan begitu ia terlepas.
“Aku gak akan kalah lagi kayak waktu itu.” geram Lidya.
SLASH!!!
Ia mengayunkan pedang anginnya yang hampir saja membelah kepala Anaya menjadi dua seperti semangka jika saja Anaya terlambat menghindari tebasan tersebut barang sepersekian detikpun. Banyak dari rambutnya yang terpotong. Lehernyapun terluka akibat tebasan tersebut. Tidak parah memang, namun perih.
“Gimana kalo kalah lagi?” tanya Anaya datar. Masih tanpa ekspresi.
SRASH!!!
Kembali, tebasan Lidya mengancam nasib kepala Anaya. Dan lagi, lehernya kembali tersayat oleh tebasan tersebut. Kali ini lukanya cukup dalam dan panjang sehingga membuat lehernya kini basah karena keringat dan juga darah.
“Gak akan!” seru Lidya.
DRAASSHH!!!
Lidya mengangkat kedua pedangnya hingga sejajar dengan pundaknya. Lalu kemudian, ia berputar seperti gasing. Berputar begitu cepat hingga angin di sekitarnya juga ikut berputar, membentuk sebuah pusaran angin tornado yang sangat besar dengan tepian angin tajam.
“Astaga! Besarnya seperti tornado yang dibuat Ve!” gumam Beby sedikit takjub namun juga terkejut ketika melihat pusaran angin yang membuat keadaan sekitar kacau.
“Ya ampun! Jarak sedekat ini dengan tornado miliknya?! Gawat!” seru Anaya panik.
Anaya mengambil beberapa langkah mundur dengan cepat. Membuat jarak yang telah ia perkirakan untuk mengimbangi serangan Lidya. Ia kemudian berputar. Sama seperti saat Lidya hendak menciptakan tornado miliknya hingga akhirnya, Anayapun berhasil membuat sebuah tornado yang ukurannya cukup untuk menangani tornado milik Lidya.
ZRRASSHH!!!
Kedua pusaran angin raksasa tersebut saling beradu. Menciptakan sebuah gesekan hebat dari sisi tajam masing-masing tornado. Membuat keadaan sekitar semakin kacau. Permukaan tanah yang retak akibat tekanan angin yang berputar di atasnya, pohon-pohon tumbang, sebagian tercabut, sebagian lainnya terpotong akibat lecutan angin liar. Bebatuanpun melayang bebas.
Keadaan tersebut membuat Beby tidak dapat menyaksikan pertarungan tersebut dengan leluasa. Beberapa kali ia harus berlindung di balik dinding pelindung yang diciptakan Anaya meski sebenarnya, dinding tersebut tidak lagi banyak membantu mengingat keadaan sudah tidak lagi sama seperti sebelumnya.
“Sial! Kalau saja Aku lebih waspada tadi, mungkin sekarang keadaanku tidak seperti ini, dan Aku dapat membantu Anaya untuk segera menyelesaikan pertarungan ini. Ck!” geram Beby penuh sesal.

KAMU SEDANG MEMBACA
Season 2 Hunted (Completed)
FanfictionCerita ini lanjutan dari season 1 nya yaitu "TOP HUNTER". Disarankan untuk membaca season 1 nya agar jalan ceritanya tidak membingungkan untuk anda.