Ledakan yang dirasakan oleh Beby sebelumnya, juga dirasakan oleh Sinka yang tengah berlindung sambil berisitirahat di dalam kubah air yang Sinka Buat. Bagi Kyla, Yuriva, dan Ve, ledakan tersebut tidak terasa karena selain kondisi mereka yang belum benar-benar pulih, kubah air yang Sinka buat berfungsi juga sebagai redaman dan hanya Sinka sendiri yang dapat merasakan perubahan tekanan di luar sana.
Dan tentu saja, ketika Sinka merasakan benturan aura yang menyebabkan ledakan tersebut, dirinya langsung bersiap. Ia membangunkan Yuriva.
“Ada apa?” tanya Yuriva dengan suaranya yang parau karena dibangunkan dari tidurnya.“Aku titip yang lain. Jangan sampai ada yang keluar dari kubah ini. Termasuk kamu. Pokoknya jangan ada yang keluar sampai gelang air yang ada di pergelangan tangan kalian menyala biru.” jawab Sinka terburu-buru sambil menunjukkan apa yang ia maksud.
“Emangnya Kak Sinka mau ke mana?” tanya Yuriva sambil sibuk memperhatikan gelang yang entah sejak kapan melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Aku ada urusan sebentar. Inget. Sampai gelangnya nyala, baru boleh keluar.” Sahut Sinka pergi keluar dari kubahnya sendiri. Meninggalkan mereka yang tengah beristirahat dan masih dalam masa penyembuhan.
“Bahaya! Benar-benar berbahaya! Tadi itu auranya Kak Naomi juga auranya Nabilah. Apakah mereka sudah saling bertemu? Tapi kenapa Nabilah yang menghadapi kakaku? Di mana kak Melody?” Gumam Sinka sambil melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam gelapnya hutan.
-“Ck! Bertahan Nabilah,” sambung Sinka yang kini mulai berlari.
Hanya dengan bermodalkan ledakan barusan yang bahkan sudah hampir tidak dapat terdeteksi lagi, juga tekanan aura Naomi yang samar-samar ia rasakan, Sinka melangkah melewati setiap pohon yang berdiri kokoh di tengah gelapnya malam. Memotong jalan setapak demi mendapatkan rute tercepat mencapai tujuan.
Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Ayana. Auranya menuntun langkahnya yang telah berjalan selama limabelas menit seperti tanpa tujuan ke arah yang sama seperti yang dituju Sinka. Hingga di suatu titik, mereka bertemu. Terkejut melihat kehadiran satu sama lain yang memang tidak diduga.
“Kamu… Ayana?” tanya Sinka sedikit ragu ketika melihat seseorang yang memang sepertinya ia kenal, namun terdapat perbedaan di mata kirinya yang berwarna merah.“Hm. Pasti gara-gara mata ini ya?” sahut Ayana.
“Iya. Haha. Ah! Kamu juga ngerasin tekanannya?” tanya Sinka yang disambut anggukan oleh Ayana.
“Yang satunya Nabilah. Tapi yang satu lagi… Aku gak tau.”
“Itu Kakak Aku.”
“Ha? Kakak?”
“Iya. Kakak Aku. Kapten penghuni atas.”
Ayana hanya diam mendengar hal tersebut. Sikapnya yang tenang, tidak menunjukkan keterkejutan membuat Sinka sedikit heran, tapi kemudian ia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
“Kalau memang apa yang dikatakannya benar, seharusnya aliran aura juga bentuk auranya tidak jauh berbeda dengannya. Tapi kenapa Aku merasakan ada sesuatu yang tidak pas. Apakah karena memang Aku belum pernah bertemu langsung dengannya sehingga Aku tidak tahu seperti apa aura kapten penghuni atas itu? Yah, mungkin saja.” Pikir Ayana merenung.“Ayo. Kamu juga mau ke tempat itu kan?” ajak Sinka membuyarkan pemikiran Ayana.
“Hm. Ayo.” Sahut Ayana.
-
Dan di tempat yang dituju oleh Ayana dan Sinka, tempat di mana Nabilah dan Naomi tengah berhadapan, keadaan di sekitar sudah benar-benar berantakan. Pohon-pohon yang jatuh berserakan layakan ranting-ranting yang patah, permukaan tanah yang berlubang seperti kawah di permukaan bulan, kobaran api merah yang membakar batang-batang pohon yang tumbang, bongkahan-bongkahan es yang berserakan di permukaan tanah, juga genangan air yang memenuhi beberapa lubang, benar-benar membuat keadaan sekitar terlihat seperti baru saja dihajar bencana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Season 2 Hunted (Completed)
FanficCerita ini lanjutan dari season 1 nya yaitu "TOP HUNTER". Disarankan untuk membaca season 1 nya agar jalan ceritanya tidak membingungkan untuk anda.