"Err... Hai suzy?" Suara ramah paksaan dari Hyeri membuat ku merasa mendengar penghakiman untuk suzy. Dan ku lihat, dibalik wajah dingin suzy, ada kepucatan disana. Dia melirik myungsoo sekilas. Dan itu membuatku mencengkram meja. Lalu ku lihat matanya memandangku, dan ku balas tatapannya dengan datar. Lalu ku lihat, dia masih bisa mengedikan dagu tanda congkak.
Hah! Masih bisa dia bersombong-sombong ria.
"Duduk..." sangah Kyuhyun, wajahnya terlihat ramah, tapi saat dia menarik kursi untuk Suzy, dia menengok kearahku, dan memberi tatapan minta maaf.
Tanpa ku jawab, dia pasti mengerti, bahwa aku masih sangat kesal. Itu mengapa dia mengalihkan padangannya pada istrinya.
"Apa, aku mengganggu acara kalian?"
Sejujurnya, yah! Tapi jika aku menjawab seperti itu, seyi akan melihat aku dan wanita itu saling jambak, dan aku tidak mau.
"Tidak," Kata Hyeri Dan tersenyum kecil. Aku hanya membuang muka pdari tatapannya, dan saat itu, tiba-tiba Hyeri berbisik padaku. "Ayo, kau mau pergi dari sini?" Bisik Hyeri kepadaku, dan aku tidak ingin menolak tawarannya, jadi aku segera bangkit dan berjalan melewatinya. Tapi, tanpa disangka, bukannya Hyeri yang mengikutiku, malah myungsoo. Bersama Seyi lah yang menyusulku.
"Ayo..." bujuknya sambil memaut tangannya ke tanganku. Dan dia menggendong Seyi. "Kita pulang..." katanya. Lalu mencium pipiku sembari berjalan.
"Tapi kita tidak izin–"
"mereka akan mengerti."
"Baiklah."
Aku merasa suasana hati Myungsoo naik turun. Atau mungkin dia merasa menyesal atau merasa bersalah. Hanya Tuhan yang tahu.
***
Aku melihat tangan Myungsoo bergetar disetir. Dan saat ku lihat seyi masih berdiam di jok belakang, di temani tabletnya. Aku menggenggam tangannya.
Dia menatapku dengan tatapan sesalnya, "Aku minta maaf, aku tidak tahu, maaf..."
"Kau tidak tahu bukan... Jadi, tidak masalah."
"Tapi, tetap saja–"
"Lupakan saja. Aku baik-baik saja."
"Sungguh?"
Aku mengangguk, dan sangat jelas ku lihat, dia menarik nafas panjang. "Aku senang kau bisa memaafkan aku."
"Aku juga senang." jawabku dan dia tersenyum manis, dan dia membalas genggaman erat tanganku. Lalu kembali kepada jalanan.
Entah kenapa. Aku tidak menyesal telah memberi dia maaf ku. Dan aku sangat menyesal, karena terlalu lama untuk memberikannya. Dia pantas untuku. Sangat pantas menerima maafku.
***
"Kau berniat ke cafe lagi atau tidak, eoh!" teriak ha ni di ujung telefon, dan itu membuat ku terkikik, aku melepas jubah mandiku dan berjalan mendekat lemari pakaian. Kami telah sampai pukul sebelas malam, setelah kami mampir ke taman bermain mengalihkan perhatian Seyi karena ingin kembali ke kediaman Kyuhyun, dan itu membuat kami berdua panik dan langsung meluncur ke taman bermain.
Saat ini aku memakai Gaun tidur dengan cepat, lalu berjalan menuju kamar. Aku.tak perlu khawatir pada Seyi, karena dia kelelahan hingga tertidur diperjalanan pulang. Kulihat Myungsoo sedang mencaro sesuatu dilaci saat aku masuk. Lalu saat aku menutup pintu di belakangku, dia spontan berdiri tegak dan langsung menutup laci itu.
Mencurigakan.
"Yak!! Kau dengar tidak!" celotehan ha ni membuat aku terlonjak dan hampir menjatuhkan Bluetooth ku. Tapi segera ku benarkan kembali. Aku berjalan keranjang sembari menatap Myungsoo yang sok sibuk dengan berkaca dicermin riasku. Lalu aku duduk dengan mengangkat kaki keatas tempat tidur.

KAMU SEDANG MEMBACA
Magic Cupcakes
General FictionBagaimana jika suatu hari, semua dalam dirimu berubah saat kau bangun dari tidurmu, semua nya! Bahkan status mu?. jiyeon tak pernah nyangka, disuatu malam, semuanya sudah berubah, dia tak tahu bagaimana dan untuk apa semua itu terjadi. (BERLANGSUNG)...