Hunted: Chapter 54 (Masuk!)

546 66 24
                                    

Kembali ke tempat di mana Naomi berhasil memerangkap seluruh lawan yang ia hadapi, Nabilah, Ayana, juga adiknya sendiri Sinka, ia melangkah menjauhi mereka yang telah berubah menjadi boneka kaku. Terjebak dalam es yang membekukan mereka. Perlahan, Naomi melangkahkan kakinya ke arah di mana Melody dan Frieska tengah ‘melepas rindu’. Tekanan, juga sesekali terasa aura yang meledak dari arah yang ia tuju, membuatnya tersenyum sendiri. Senyum dingin sekaligus kejam yang berpadu dengan tatapan matanya yang datar dan terlihat begitu menusuk, membuat raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat.

“Sudah sampai mana kau berhasil membuat repot Kakakmu sendiri, Frieska?” gumam Naomi. Kali ini seringai terlukis di wajahnya. Memperlihatkan deretan giginya yang putih mengkilap, senada dengan keadaan sekitar yang diselimuti lapisan es berwarna biru muda keperakan.

Ssshh…

Langkah Naomi terhenti. Sebuah suara membuatnya menoleh ke arah belakang. Dari balik pundaknya, dari balik rambut panjangnya yang tergerai, matanya memindai ‘hasil karya’nya yang terpampang luas. Berusaha mencari keganjilan, mencari sumber suara yang tadi didengarnya.

“Kecil kemungkinan kalau dia…”

Krrrkk…

Lagi, suara lain menarik perhatiannya. Kali ini terdengar seperti retakan sehingga membuat tubuhnya berbalik sepenuhnya. Di wajahnya, tidak lagi terlukis seringai mengerikan, tidak lagi tergambar senyum dingin. Yang ada hanyalah kedua alisnya yang saling berpautan dari matanya yang memicing. Bibirnya terkatup rapat. Kekesalan terbaca jelas dari air wajahnya yang sekarang.

DRRAASHH!!!
KRRAAKKK!!!
DRRRGGG!!!

Bersamaan, mereka yang membeku menjadi boneka es, tiba-tiba saja memberontak. Memecahkan belenggu yang memerangkap mereka. Menghancurkan lapisan es yang menyelimuti mereka menjadi serpihan-serpihan kecil transparan seperti kristal.

“Jangan kira kami akan berakhir hanya dengan serangan tadi!!!” Nabilah langsung bergerak cepat menyerbu Naomi. Ditemani dengan Phoenix yang tercipta dari kobaran api di kedua lengannya, ia langsung menebaskan kedua pedang apinya. Membuat Naomi sedikit kerepotan untuk menghindari serangannya juga semburan api dari Phoenix miliknya.

“Kau benar-benar berisik.” Geram Naomi. Ia mengangkat tangannya. Menciptakan tombak dari es yang melapisi permukaan tanah.

“Bukan hanya dia yang bebas!” seru Ayana yang muncul tiba-tiba di belakang Nabilah.

DRAKKSSH!!!

Tebasan kedua pedang Nabilah, dan hantaman kedua kepalan tangan Ayana dengan petir yang berputar di tangan kanannya juga api yang berkobar di tangan kirinya, masih dapat ditahan cukup sempurna oleh tombak es Naomi. Api, petir, es, semuanya bertabrakan dalam satu serangan.

“Ck! Mereka berdua bikin… Sinka mana?” gumam Naomi membagi fokusnya untuk mencari keberadaan adiknya tersebut.

“Oy. Fokus!” seru Nabilah sambil memberikan tekanan lebih melalui kobaran di pedang apinya yang menjadi semakin liar.

“Aku tahu.” sahut Naomi enteng. Sekali gerakan darinya cukup untuk membuat Ayana dan juga Nabilah tertekan mundur meski Nabilah telah berusaha untuk memberikan tekanan lebih.

“Kurang ajar! Bagaimana bisa dia menekan kami berdua sekaligus?!” gumam Ayana sedikit panik.

“Kenapa tidak kau gunakan Phoenix milikmu itu?” tanya Naomi meledek.

Tidak ada tanggapan dari Nabilah. Ia hanya menekuk wajahnya. Menerima ketidakmampuannya dalam mengendalikan Phoenix lebih jauh mengingat staminanya yang sudah tidak banyak lagi yang tersisa. Terlihat dari keringatnya yang bercucuran begitu deras, juga gerakan dan pertahanannya yang tidak lagi sama seperti di awal-awal

“Bil! Lebih baik kau simpan Aku dulu di dalam. Membiarkan Aku berkeliaran di luar seperti ini membuat staminamu semakin terkuras habis!” sahut Phoenix.

“Baiklah.” gumam Nabilah dan perlahan, Phoenix yang sedari tadi terbang di atas kepalanya, berubah menjadi kobaran api yang menyatu dengan pedang yang masih ia hantamkan pada tombak Naomi.

“Ckck. Sungguh memalukan. Sebagai seseorang yang menjadi ‘rumah’ bagi salah satu dari empat api legendaris, kau benar-benar tidak layak untuk mendapatkan bantuan dari Phoenix.” cibir Naomi.

DRAAK!!!

Kemunculan tiba-tiba sebuah duri yang panjang, tipis, dan juga tajam dari dalam tanah hampir saja menembus kepala Naomi tepat di dagunya. Hentakan kaki Ayana lah yang membuat duri tersebut, tapi rupanya serangan tersebut masih juga belum berhasil menembus pertahanan dari Kapten Penghuni atas tersebut.

“The Prodigy.” ujar Naomi menatap tajam sepasang mata Ayana.

Season 2 Hunted (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang